Zainul, Sarjana yang Memilih Jadi Petani

“Menjadi petani itu dijalani, bukan disesali,”
Zainul Ibadi, Petani Wonosari

Tepatnya di Dusun Ngepreng, Desa Wonosari, Zainul Ibadi tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Sehari-hari kehidupannya ia isi dengan bertani dan berkebun. Pria kelahiran Poncokusumo, Malang, tersebut sejak kecil sudah diajari oleh orang tuanya untuk bercocok tanam di lahan pertanian dan perkebunan. Didikan tersebut diberikan oleh orang tuanya dengan harapan agar kelak ia mampu meneruskan pekerjaan leluhurnya sebagai petani.

Kini, hasil didikan tersebut terbukti. Kemampuan bertani dan berkebun yang dimiliki Zainul (sapaan akrabnya) tak bisa diragukan. Kepindahannya dari Malang ke Pasuruan justru menjadikannya sebagai teladan bagi petani lain. Ilmu pertanian dari Malang menjadi referensi bagi petani di Wonosari, Pasuruan.

Dalam riwayat hidupnya, ia lulus dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya 10 tahun silam. Pendidikan tinggi itulah yang menjadi penunjang pola pikirnya dalam mengembangkan pertanian. Di saat yang sama, interaksinya dengan para akademisi tidak membuatnya meninggalkan nilai-nilai luhur yang biasa dipegang oleh petani.

Setelah lulus kuliah, Zainul memilih untuk mengembangkan pertanian yang telah diwariskan oleh orang tuanya. Tak pernah sekalipun ia merasa malu atau gengsi menyandang pekerjaan sebagai petani. “Tidak pernah saya merasa malu menjadi petani. Bahkan, saya merasa bangga karena bisa memberikan manfaat dan berbagi pengetahuan baru kepada petani lain, meskipun umurnya lebih tua daripada saya,” terang Zainul.

Tidak bisa dipungkiri, latar belakangnya sebagai anak petani membuatnya bersikukuh menjadi petani. “Sampai kapan pun, saya tetap ingin menjadi petani. Apalagi saya juga diwarisi sawah oleh orang tua,” papar pria yang juga memiliki hewan ternak di rumahnya itu.

Aktif di Kelompok Tani

Terjunnya Zainul dalam kelompok tani bisa dibilang berawal dari sebuah ketidaksengajaan. Awalnya ia menanam anggrek  di pekarangan rumahnya. Tanaman anggrek tersebut kemudian ia ikutkan pameran tanaman hias yang diadakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan. Dari situlah petualangannya di kelompok tani dimulai.

Hari terus berganti, Zainul kian bersemangat untuk mengajak masyarakat sekitar mengelola tanaman anggrek. Lama-kelamaan, masyarakat mulai menaruh simpati kepada Zainul. Lantas Zainul dipercaya untuk mengelola Kelompok Tani Sari Jaya 1 Desa Wonosari.

Kegigihan Zainul untuk terus memperbaiki dan mengembangkan kelompok tani berlanjut dengan usahanya memfasilitasi petani agar mendapat bantuan atau pelatihan-pelatihan. Halangan dan rintangan tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar hal-hal baru. Meskipun kenyataannya banyak petani desa menganggap apa yang ia contohkan tidak bermanfaat, ia tetap melanjutkan apa yang ia yakini.

Sebagai ketua kelompok tani, Zainul tanpa pamrih terus mempromosikan minuman sari buah salak Desa Wonosari. Salah satunya adalah dengan ikut pameran se-kecamatan. Meskipun tidak mendapat hasil maksimal, setidaknya ada usaha bersama dari kelompok tani dan juga menambah pengalaman mengenai produk olahan pasca panen.

Bukti perjuangan Zainul lainnya juga terlihat dari usahanya menularkan kegiatan pertanian tanaman organik. Awalnya, kegiatan pertanian organik belum banyak diminati oleh para petani. Kini, dengan ketulusan dan kesabaran yang dilakukannya, para petani banyak meniru apa yang dilakukan oleh Zainul.

Selain menjadi ketua kelompok tani, Zainul juga aktif dalam organisasi sosial masyarakat, yakni Gerakan Pemuda ANSOR. Berangkat dari anggota pengurus anak cabang Ansor, sekarang ia menjadi sekretaris anak cabang Ansor Gondangwetan. Selain di Ansor, Zainul juga pernah menjadi ketua BPD Desa Wonosari. “Tetapi, hanya satu periode. Karena di BPD marai akeh pikiran, Mas,” ujar pria yang juga pengurus KUD Wonosari ini.

Pandangan Zainul Tentang Pertanian

Bagi Zainul, dibandingkan dahulu, petani sekarang sudah mendapatkan banyak kemudahan seiring dengan ilmu dan teknologi yang semakin maju. Meski begitu, perkembangan teknologi yang kian deras tidak semuanya ia makan mentah-mentah. Dalam kegiatan pertanian yang ia lakukan, ia tetap menggunakan teknologi dan pengetahuan lama yang dirasa masih baik dan selaras.

Dalam benaknya, ia merasa miris manakala melihat generasi hari ini yang seolah enggan menjadi petani. Banyak para pemuda lebih memilih menjadi kuli bangunan, buruh mebel dan buruh pabrik karena masalah uang. “Mungkin karena menjadi petani itu hasilnya lama, sedangkan buruh pabrik bayarannya langsung per bulan, Mas,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Zainul berharap pengetahuan dan semangat untuk menjadi petani terus ditularkan kepada generasi muda. “Tidak ada yang salah menjadi seorang petani. Toh, andai petani tidak ada, yang lain mau makan apa?” tegasnya dengan tatapan meyakinkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *