Yang Menerangi dan yang Mempercepat Degradasi

Pernahkah terpikirkan oleh kita, bahwa ekowisata yang diklaim sebagai cara menjaga lingkungan, sejatinya juga menyebabkan dampak negatif bagi keberlanjutan ekosistem? Dampak negatif tersebut memang sering tidak disadari dan tidak banyak dikaji. Adalah polusi cahaya, sebuah fenomena yang pada gilirannya akan mengakibatkan degradasi habitat.

Akhir-akhir ini wisatawan cenderung lebih menghargai alam, budaya dan atraksi secara spesial. Wisatawan lebih tertarik datang ke ekowisata di desa-desa dibandingkan mengunjungi wahana permainan di wilayah perkotaan. Setali tiga uang, tren ini kemudian ditangkap oleh masyarakat desa dan suku-suku lokal untuk turut memasuki ekonomi global. Dengan demikian kesejahteraan ekonomi mereka juga berpotensi mengalami peningkatan.

Semakin terkenal sebuah destinasi ekowisata, semakin banyak pula pengunjungnya. Kian hari, masyarakat lokal maupun pihak luar akan melakukan pembangunan di lokasi ekowisata. Banyaknya bangunan dan kendaraan di lokasi ekowisata akhirnya menyebabkan polusi cahaya. Polusi cahaya adalah istilah umum yang mengacu pada banyak masalah. Seluruh masalah pada polusi cahaya disebabkan oleh penggunaan cahaya buatan yang tidak efisien dan tidak perlu.

Dibandingkan wilayah perkotaan, polusi cahaya yang dihasilkan oleh kawasan ekowisata memiliki pengaruh yang lebih tinggi terhadap biodiversitas. Letaknya yang berdekatan bahkan menyatu dengan kawasan konservasi menyebabkan gangguan terhadap mahluk hidup. Degradasi habitat akibat polusi cahaya kemudian mengakibatkan berkurangnya kapasitas ekosistem dalam mendukung kelangsungan hidup spesies. Akan terjadi perubahan pada tingkat komunitas, ekosistem hingga genetik.

Dampak buruk dari polusi cahaya paling dirasakan oleh hewan nokturnal, hewan yang sedang bermigrasi, hewan yang sedang terbang serta tumbuh-tumbuhan (Deda et al. 2015). Polusi cahaya juga dapat mengubah metabolisme tumbuhan seperti pada waktu siang hari (Bashiri & Hassan 2014). Selain merugikan tumbuhan, cahaya artificial (buatan) dapat menyebabkan kematian binatang khususnya serangga dan burung, karena mereka tidak bisa mengetahui waktu dan mengalami disorientasi.

Penerapan ekowisata di Indonesia sudah terjadi dalam waktu yang cukup lama, namun masih berfokus pada management agar wisata-wisata tersebut dapat terus berjalan dan menyejahterakan masyarkat. Meskipun konsep ramah lingkungan telah diterapkan, banyak dampak buruk yang luput dari pengetahuan pengelola, termasuk management pencahayaan kawasan.

Hal yang paling mudah dilakukan dalam mengatasi polusi cahaya adalah dengan manajemen durasi pencahayaan, yaitu mematikan lampu pada masa-masa kritis biologis di malam hari. Masa kritis tersebut misalnya saat kebanyakan hewan mencari makan, melakukan perkawinan atau saat bermigrasi. Oleh sebab itu penelitian mengenai hewan-hewan dan perilakunya di sekitar kawasan ekowisata sangat diperlukan untuk mengatur durasi pencahayaan.

Selain durasi pencahayaan, polusi cahaya juga disebabkan oleh desain pencahayaan yang buruk. Desain yang buruk ini menyebabkan cahaya terpancar keluar area pencahayaan. Lampu biasa memancarkan sekitar 60% cahaya yang tidak dibutuhkan ke lingkungan dan hanya 40% efektif sebagai cahaya penerangan.

Setiap spesies mahluk hidup memiliki kepekaan tertentu terhadap intensitas cahaya. Pencahayaan di malam hari dengan berbagai intensitas telah terbukti berdampak terhadap ekologi. Di area ekowisata, pengurangan intensitas cahaya bisa dilakukan pada area yang kurang banyak digunakan di malam hari, dengan memasang lampu berspektrum cahaya rendah atau dengan memasang filter spectrum pada lampu yang sudah ada.

Perlengkapan lampu yang baik untuk keperluan luar ruangan adalah dengan fully shaded fixtures, yaitu lampu yang diberi alat untuk mengarahkan cahaya ke bawah. Dengan mengarahkan seluruh cahaya yang dihasilkan ke bawah maka daerah yang diterangi akan mendapatkan cahaya yang maksimal. Cara ini juga dapat menghemat energi listrik. Lampu daya rendah yang terarah lebih baik daripada lampu dengan watt tinggi namun cahayanya terpencar.

Selain upaya teknis, upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap dampak negatif polusi cahaya juga perlu ditingkatkan. Dark sky tourism adalah salah satu solusi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap polusi cahaya. Dark sky tourism merupakan wisata yang dibangun di daerah yang minim polusi cahaya dan tidak terpengaruh oleh sky glow dari pemukiman. Daya tarik utama wisata ini adalah pemandangan bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya di malam hari. Orang-orang yang tinggal di daerah 4 musim telah mengembangkan dark sky tourism, mereka telah menentukan waktu-waktu untuk melihat pemandangan langit sesuai dengan musim. Di Indonesia wisata jenis ini masih belum berkembang dan berpotensi menjadi sebuah peluang bisnis ekowisata.

Trend kehidupan yang mengarah menuju perilaku hemat energi akan mendukung upaya-upaya mengurangi polusi cahaya. Pengembangan dark sky tourism di Indonesia masih menjadi sebuah ide yang harus diterapkan, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap polusi cahaya. [Tika]

 

Referensi

Bashiri, F. & C.R.C. Hassan. 2014. Light pollution and its effect on the environtment. Internatuonal Journal of Fundamental Physical Science 4(1): 8—12.

Deda, P., I. Elbertzhagen & M. Klussmann. 2015. Light pollution and the impacts on biodiversity, species and their habitats. Secretariat of the Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (UNEP-CMS): 133—139.

 

Penulis: Tika Putri Agustina (Mahasiswa Magister Biologi Konservasi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *