Wonosari Menggagas Desa Wisata Kreatif

mifto hadi: Wonosari Menggagas Desa Wisata Kreatif

Pelaksanaan Sekolah Inovasi Tani Indonesia (SITI) di Desa Wonosari, Kecamatan Gondangwetan telah masuk pada proses pelatihan manajemen keuangan dan bisnis. Forum yang diselenggarakan pada Rabu (26/4/2017) ini merupakan lanjutan dari pertemuan sebelumnya yang membahas mengenai pemasaran dan perencanaan bisnis.

Didapuk sebagai narasumber, Mifto Hadi, putra daerah asli Wonosari yang telah malang melintang di bisnis wisata. Selain itu, Mifto juga tercatat pernah menempati posisi general manager di berbagai hotel di Jawa Timur. Dengan latar belakang serta jaringan yang ia miliki, Mifto bertekad kuat untuk membantu Averroes mengembangkan produk-produk unggulan desa Wonosari.

Lelaki yang kini tinggal di Sidoarjo ini ingin menjadikan kampungnya menjadi desa wisata. Dengan konsep Desa Wisata Kreatif (DWK) yang diberikan, ia berharap segala macam potensi alam dan produk yang dihasilkan masyarakat Wonosari dapat dijadikan sarana wisata yang dapat menambah penghasilan warga.

“Desa wisata kreatif adalah wisata yang berdasarkan dari potensi alam pedesaan, sumber potensi UKM kreatif yang dikemas dengan cara yang kreatif pula. Pengembangan ini harus ujung-ujungnya juga mendapat keuntungan ekonomi baik untuk desa maupun masyarakat yang ada di desa Wonosari ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mifto berpesan kepada warga desa dan pemerintah desa untuk menjalankan langkah demi langkah upaya membangun desa wisata kreatif. Melihat potensi salak baik buah dan olahannya, ditambah dengan produk batik Wonosari, Mifto lantas merumuskan langkah-langkah strategis yang harus ditempuh.

Dengan berbagai potensi, Desa Wisata yang dia wacanakan ini dapat menawarkan beberapa paket wisata. Para wisatawan bisa mengunjungi dan turut mencoba membuat batik tulis. Tak kalah menarik, para wisatawan juga bisa mencoba untuk memproduksi berbagai makanan berbahan salak. Mifto optimis bahwa paket-paket wisata yang bisa disediakan oleh desa Wonosari ini akan banyak diminati oleh para wisatawan. Ia menyatakan bahwa saat ini, para wisatawan dari kota sedang menggandrungi konsep wisata pedesaan.

“Saat ini yang menjadi daya tarik orang kota ya rekreasi yang seperti kembali ke desa. Jadi nantinya saat ada wisatawan ke sini nanti kita ajak mereka untuk melihat proses penanaman salak, pembuatan olahan salak dan juga batik itu tapi jangan lupa nanti kita sediakan makanan tapi konsepnya ya seperti orang desa yang rame-rame itu. Lek bahasane kene iku yo mayoran iku,” katanya sambal tersenyum.

Para peserta juga mendapat penjelasan mengenai strategi marketing yang disampaikan oleh Dyah, istri Mifto. Ia memaparkan beberapa kiat dalam menerima tamu atau wisatawan.

“Dalam menyambut wisatawan, mohon gunakan Bahasa Indonesia. Kalau diselingi Bahasa Jawa atau Madura tidak apa-apa. Ya kalau bisa sedikit endel atau lemah gemulai perlu dilakukan agar tamu itu merasa nyaman dengan kita ini,” ucapnya dengan sedikit memperagakan gerakan contoh. [Tanto]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *