Very: Mengawali Perubahan Melalui Tulisan

Very, Fasilitator Program PADI di Desa Wonosari

“Menulis adalah usaha saya agar tidak dilupakan orang.”

Itulah alasan mengapa Very Yuda Lesmana berusaha keras untuk belajar menulis. Baginya, menulis bukan sekadar menyebarkan ide atau gagasan semata. Tetapi lebih pada usaha agar tetap dikenang orang lain. Tanpa tulisan, seseorang hanya akan dikenal oleh rekan sejawat. Sebaliknya, dengan tulisan, seseorang akan dikenal sepanjang masa.

“Selama tulisan kita masih ada, orang yang tidak pernah bertemu atau saya kenal semasa hidup akan tetap tahu siapa saya,” ujar pria yang akrab disapa Bejo ini.

Berawal dari tugas yang diberikan guru Bahasa Indonesia saat SMA, pemuda pencinta film kolosal ini mengawali aktivitas menulis. Meski saat itu masih terbatas satu atau dua kalimat tentang aktivitas keseharian. Baginya, belajar menulis tidak harus langsung panjang dan berisi data atau informasi yang menarik. Tulisan pendek tentang apa yang dilakukan dalam satu hari bisa menjadi langkah awal untuk bisa dan terbiasa menulis. Dengan membiasakan diri menuliskan hal-hal kecil, Bejo mulai belajar merangkai kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi rangkaian cerita yang “gurih” dibaca.

Untuk bisa menulis, pria lulusan Ilmu Politik Universitas Brawijaya ini tidak pernah patah arang. Berbagai cemoohan sering ia dapatkan saat mencoba agar tulisannya bisa dipublikasikan. Melalui penuturannya, Bejo menyampaikan bagaimana pengalaman pertamanya agar tulisan yang dibuatnya terbaca oleh banyak orang. Pada masa awal belajar menulis, sering kali dia harus bolak-balik menulis karena masih dianggap kurang dan salah oleh editor. Bahkan pernah ia mengirimkan tulisan lantas yang diterbitkan jauh berbeda.

“Mungkin saking parahnya sampai-sampai diedit total,” tandasnya sambil pegang kepala dan tertawa lebar.

Baginya, ejekan bukanlah alasan untuk marah atau berhenti menulis. Ejekan ia maknai sebagai proses yang harus dijalani.

“Terkadang cuek atas ejekan orang juga perlu, biar tidak makan hati,” paparnya.

Bagi Bejo, selain sebagai sarana agar tidak dilupakan orang, menulis adalah bagian dari usaha menutupi salah satu kelemahannya. Sebelum bisa menulis, Very bahkan tidak percaya diri untuk tampil di hadapan publik. Baginya, bisa menyampaikan ide dan tampil di depan umum adalah hal yang sangat sulit. Karenanya, tidak ada rotan akar pun jadi. Tidak bisa menyampaikan ide secara lisan melalui tulisan pun jadi.

Perlahan, kemampuannya dalam menulis telah memunculkan kepercayaan diri di bidang lainnya. Kini selain mahir menulis, Very juga piawai dalam berbicara, mengelola kegiatan dan forum. Karenanya, ia terpilih sebagai salah satu fasilitator Program PADI.

Pengalamannya dicemooh, diejek dan sikapnya yang cuek atas berbagai komentar miring telah membuatnya semakin bersemangat belajar. Dari proses belajar itulah, kini anak pertama dari tiga bersaudara ini menjadi salah satu kontributor tetap media online Avepress.com. Dari Bejo yang bukan siapa-siapa menjadi Bejo sang penulis cerita kolosal. Dari Bejo yang dulu tak percaya diri tampil di depan publik menjadi Bejo sang fasilitator. [Mujtabah]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *