Tips Aman Produksi Olahan Pangan

Sosialisasi Keamanan Pangan

Program Pendidikan Agrobisnis Desa Inovatif (PADI) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan menggelar sosialisasi keamanan pangan pada Rabu (03/05/2017). Sosialisasi yang dihelat di Gedung PC NU Kabupaten Pasuruan ini ditujukan untuk memperkenalkan aturan perundang-undangan tentang keamanan pangan.

Fitriyah menyatakan bahwa  pelatihan ini juga diadakan untuk menyosialisasikan cara produksi pangan yang baik, tips membuat label yang benar hingga pengurusan izin Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT). Fitriyah menambahkan bahwa pelatihan ini juga merupakan syarat untuk mendapatkan izin P-IRT.

“Setiap usaha yang mau melakukan pengurusan izin itu, harus lulus dalam pelatihan dan ujian di akhir pelatihan nanti,” ujar Fitriyah.

Fitriyah menambahkan bahwa produsen makanan harus menjamin makanannya aman. Jika tidak, ia akan mendapatkan sanksi. Makanan yang tidak bersih adalah salah satu yang menyebabkan ketidakamanan pangan.

“Jadi penyebab sakit itu 3 hal yaitu kotoran biologi, kimia dan fisik. Pangan yang tidak aman karena faktor biologi umumnya karena mengandung bakteri, virus atau jamur,” katanya.

Selain bahaya biologi, pangan juga harus diantisipasi dari bahaya kimia. Penggunaan bahan kimia dalam makanan adalah sebab utama ketidakamanan pangan. Selain itu,  terdapat bahaya fisik akibat dari bentuk dan kontaminasi benda-benda di dalam makanan. Sumber bahaya fisik biasanya berasal dari potongan kaleng yang masuk ke makanan. Serpihan kaca gelas, kayu, batu atau rambut juga sering menjadi sebab bahaya fisik.

“Rambut itu bisa mencemari makanan kita. Tolong nanti kalau mengolah makanan, rambutnya ditutup. Kalau kuku panjang saat mengolah juga bisa patah dan mencemari makanan. Termasuk perhiasan juga harus dilepas dahulu,” ucap Fitriyah.

Masih menurut Fitriyah, bahaya biologi dan kimia merupakan bahaya yang harus diwaspadai. Dua bahaya ini sering muncul akibat ketidaksengajaan.

“Contohnya loyang yang tidak pernah dicuci. Di situ ada bakteri sehingga itu mengakibatkan makanan terjangkit bakteri.

Lebih lanjut, Fitriyah menjelaskan hal-hal yang harus dihindari agar makanan menjadi aman baik secara fisik, biologi maupun kimia. Berikut adalah rinciannya:

  1. Makanan yang baunya tidak wajar harus dicurigai karena dikhawatirkan mengandung bahaya biologi dan kimia yang tak kasat mata.
  2. Jauhkan proses produksi dari hewan ternak dan hewan peliharaan. Di samping kotor, hewan juga membawa virus
  3. Jangan sampai tikus, lalat dan kecoa masuk ke wilayah dapur produksi.
  4. Diperbolehkan tempat sampah di dalam dapur namun harus tertutup rapat.
  5. Jauhkan makanan dari bahan kimia yang ada di rumah seperti  sabun, pestisida, cat atau tinta.
  6. Hindari untuk memasukkan makanan dalam styrofoam pada saat kondisinya masih panas.
  7. Hindarkan makanan dari peralatan memasak yang berkarat
  8. Makanan dengan rasa kecut tidak boleh dibuat dengan peralatan alumunium namun harus menggunakan peralatan berbahan stainless.
  9. Hindarkan makanan dari debu knalpot.
  10. Jangan berlebihan dalam menggunakan bahan pengawet.
  11. Jangan tambahkan makanan dengan bahan lain yang fungsi utamanya bukan untuk makanan seperti boraks dan pewarna kain.
  12. Cuci sayuran dan buah dengan air bersih yang mengalir.
  13. Memasak dengan suhu di atas 70 derajat sangat dianjurkan
  14. Cuci tangan dan perlengkapan dapur sebersih mungkin.
  15. Hindari penggunaan stapler atau clip untuk makanan.

Poin-poin di atas adalah hal mutlak yang harus diperhatikan oleh produsen makanan. Dengan memenuhi prinsip-prinsip produksi tersebut, sebuah usaha yang baru dibangun akan lolos dalam pengurusan izin P-IRT sekaligus aman memasuki pasar. [Nasrun]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *