Technical Domain Kuat, Analisis Data Kuat, Petani Kuat

Arief Lukman Hakim

“Untuk menyelesaikan permasalahan, sebenarnya petani hanya membutuhkan tiga hal yaitu lahan, ilmu pengetahuan, dan pasar yang jelas. Jika petani tidak punya lahan, maka seluruh hidupnya akan diabdikan menjadi buruh. Jika pun seorang petani punya lahan tetapi tidak punya ilmu, maka ia hanya akan menjadi buruhnya ilmu, mereka beli pupuk, beli “ini-itu” tanpa tahu manfaatnya. Terakhir, petani punya tanah dan ilmu, tapi tidak menguasai pasar, maka hanya akan menjadi budak pasar.”

Begitulah beberapa lontaran petuah dari Arief Lukman Hakim (Agroforestry and Conservation Spesialist pada Yayasan FIELD Indonesia). Beberapa pengetahuan tentang strategi pembangunan pertanian juga ia tularkan  melalui sesi diskusi dan wawancara yang dilakukan oleh Martani pada Selasa (28/02/2017).

Bagaimana tanggapan anda mengenai penyempitan lahan pertanian yang sedang terjadi di Kabupaten Pasuruan?

Secara biofisik, Sumber Daya Alam di Kabupaten Pasuruan sangat mewah. Karena ada dua sistem pegunungan (Bromo, Tengger, Semeru dan Arjuno, Welirang) yang berkontribusi terhadap kesuburan tanah Pasuruan.

Kalau dalam pengamanan pangan, pemerintah sebenarnya sudah mengesahkan undang-undang Nomor 41 tahun 2009 Tentang Lahan Pangan Berkelanjutan  yang mengatur (agar) setiap kabupaten dan wilayah wajib mencadangkan lahan produksi pangan berkelanjutan. Pokoknya lahan (yang dicadangkan) ini harus digunakan untuk produksi pangan. Cuman, provinsi atau kabupaten (termasuk Pasuruan) sudah melakukannya atau belum saya kurang tahu. Seharusnya ada konsekuensi hukumnya.

Konversi lahan memang hal yang tidak bisa dihindari. Maka saya sangat senang ketika munculnya undang-undang perlindungan lahan, setidaknya (undang-undang) itu dapat mengurangi laju konversi lahan. Kalau berbicara bagaimana agar petani tidak menjual lahannya, itu juga permasalahan yang rumit. Karena kebutuhan petani tidak bisa kita cegah.

Masalah lainnya mengenai lahan adalah, kita sangat lemah dalam database. Saya pernah menghitung luas lahan ternyata luas lahan pertanian itu malah melebihi luas pulaunya, ini kan aneh. Kemudian ada juga lahan yang dibagi-bagi, misalnya punya lahan lima hektar, kemudian punya anak empat, maka lahan harus dibagikan ke anak-anaknya, segmentasi lahan istilahnya.

Bagaimana mengenai instabilitas harga komoditi pertanian?

Kalau berharap kepada pemerintah ya berat. Menurut saya pribadi petani harus pinter-pinter dalam berorganisasi. Contoh yang sederhana, di Lampung kami memfasilitasi tempat (gudang penyimpanan) saja. Ketika panen mendapatkan hasil banyak, oleh petani (hasil panen) dimasukkan ke gudang, karena waktu panen raya harga pasti jatuh. Kemudian setelah satu atau dua bulan harganya naik, tentu saja yang tidak punya lumbung akan rugi besar. Nah itu (lumbung) salah satu solusi yang kemudian kami bentuk menjadi koperasi.

Input benih dan pupuk?

Pupuk sekarang sudah mudah aksesnya. Yang terjadi justru pemborosan penggunaan pupuk. Rekomendasi penggunaan pupuk itu sama rata begitu saja tanpa mengidentifikasi keperluan tanah. Padahal tanah di Aceh, tanah di Kota Batu, tanah Madura itu beda kesuburannya. Jika tanah yang subur di pupuk banyak, itu pemborosan yang sangat luar biasa.

Input yang lain?

Sebenarnya tidak hanya mengenai tanah, kalau mereka tidak memiliki bibit ya petani akan mati. Makanya penting sekali technical domain untuk dikuasai para petani, agar mereka bisa memproduksi benih yang bagus, pupuk yang bagus, dan itu mudah sekali, karena bahan-bahan untuk melakukan hal tersebut ada di sekitar mereka.

Bagaimana dengan ketersediaan dan keadaan infrastruktur fisik?

Irigasi di Pasuruan saya kira sudah bagus. Ketersediaan akses jalan juga relatif bagus jika dibandingkan dengan daerah-daerah luar Jawa. Kemudian listrik juga saya kira sudah tersedia baik, sehingga jika petani memerlukan energi untuk pengolahan, post harvest processing misalnya, itu sudah bisa. Saya malah agak berharap dengan teknologi informasi dan media, jadi informasi itu lebih cepat sampai (ke petani) termasuk informasi pasar.

Menurut anda, bagaimana sikap kita menanggapi turunnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian?

Mindset generasi muda tentang pertanian agak memprihatinkan. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di negara-negara lain juga seperti itu. Dunia pertanian itu saya ibaratkan seperti kapal tenggelam. Semua orang itu pengen cepet-cepet pindah, keluar (dari pertanian) entah jadi tukang ojek entah jadi apa. Itu yang menurut saya perlu ditata kembali.

Terus terang saja nilai tukar pertanian kurang kompetitif. Hampir tidak ada jaminan dari sistem yang bisa menjamin kalau saya punya lahan sekian-sekian, saya bisa berproduksi sekian ton, hasilnya akan sekian itu tidak bisa. Gamblingnya terlalu tinggi. Itu mungkin yang membuat ketertarikan kaum-kaum muda itu berkurang, dirasa pendapatan tidak jelas.

Penyediaan modal untuk petani ada atau tidak?

Petani itu rawannya ketika mau cocok tanam, mereka gak ada modal. Kalau untuk petani besar (dengan luas lahan besar) bank banyak yang mau mendanai, kalau petani-petani kecil bank gak mau. Ya, mau gak mau kita tekankan seperti di Indramayu, anda (petani) harus mengorganisasikan diri. Seperti kelompok tani yang kami dampingi mengadakan semacam koperasi dan itu cukup berhasil. Saat mereka membutuhkan sarana produksi mereka (petani) bisa pinjam ke koperasi, ketika mereka  panen, mereka juga bekerja sama dengan koperasi untuk menghindari jatuhnya harga.

Itu sistemnya seperti apa pak?

Koperasi yang kami terapkan itu sangat ketat, tidak semua orang bisa menjadi anggota koperasi. Yang ingin menjadi anggota koperasi harus mengikuti pendidikan koperasi terlebih dahulu. Itu sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran dan pengetahuan calon anggota tentang koperasi. Kami siapkan dana sendiri untuk keperluan pendidikan calon anggota. Setelah dinyatakan lolos pendidikan, baru mereka bisa bergabung menjadi anggota koperasi.

Kok bisa muncul ides bahwa koperasi adalah solusi?

Dulu ketika saya kecil petani yang sukses itu pasti mempunya lumbung. Kenapa lumbung hilang? Karena ada kebijakan uang cash yang lebih cepat. Jadi begitu panen langsung jual, langsung cash lebih enak. Nah itu adalah perubahan budaya yang terlalu cepat dan tidak diantisipasi dengan matang.

Bagaimana dengan upaya pemerintah dalam menjamin kehidupan petani?

Sebenarnya upaya pemerintah sudah cukup bagus dengan proteksi, membatasi impor. Saya bukan ahli tata niaga, namun (saya berpendapat bahwa) kepastian harga jual itu harus di jamin. Mungkin dengan zonasi. Misalnya “Sudahlah petani kamu produksi ini (komoditas pertanian), masalah harga saya yang jamin”. Kalau di Thailand itu ada subsidi bahwa beras itu akan dibeli oleh pemerintah, seperti (fungsi) Bulog. Namun problemnya di sini adalah Bulog menerapkan kebijakan harga floor price dan ceiling price, seringnya floor price menjadi celing price di tingkat petani.

Dulu itu pemerintah sebenarnya ada program LUEP (Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan), ada upaya membangun lumbung-lumbung. Namun itu kemudian disalahartikan sebagai bentuk fisik tanpa membenahi konsepnya. Seharusnya konsep lumbung itu yang lebih di tekankan. Tapi ini tidak hanya terjadi di Pasuruan, namun hampir secara keseluruhan. Ada juga saya pernah dengar itu asuransi petani (dari) JICA (Japan International Cooperation Agency), namun tidak masuk Pasuruan.

Bagaimana jika itu coba diterapkan di Pasuruan bagaimana?

Kalau secara wilayah, kayaknya belum ada pengaturan dari pemerintah lokal. Hanya di tingkat provinsi saja yang cukup bagus. Pak Dhe Karwo itu menolak beras dan sayuran impor. Nampaknya juga cukup berhasil. Artinya inisiasi-inisiasi itu sudah mulai ada. Sekarang tinggal bagaimana cara kita mengefektifkan itu. Kalo dalam skala kabupaten saya kira juga tidak efektif karena arus barang terutama komoditas pertanian bisa sangat cepat. Untuk komoditas sayuran dan komoditi pertanian yang mobilitas tinggi itu memang susah untuk mengurusnya.

Bagaimana dengan penerapan-penerapan strategi pembangunan hingga saat ini?

Contohnya gini ya, di Pasuruan kan ada beberapa daerah penghasil susu. kenapa koperasi itu yang berkembang adalah koperasi susu? Sementara KUD-KUD pertanian lainnya itu tidak berkembang? Karena seperti susu itu harus bekerja sama. Jika susu telat disetor ke koperasi untuk disimpan lebih lanjut sehari saja maka akan rusak.  Mau tidak mau peternak harus bekerja sama. Ada sesuatu hal yang sangat kuat untuk mendorong petani berorganisasi. Salah satu manfaatnya adalah penerapan harga tertutup sehingga petani itu bisa mengira-ngira dengan modal sekian dia (petani) akan mendapatkan (keuntungan) sekian. Hal itu yang tidak ada dalam sektor pertanian lain seperti pada sayuran.

Sementara kebijakan-kebijakan, misalnya penyaluran pupuk semua dianggap sama. Karena asas yang dipakai adalah pemerataan.  Kenapa kebijakannya tidak diarahkan pada pemenuhan kebutuhan pupuk oleh petani itu sendiri.  Bahan baku pupuk organik cukup melimpah di pedesaan dan hingga saat ini terbuang percuma.  Kenapa kebijakannya tidak diarahkan pada pemenuhan kebutuhan benih sendiri oleh petani. Tentu ini butuh penguatan petani dalam hal technical domain. Bukan menjadikan petani sebagai konsumen sarana dan prasarana pertanian.  [Seno]

 

Profil Narasumber

Nama                    : Arief Lukman Hakim
TTL                      : Sampang 18 April 1967
Jabatan                :

  • Dosen Agroteknologi Universitas Islam Raden Rahmat Malang
  • Project Manager USAID (United States Agency For International Development) – IWINS (Iniatives for Wastsan Improvement Through Networking Support)

Pendidikan         :

  • S1 Pertanian Universitas Brawijaya Malang (lulus 1991)
  • Institute for Training and Development (ITD) Amherst Massachussets USA 1998
  • Goethe Institut Freiburg im Breisgau Jerman 1999
  • Agriculture Science and Resource Management in the Tropics and Sub Tropics   (ARTs)   S2 Rheinische Friedrich-Wilheims-Universitat Bonn Jerman (lulus 2002)

Karier                  :

  • Reaserch Asistant United Nations Food and Agriculture Organization (1992-1995)
  • Training Manager FIELD Indonesia (2003-2005)
  • Agroforestry-Agric Development Specialist ESP-USAID (2005-2011)
  • Community Climate Change Response (CCCR) Program Manager (2010-Sekarang)
  • Executive Secretary FIELD Indonesia (2012-Sekarang)
  • Dosen Hama-Penyakit Agroteknologi Universitas Raden Rahmat Malang (2014-Sekarang)
  • Independent Consultant: Dezenvolve Agriculture Comunitaria (DAC) Republik Democratic Timor Leste, Pengembangan Kurikulum Pemuliaan Benih untuk Petani di Thailand: Thai Education Foundation Chiang Mai Thailand, Locally Intensified Farming Enterprise Project (LIFE) CARE Bangladesh dan dibeberapa negara Asia dan Ethiopia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *