Tantangan Utama Appreciative Inquiry

Program Agrobisnis dan Agrowisata Desa Inovatif (PADI) Komunitas Averroes telah memasuki periode ketiga sejak tahun 2016. Bekerjasama dengan Sampoerna untuk Indonesia, pelaksanaan PADI pada periode ketiga (2018-2019) menyasar tujuh desa dampingan dengan tiga klaster. Dua diantara desa tersebut merupakan desa baru yang masuk pada klaster satu. Desa tersebut adalah Desa Gerbo Kecamatan Purwosari dan Desa Oro-Oro Ombo Kulon (Rombo Kulon) Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan.

PADI 2018-2019 telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan sejak Oktober. Sebagaimana pelaksanaan program pada dua periode sebelumnya, Appreciative Inquiry dan Asset Based Community Development masih digunakan sebagai pendekatan dalam proses pemberdayaan masyarakat. Dua pendekatan ini di satu sisi terbukti mampu mengajak desa untuk memiliki mimpi di bidang agrobisnis dan agrowisata. Akan tetapi, di sisi yang lain terdapat beberapa tantangan dalam pelaksanaannya, salah satunya adalah kepentingan politik.

Menyatukan Mimpi

Appreciative Inuqiry (AI) merupakan salah satu pendekatan yang bermula sektor perusahaan swasta dalam meningkatkan prestasi kinerja pegawainya. Berangsurnya waktu, para pakar ilmu sosial memandang bahwa pendekatan ini dapat digunakan dalam kerja pemberdayaan sosial. Konsep ini memiliki asumsi dasar bahwa manusia akan tumbuh dan berkembang menuju arah yang ia pelajari dan ketahui. Perkembangan tersebut dapat terarahkan dalam sebuah peta mimpi yang tergali dengan rancangan strategis menggapainya. Dalam pemberdayaan masyarakat, mimpi itu dapat dijadikan sebagai suatu keinginan masyarakat dalam mewujudkan perubahan sosial yang diinginkan bersama.

Secara definitif, AI digambarkan oleh Lorne (2003) yang mengartikan AI sebagai paradigma dalam menemukan sesuatu yang dibutuhkan untuk membuat hidup sebuah organisasi lebih baik. Senada dengan Lorne,  Whitney dan Trosten-Bloom (2007) mendefinisikan sebagai “Pendekatan terhadap perubahan pribadi dan organisasi berdasar pada asumsi bahwa pertanyaan-pertanyaan dan dialog tentang kekuatan, keberhasilan, nilai, harapan dan impian sebenarnya merupakan perubahan itu sendiri.”

Pikul (2011) menggarisbawahi AI sebagai “metode dan praktik pengembangan organisasi atau komunitas yang bertujuan mewujudkan perubahan individu atau kolektif menuju masa depan yang diimpikan melalui suatu penyelidikan yang menggunakan seni bertanya yang memberikan penghargaan terhadap kekuatan-kekuatan individu atau kolektif tersebut.” Program PADI menjadikan AI sebagai pendekatan yang bisa digunakan untuk memaksimalkan potensi desa di bidang Agrobisnis dan Agrowisata.

Penerapan AI pada fase awal program PADI dilakukan dengan pemetaan potensi desa yang dilalui melalui pertanyaan-pertanyaan positif. Tujuannya adalah untuk memperoleh pengalaman-pengalaman inspiratif, kisah-kisah sukses dan impian-impian tentang masa depan. Pada kasus Desa Gerbo dan Desa Rombo Kulon yang baru saja melaksanakan kelas pemetaan potensi dan need assesment, memiliki berbagai pengalaman menarik dan inspiratif. Keduanya juga sama-sama mempunyai mimpi dalam mengembangkan sektor agrobisnis dan agro wisata di desanya.

Pelaksanaan AI di Desa Gerbo dan Oro-Oro Ombo Kulon tidak bisa disamakan. Kedua desa memiliki potensi dan karakter yang berbeda sehingga membutuhkan analisis sosial yang berbeda pula. Setelah melalui fase Discovery dan Dream, kedua desa memiliki perbedaan dalam merencanakan proses perubahan sosial, meskipun di tahap akhir mereka memimpikan hal yang sama, yakni kesejahteraan masyarakat desa.

Desa Gerbo dalam proses Discovery menemukan potensi produk unggulan di sektor pertanian yang dapat dikembangkan, misalnya Virgin Coconut Oil (VCO). VCO yang berasal dari Pohon Kelapa sebenarnya telah dipasarkan luas ke luar wilayah Kabupaten Pasuruan. Namun, masyarakat desa mengakui prosesnya masih belum masif sehingga belum memberikan kontribusi bagi pembangunan desa. Di sektor agrowisata Desa Gerbo memiliki potensi lanskap alam yang eksotis. Sebagai wilayah yang terletak di kawasan Bromo Tengger Semeru, Desa Gerbo dikelilingi oleh perbukitan dipadu dengan areal persawahan.

Di Rombo Kulon, terdapat potensi yang menonjol di sektor agrobisnis. Di desa yang berada di dataran rendah Kabupaten Pasuruan ini memiliki potensi mangga berjensi Klonal 21. Jenis ini jarang ditemukan di daerah lainnya. Menurut beberapa sumber, Mangga Klonal 21 di Desa Rombo Kulon memiliki jenis yang paling baik untuk di konsumsi. Komoditas ini telah diperdagangkan secara masif hingga ke luar Kabupaten Pasuruan. Namun demikian, aktivitas tersebut belum dapat memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat desa.

Tantangan Pelaksanaan

Desa Gerbo dan Oro-Oro Ombo Kulon memimpikan hal yang sama. Mereka menginginkan adanya pengembangan agrobisnis dan agrowisata yang memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat desa. Atas dasar itu, mereka mulai merencanakan untuk mendirikan kelembagaan ekonomi di bidang pertanian dan wisata yang menjadi satu di tingkat desa. Misalnya seperti merencanakan pendirian Kelompok Sadar Wisata dan Badan Usaha Milik Desa. Kelembagaan ekonomi desa ini diharapkan mampu menjadi organisasi pengelola aktivitas dua sekor yang akan digeluti.

Dalam pelaksanaannya, AI sebagai kerangka konseptual tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa hambatan dan tantangan dialami Tim PADI ketika melakukan aktivitas pemberdayaan. AI teridentifikasi memiliki tiga tantangan yang saling berkaitan dalam pelaksanaannya. Ketiganya adalah: Kesadaran masyarakat; Kelembagaan sosial; dan Kepentingan politik.

Kesadaran masyarakat terhadap perubahan sosial desa dianggap sebagai tantangan berat dalam penerapan AI. Sebagian masyarakat saat ini beranggapan bahwa perubahan kehidupan keluarga merupakan tolak ukur yang paling penting. Perilaku ini tidak dapat dipungkiri dari adanya kearifan lokal berupa komunalisme yang mulai luntur di tingkat desa. Di saat yang bersamaan kapitalisme menggiring masyarakat untuk cenderung lebih individualistik dan apatis.

Kedua, kelembagaan sosial. Secara historis, kelembagaan sosial di tingkat desa pada dasarnya telah lama ada bahkan sebelum negara terbentuk. Salah satu contohnya adalah kelembagaan pemerintahan desa itu sendiri. Desa telah memiliki struktur pemerintahan yang mengurus persoalan  wilayahnya baik perihal keagamaan hingga pertanian. Akan tetapi, di era modern kelembagaan sosial di tingkat desa dituntut untuk bertransformasi.

Kelembagaan sosial mulai dibedakan dengan kelembagaan ekonomi yang dalam aktivitasnya mengejar untung dan menghindari rugi. Efisiensi dan efektivitas menjadi metode yang digunakan dalam mencapai setiap tujuan agar untung bisa diraih. Dalam implementasinya, masyarakat desa pada kasus di Rombo Kulon dan Gerbo belum sepenuhnya memiliki visi dalam berlembaga ekonomi. Keduanya terbukti masih terjebak dalam kungkungan lembaga sosial yang hanya berorientasi pada kegiatan sosial.

Ketiga, kepentingan politik. Seorang filsuf dari Jerman penulis buku Sabda Zarathustra, Friedrich Nietzsche pernah mengatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kehendak untuk berkuasa. Dalam istilahnya ia menyebut “to will to power.” Kehendak untuk berkuasa ini menjustifikasi bahwa manusia merupakan makhluk politik yang memiliki kepentingan.

Kepentingan politik masyarakat desa lebih pada tataran mikro. Pada proses pemberdayaan seringkali kepentingan ditemukan pada saat pemetaan potensi. Masyarakat memiliki kepentingan agar potensi yang asetnya mereka kuasai di desa dapat dijadikan sebagai produk unggulan. Kepentingan ini biasanya terus berkembang biak bahkan akan mencapai fase klimaks ketika tidak ada instrumen yang mengakomodirnya.

Adanya organisasi-organisasi sosial di tingkat desa juga memungkinkan kepentingan politik bermain di tingkat antar lembaga. Kepentingan eksistensi, mengelola aset, dan keuntungan pragmatis seringkali juga dijumpai. Kepentingan politik ini akan mengusik jalannya pemberdayaan melalui pendekatan AI yang cenderung melihat potensi baik di masyarakat.

Komunitas Averroes menformulasikan strategi menghadapi tantangan AI dengan menggunakan rekayasa politik seperti Game Theory. Konsep ini digunakan bila kepentingan politik di sebuah desa tidak bisa disatukan. Dengan catatan, konsep yang pernah dikemukakan oleh John F Nash ini sangat terbatas untuk diterapkan. Batasannya terletak pada intervensi Averroes dalam merencanakan mimpi masyarakat. Sehingga, adanya konsep ini dapat menjamin kondusivitas siklus AI, yakni Discovery, Dream, Design, Delivery/Destiny.    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *