Sosialisasi Program: Inilah Empat Tujuan Utama PADI

Salah Seorang Peserta Sosialisasi Sedang Memaparkan Potensi Desanya

Rabu 18/01/2017 Averros adakan sosialisasi program Pendidikan Agrobisnis Desa Inovatif (PADI). Sosialisasi yang bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) kantor pemerintah Kabupaten Pasuruan, merupakan komunikasi awal antara kelompok tani sebagai sasaran program PADI dan Averroes sebagai fasilitator program, dalam rangka rencana pelaksanaan program PADI.

Salah satu bagian dari pelaksanaan Program PADI adalah Sekolah Inovasi Tani. Sekolah ini adalah inisiatif ruang belajar untuk memperkuat posisi petani dan pemerintahan desa dalam pengembangan sektor pertanian. Hal ini bertujuan untuk membangun kapasitas petani dalam perencanaan pembangunan desa khususnya yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan para petani.

Dalam hal lainnya, fokus pelaksanaan program PADI juga menggalakan industri pengolahan pasca panen sebagai upaya peningkatan nilai tambah produk pertanian. Edi Purwanto, manajer program PADI, saat sosialisasi menjelaskan bahwa tujuan program PADI adalah untuk menciptakan kemandirian masyarakat desa dalam mengelola sumber daya desa.

“Dulu petani berpikirnya kapan petani mendapatkan bantuan, maka sekarang kita rubah bahwa petani mampu menciptakan kemandiriannya sendiri,” tutur Edi saat ditemui usai menyampaikan materi sosialisasi.

Selain tujuan umum yang disampaikan Edi, tercatat empat poin utama yang menggambarkan tujuan penyelenggaraan PADI.

Pertama, dengan adanya PADI diharapkan para petani mampu mengidentifikasi potensi yang mereka miliki. Dengan mengetahui potensi tersebut, mereka akan mampu pula  merumuskan strategi peningkatan potensi.

Kedua, program PADI mendorong petani agar mampu berinovasi dalam produksi pasca panen. Roni, salah satu peserta sosialisasi mengatakan bahwa ia pernah berinovasi dengan mengolah salak menjadi jenang salak, namun usahanya terhenti karena kekurangan modal. Selain itu produksi olahan salak sangat tergantung pada musim panen, karena semua bahan baku produksi berasal dari panen salak lokal.

Ketiga, setelah mengikuti serangkaian Program PADI, para petani diharapkan mampu mempromosikan produknya. Selama ini para petani kesulitan menjual produk-produk mereka, karena terkendala masalah promosi. Seperti yang diutarakan oleh Yayuk, salah seorang warga Pasuruan yang juga menjadi peserta program, bahwa penjualan keripik pisang yang ia produksi hanya dijual di sekolah-sekolah karena kendala promosi.

Keempat, program PADI mengajarkan petani untuk menerapkan manajemen agrobisnis yang modern dan profesional. Petani akan di dampingi dan diberikan arahan tentang pembentukan sistem manajemen yang baik dalam mengelola bisnis pertanian.

Program PADI di sambut baik oleh pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan. Pemkab merasa sangat terbantu dalam mengembangkan desa-desa berpotensi di Kabupaten Pasuruan.

“Pemkab berterima kasih atas adanya program semacam ini,” tutur Ihwan saat memberikan sambutan mewakili Bupati Pasuruan.

Program PADI memilih sasaran di tiga desa di Kabupaten Pasuruan. Tiga desa tersebut adalah Desa Wonosari, Desa Kalipucang dan Desa Jatiarjo. Ke-tiganya dipilih berdasarkan analisa dengan indikator Desa Maslahat. Desa-desa tersebut dinilai berpotensi untuk dikembangkan dengan melihat ketersediaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusianya.

Sedikitnya 72 peserta berpartisipasi dalam acara sosialisasi ini. Mereka berasal dari kelompok tani, kelompok pemuda, kelompok profesional, kelompok perempuan dan stakeholder lain dari tiap-tiap desa. Nantinya setiap desa dapat mengirimkan paling sedikit 30 hingga 50 orang untuk berpartisipasi dalam proses belajar di Program PADI.

Sebagai bentuk komitmen bersama atas pelaksanaan program ini, saat penutupan sosialisasi, para peserta secara simbolis diserahkan secara langsung oleh Pemkab kepada Averroes untuk diajak belajar bersama.

Program PADI akan dilaksanakan mulai Januari hingga Juli 2017. Sebagai informasi tambahan, Averroes telah melakukan kajian terhadap potensi yang dimiliki oleh ke-tiga desa. Hasil kajian tersebut kemudian diserahkan kepada pemerintah kabupaten dalam bentuk laporan hasil assessment saat akhir acara sosialisasi.

Sebagai manajer Edi mengakui bahwa tujuh bulan adalah waktu yang cukup singkat untuk menyukseskan program tersebut. Namun demikian, ia tetap optimis petani akan mampu dan mau bekerja keras menuju kemandiriannya.

“Memang tujuh bulan adalah waktu yang sangat singkat. Namun kami berharap program ini akan memberikan dampak yang baik bagi kemandirian petani” terang Edi. [Seno]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *