Seperti Ini Cara Nggoreng dan Ngudek Kopi agar Rasanya Tetap Khas dan Nikmat

SURYA.co.id | PASURUAN – Acara Sarasehan Tani Nasional dengan tema “Membangun Sinergi , Menguatkan Petani” di Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ditutup dengan festival Nggoreng dan Ngudek Kopi, Minggu (30/7/2017) siang.

Festival nggoreng dan ngudek kopi ini menjadi daya tarik sendiri dalam acara sarasehan itu.

Maklum saja, para peserta ataupun pengunjung acara ini, bisa melihat langsung bagaimana cara memilih biji kopi, cara menggoreng kopi dengan baik dan benar, cara menumbuk kopi hingga halus, dan menyajikannya hingga menjadi kopi siap seduh.

Festival Nggoreng dan Ngudek Kopi di Acara Sarasehan Tani Nasional di Desa Jatiarjo

Puluhan ibu-ibu asal Jatiarjo, mempraktikkannya. Secara cekatan, mereka memilih dan memilah biji kopi.

Biji kopi yang baik dimasukkan ke dalam penggorengan yang sudah disiapkan di atas tungku.

Menggoreng kopi, diupayakan menghindari menggunakan api yang besar.

Ibu-ibu Jatiarjo pun menggoreng kopi itu menggunakan tungku api dengan memanfaatkan kayu yang dibakar.

Uniknya, nggoreng dan ngaduk kopi ini dilakukan dengan cara kuno.

Sekitar 30 menit, tangan ibu-ibu Jatiarjo ini mengaduk kopi.

Mereka membolak-balikkan kopi hingga warnanya berubah menjadi hitam kecoklatan.

Setelah itu, mereka memindahkan kopinya ke lumpang, atau semacam alat yang digunakan untuk menumbuk kopi.

Tanpa memerlukan tenaga ekstra, ibu-ibu Jatiarjo mulai menumbuk kopi di lumpang hingga halus.

Selanjutnya, kopi sudah siap seduh. Kopi disajikan dengan air panas.

Kopi Jatiarjo ini dikenal sebagai kopi yang memiliki rasa tidak kecut. Untuk manis, tergantung selera penikmat kopinya.

Salah satu perwakilan ibu-ibu Jatiarjo, Warniti(35) mengaku sudah 15 tahun mengaduk kopi.

Ia menyebut, cara tradisional ini dipercaya bisa mempertahankan cita rasa kopi yang khas.

Bagi dia, meski sudah banyak alat penumbuk kopi yang lebih modern, tapi cara kuno tetap dipertahankan, dan menjadi budaya di Jatiarjo.

“Rasanya ini berbeda kalau ditumbuk, aroma kopinya lebih nikmat. Jika menggunakan mesin modern, saya yakin ada rasa dan aroma kopi yang hilang dalam proses itu. Beda jika menggunakan cara kuno atau tradisional seperti ini,” katanya.

Kepala Desa Jatiarjo Sareh Rudianto mengatakan, diresmikannya Desa Wisata Kampung Kopi Jatiarjo ini merupakan sebuah anugerah.

Ia berjanji pihaknya akan melakukan pengembangan desa, agar Jatiarjo akan semakin dikenal, termasuk untuk wisata kopinya.

Kata dia, pihaknya akan menawarkan beberapa konsep kampung kopi kepada para calon pengunjung Jatiarjo.

“Yang kami tawarkan itu, lebih kepada edukasi dalam pembuatan kopi. Artinya, kami akan menawarkan paket liburan ke pengunjung mulai dari cara menggoreng, menumbuk, hingga menyajikan kopi. Itu yang akan kami berikan ke pengunjung,” jelasnya.

Sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2017/07/30/seperti-ini-cara-nggoreng-dan-ngudek-kopi-agar-rasanya-tetap-khas-dan-nikmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *