Sejarah Mangga Klonal 21 di Desa Oro-Oro Ombo Kulon Pasuruan Akhirnya Terkuak

“Mulanya petani enggan menanam mangga mas, tanah di desa ini rawa dan tadah hujan, saat itu desa ini minus” papar Slamet Yakob, ketua Gapoktan Mangga di Desa Oro-Oro Ombo Wetan.

Pasuruan- Pada sabtu-minggu (8-9/12) kemarin Desa Oro-Oro Ombo Kulon melaksanakan kegiatan kelas Pelatihan Analisis dan Strategi Pengembangan Potensi Desa. Sebagai salah salah satu rangkaian kelas dalam Program Pendidikan Agrobisnis dan Agrowisata Desa Inovatif 2018-2019 (PADI), tema mengenai analisis dan strategi pengembangan diharapkan dapat memunculkan sekaligus merumuskan perencanaan desa dalam mengembangkan inovasinya. Dilangsungkan di Rumah Kemas kegiatan kelas ini berlangsung menarik perhatian peserta yang aktif dalam memetakan potensi desanya.

Agar diskusi bisa efektif dan mendalam peserta dibagi menjadi sembilan kelompok guna mendata sembilan potensi desa yang ada. Mereka dibagi berdasarkan potensi berikut: potensi sumber daya manusia; potensi sumber daya alam; potensi sosial; potensi fisik/infrastruktur; potensi finansial; potensi spiritual budaya; potensi kelembagaan; potensi informasi & jaringan; dan serta potensi komoditas pertanian.

Melalui mekanisme pembagian tiap potensi tersebut akhirnya ditemukan pendalaman potensi yang menarik. Salah satunya adalah terkait sejarah Mangga Klonal 21. Slamet Yakob sebagai salah satu petani mangga paling terdahulu di desa menceritakan bahwa awal mulanya pada tahun 1996 petani enggan menanam mangga.

“Mulanya petani enggan menanam mangga mas, tanah di desa ini rawa dan tadah hujan, saat itu desa ini minus. Lalu pada tahun 1996 ada program dari pemerintah namanya Program Pengembangan Petani Terpadu. Dari program itu pemerintah memberikan bibit mangga klonal 21. Lha awalnya petani tidak mau diberi bibit mangga karena takut kalau tanahnya diambil pemerintah ketika sudah ditanami mangga,” Jelasnya.

Merebaknya brand Mangga Klonal 21 atau juga disebut mangga alpukat tiga tahun terakhir mengakibatkan banyak masyarakat yang ingin menjadi petani mangga. Peluang bisnis yang besar ini tentunya banyak menghasilkan dampak positif bagi perekonomian masyarakat di Desa Oro-Oro Ombo Kulon dan Wetan.

Mangga gadung asli dari Kabupaten Pasuruan ini memang memiliki ciri khas yang unik dibandingkan dengan mangga lainnya. Rasanya yang lebih manis, serat buah yang kecil, bentuk yang bagus serta warna buah yang merah kekuning-kuningan menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat mangga. Belum lagi ditambah dengan cara makan yang unik yakni seperti cara makan buah alpukat menjadikan mangga klonal 21 semakin disukai oleh masyarakat.

Nasrun Annahar sebagai pemateri dalam kegiatan ini mengapresiasi keaktifan dan keterbukaan peserta dalam menjelaskan potensi desanya. Ia optimis dengan adanya potensi-potensi yang ada ditambah dengan semangat dari para peserta bisa menjadi modal kuat dalam usaha menjadi desa wisata.

“Dari cerita-cerita sejarah ini bapak ibu, nanti bisa dikemas menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Apalagi mereka juga disuguhi dengan cara makan mangga yang unik. Itu semua bisa menjadi modal kita menjadi desa wisata,” tegasnya.

Komunitas Averroes yang bekerjasama dengan Sampoerna untuk Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Pasuruan berkomitmen mendampingi Desa Oro-Oro Ombo Kulon agar bisa menjadi desa agrobisnis dan agrowisata. Komitmen ini dilakukan dengan berbagai upaya salah satunya adalah dengan melakukan kelas pemberdayaan. Antusias dan partisipasi masyarakat serta pemerintah desa akan menjadi kunci keberhasilan dari desa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *