Sarasehan Tani Siapkan Generasi Petani Matang Masa Datang

Persoalan pertanian kini telah memasuki babak krisis. Kompleksitas masalah ini kian nampak terasa. Melambungnya harga jual ke calon pembeli, rendahnya harga pembelian dari petani, dan peran tengkulak yang kian tak terkendali, hingga banyaknya petani yang sudah merasa lelah mengemban profesi ini. Efek dominan pun muncul, tak sedikit petani lebih memilih menjual tanah, dan mempersilahkan kapitalis menguasai tanahnya.

Sudah sering pembicaraan tentang hal ini muncul dikalangan para petani, atau dikalangan masyarakat secara umum. Bertani sudah tak bisa lagi menjadi andalan penghasilan, harga jual dari tangan pertama petani rendah, sedangkan biaya perawatan seperti bahan pengobatan sudah mahal, keuntungan yang didapat pun hanya sekian dari modal yang dikeluarkan selama kurun waktu perawatan.

Situasi di atas, padahal jika dibandingkan dengan kontribusi nyata petani sangatlah tak seimbang. Dari segi keuntungan, dengan kondisi yang sedemikian rupa tentu petani lebih mendapatkan keuntungan yang lebih sedikit. Sebenarnya, ini hanya soal bagaimana petani bisa sejahtera, kesejahteraan untuk sekarang, lalu dapat diteruskan generasi mendatang.

Ngomongkan soal generasi mendatang, berarti adalah generasi muda sekarang. Coba tengok realita petani di perkampungan, di sana sudah krisis generasi muda yang menekuni pertanian. Mereka lebih memilih berbondong-bondong hijrah meninggalkan kampung, dan memilih jalur profesi layaknya orang perkantoran. Kalau yang menekuni ilmu pertanian banyak, namun untuk terjun langsung menjadi petani hanya segelintir orang yang berusia muda. Jika hal ini dibiarkan, generasi muda tanpa diberi bekal ilmu pertanian, maka akan semakin menjauhkan harapan generasi muda untuk bertani. Ancaman nyatanya, pertanian akan mati, dan stok pangan hasil pertanian menipis dan lemungkinan buruknya habis, kemudian imporisasi bahan pangan menjadi hal yang realistis.

Melihat realita yang demikian, ternyata Sarasehan Tani getol melawannya. Seakan tidak terima dengan kondisi yang memaksa keadaan menjadi sebuah hal yang dogmatis. Terbukti dari kesekian macam latar belakang peserta, diagram peserta Sarasehan Tani menunjukkan ratting tertinggi peserta berkisar pada usia muda, tepatnya pelajar atau mahasiswa, baru setelahnya diisi peserta berlatar belakang petani yang rentan usianya bermacam-macam.

Keadaan ini tentu menjadi sebuah harapan, yang nantinya didapuk dapat berpotensi menjadi sebuah peluang. Pasalnya, acara yang akan mengupas habis soal pertanian ini telah memenuhi target peserta yang diharapkan. Sehingga, fakta tentang kurang sejahteranya petani dapat berkurang secara perlahan.

Komunitas averroes, dalam hal ini sebegai penyelenggara acara Sarasehan Tani, diwakili El Riansyah mengemukakan pendapatnya tentang situasi ini, “keberadaan acara ini benar-benar disiapkan untuk generasi petani sekarang, tentu keinginan kami sampai pada generasi mendatang. Generasi yang kami maksut adalah generasi petani yang matang, matang disegala bidang, baik dari segi pengelolaan, maupun managerial. Hal itu dapat dilihat dari sajian materi yang dikolaborasikan dengan berbagai macam kelas inovasi, juga para pengisi materi yang handal. Jika diamati, acara Sarasehan Tani yang tinggal menghitung jam menuju hari pelaksanaan, akan dapat memberi dampak signifikan terhadap para petani, terutama generasi kaum muda.”

 

Melihat hal yang dikemukakan El Riansyah, sangat nampak bahwa dinamika petani yang tertulis di atas dapat dilawan melalui forum-forum yang akan diciptakan di Sarasehan Tani. Oleh karenanya Sarasehan Tani hadir, sebagai media pemantik era baru petani, spirit baru, serta menciptakan peluang-peluang baru dunia pertanian. Sebab, pertanian adalah kehidupan.[petani]

 

Sumber: http://sarasehantani.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *