Potensi Sumber Daya Pesisir dan Rencana Wisata Mangrove Jarangan

Aneka Produk Unggulan Desa Jarangan

“Bahkan, akses yang mudah dan dekat dengan jalan raya besar adalah potensi pasar,” terang Anik, salah satu peserta Program PADI Desa Jarangan.

Hal tersebut tidak lain adalah keunggulan posisi geografis Desa Jarangan. Jarangan merupakan satu dari 16 desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Desa ini terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Jarangan, Bandaran dan Pade’an.

Lokasi yang terletak tidak jauh dari laut Pantai Utara Jawa membuat desa ini memiliki potensi sumber daya yang bagus nan melimpah. Beberapa jenis seafood, ikan tangkap dan ikan budi daya di desa ini, diantaranya adalah bandeng, mujair, kepiting, udang, dan ikan wayus.

Terkhusus, ikan bandeng dan ikan wayus dianggap menjadi komoditas unggulan Desa Jarangan. Penetapan komoditas unggulan dilakukan saat masyarakat mengikuti Pelatihan Analisis Potensi II pada Rabu (29/11/2017) lalu.

“Yang menurut teman-teman unggulan adalah bandeng dan ikan wayus. Kita sepakati dua ya? Bandeng dan ikan wayus?” imbuh Edi Purwanto, Program Manager PADI ketika memandu pelatihan.

Selama ini, potensi tersebut sudah dikembangkan dengan berbagai produk olahan macam krupuk atau terasi sebagai varian pengembangan produk. Pasca berbagai rangkaian kegiatan bersama Program PADI, peserta semakin termotivasi untuk lebih mengembangkan potensi yang ada.

Rencana Pengembangan Wisata Mangrove dan Eduwisata Bandeng

Potensi besar yang dimiliki oleh Jarangan seyogianya tidak hanya berkutat dalam budi daya di tambak, melainkan juga laut dan mangrove. Sejak ditetapkan sebagai salah satu wilayah konservasi Mangrove, Jarangan telah melaksanakan berbagai upaya untuk mempromosikan potensi mangrove sebagai salah satu destinasi wisata.

Berbeda dengan lazimnya wisata mangrove, untuk mencapai hutan mangrove di Jarangan harus terlebih dahulu naik perahu sekitar 20 menit. Uniknya, perahu-perahu yang ada kini sedang “dimasukkan bengkel” untuk dimodifikasi menjadi perahu naga. Dua hal yang sudah seharusnya menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Hal tersebut diamini oleh peserta program sebagai potensi besar untuk memberikan sensasi berbeda kepada pengunjung. “Jadi, selama pengunjung naik perahu bisa juga kita sambil membuat semacam paket piknik di atas perahu. Kalau ndak gitu yang minimal minum sirup mangrove di atas perahu,” kata A’an, salah satu peserta program.

Apa yang disampaikan oleh A’an tersebut bisa dikatakan sebagai gagasan cerdas untuk mengombinasikan potensi wisata dan potensi komoditas unggulan desa.

“Benar itu yang dikatakan Mas A’an. Jadi semua potensi yang kita miliki bisa kita jual ke pengunjung,” sela Anik mengomentari.

Potensi lain yang direncanakan akan dikembangkan adalah eduwisata bandeng. Pengunjung yang datang direncanakan akan disuguhi parade pengelolaan bandeng mulai dari cara budi daya, memancing bandeng hingga bakar bandeng.

“Jadi, nanti kita buat atau tawarkan berbagai paket wisata. Mulai dari berkunjung ke mangrove sampai obok-obok bandeng,” tegas Anik. [Fahrul]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *