Podokoyo yang Meneduhkan

Suasana Desa Podokoyo

Jauh dari hingar bingar pusat perkotaan dan asap polutan pabrik dan kendaraan, terhampar desa yang asri nan menentramkan. Ialah Desa Podokoyo yang terletak sekitar dua kilometer dari kawah aktif Gunung Bromo. Podokoyo terdiri dari empat dusun, yakni Dusun Podokoyo, Dusun Jetak, Dusun Ngawu dan Dusun Sunogiri.

Secara administratif, Podokoyo termasuk dalam wilayah Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Dengan ketinggian lebih dari 2.300 mdpl, desa ini memiliki temperatur yang rendah dan tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Berbagai macam sayur-sayuran dan buah-buahan banyak dibudidayakan oleh masyarakatnya. Tidak hanya itu, desa ini juga terdiri dari latar belakang masyarakat yang beragam.

“Pada jaman dahulu kala di sebelah selatan Kabupaten Pasuruan terdapat sebuah Pegunungan yang bernama Gunung Lejar, disitu hiduplah sepasang suami istri yang bernama joko seger dan roro anteng (cikal bakal Masyarakat Tengger). Setelah lama hidup berumah tangga mereka belum dikaruniai anak sehingga keduanya bertapa di Gunung Lejar memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk diberikan keturunan. Berkat kerja keras dan doa mereka akhirnya Tuhan Yang Maha Esa mengabulkannya dengan memberikan 25 anak .

Itulah kisah singkat adanya Suku Tengger, pada suatu hari Joko Seger berjalan-jalan di suatu bukit, ia menemukan sebuah tumbuh-tumbuhan yang aneh karena mulai dari akar batang, daun dan bunganya berwarna putih. Joko Seger memperhatikan tumbuhan tersebut kesemuanya sama “PADA” dan kesemuanya sama “KAYA”. Maka daerah tersebut diberi nama Padakaya dalam Bahasa Tengger atau diartikan dalam bahasa jawa berarti Podokoyo.”
(Sumber; http://kimrajawali.blogspot.co.id/2017/03/profil-desa-podokoyo.html)

Menurut penuturan Edi Priyanto, Kepala Desa Podokoyo, masyarakat Podokoyo memiliki tiga agama yang berbeda. “Disini itu masyarakatnya beragam. Ada yang beragama Hindu, Islam dan Kristen. Hindu sebesar 75%, Islam 15% dan sisanya beragama Kristen,” katanya.

Perbedaan tersebut merupakan hal yang lumrah dan sudah sekian lama ada di Podokoyo. Namun begitu, perbedaan tersebut tidaklah menjadi perpecahan atau konflik di desa. Masyarakat memiliki toleransi yang tinggi akan perbedaan agama yang ada. Hal tersebut dapat dilihat dari kebiasaan menghadiri undangan acara atau ritual dari pemeluk agama lain.

Menurut Edi, pemersatu perbedaan tersebut ialah latar belakang sosial masyarakat yang berasal dari Suku Tengger. Hampir 97% masyarakat merupakan keturunan Suku Tengger, selebihnya ialah pendatang yang menetap di Podokoyo. “Suku Tengger dan sejarahnya adalah hal yang dijaga dan terus dilestarikan disini. Kami semua tau bahwa kebiasaan, kebudayaan dan ritual yang dimiliki oleh Suku Tengger harus dan pasti dilepaskan dari perbedaan agama. Karenanya, desa kami selalu aman dan nyaman,” terangnya.

Karena toleransi dan kerukunan umat antar-agama yang tinggi, Pemerintah Kabupaten Pasuruan memasukkan Podokoyo sebagai salah satu nominator kategori bidang pembinaan kerukunan antar umat beragama dalam Event Anugerah Bangkit Desaku 2017. Hal yang memang seharusnya dilakukan dan diberikan kepada Podokoyo. “Jadi kemarin kita didatangi juri dari Pemkab untuk kategori bidang pembinaan kerukunan umat beragama. Ya memang seharusnya begitu, karena sejak kecil disini, saya tidak pernah merasakan atau mengetahui ada konflik karena perbedaan tersebut (agama),” ungkap Witono, tokoh penggerak pemuda sekaligus Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Podokoyo.

Dengan udara yang dingin dan jauh dari bisingnya keramaian kehidupan kota, Podokoyo memiliki banyak hal untuk diceriterakan. Pun begitu, ramahnya masyarakat Tengger dan tingginya toleransi antar umat beragama membuat desa ini kian nyaman dan tenteram. Barangkali istilah yang paling tepat untuk menggambarkan Podokoyo ialah teduh nan meneduhkan. Benar, teduh nan meneduhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *