Podokoyo Menuju Desa Wisata

Kelas Analisis Potensi Desa Podokoyo

Podokoyo merupakan desa yang terletak di lereng barat Gunung Bromo. Desa ini mempunyai ciri khas suhu dingin dan dihuni oleh masyarakat suku Tengger. Terletak di bawah Penanjakan, tempat terbaik di dunia untuk menikmati matahari terbit, Podokoyo menjadi wilayah yang potensial untuk menjadi desa agrowisata. Untuk mempersiapkan hal tersebut, perlu pemetaan aset dan potensi Desa Podokoyo.

Pemetaan aset menjadi penting karena aset desa akan dikembangkan dan menjadi modal utama untuk menyejahterakan masyarakat. Masyarakat Desa Podokoyo bersama Komunitas Averroes melakukan proses pemetaan aset pada Senin (27/11/2017). Meski diiringi hujan, acara yang bertempat di ruang kelas SDN Podokoyo 1 ini berlangsung hangat. Suhu dingin tak mengurangi antusiasme para peserta.

Ada sembilan sektor utama atau disebut sebagai nawa aset yang akan digali dan dikembangkan. Nawa aset tersebut diantaranya adalah sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), komoditas pertanian, sosial, finansial, fisik, kelembagaan, spritual atau budaya, informasi dan jaringan. Dalam pemetaan aset desa tersebut, para peserta dikelompokkan berdasarkan sembilan aset yang telah dipetakan. Tiap kelompok bertugas menganalisis potensi masing-masing.

Dalam pertemuan ini, masyarakat menyampaikan aset-aset yang telah teridentifikasi. Selain itu, mereka juga memaparkan tantangan yang akan dihadapi, dan bagaimana strategi untuk menghadapi tantangan tersebut. Di antara potensi desa yang dipaparkan, kelompok SDA memberikan pemaparan yang menarik.

“Kita mempunyai jalan yang bisa dijadikan jalur alternatif ke Penanjakan yang bahkan lebih dekat dari Wonokitri. Itu adalah jalur warisan Belanda yang akan sangat menarik jika dibuka lagi,” ujar Subiono, perwakilan kelompok SDA.

Wonokitri adalah desa tetangga Podokoyo yang saat ini menjadi jalur populer menuju Penanjakan. Hal tersebut menurut kelompok SDA mampu menguntungkan Podokoyo jika Podokoyo bisa memanfaatkan dengan baik. Salah satunya dengan membuat inovasi wisata dengan memanfaatkan jalur alternatif menuju Penanjakan.

“Jalur yang lebih dekat ke Penanjakan yang akan menjadi andalan Podokoyo itu tidak terlalu menanjak, jadi sangat cocok kalau dijadikan area tracking, ataupun sepeda. Jadi orang- orang nanti kalau mau ke Penanjakan tidak lagi harus naik jeep,” lanjut Subiono.

Untuk mewujudkan Podokoyo sebagai desa wisata, perlu adanya kerjasama dari seluruh masyarakat desa. Salah satu kerjasama yang dibutuhkan adalah kontribusi dari kelompok ibu-ibu dan perempuan desa yang terhimpun dalam organisasi PKK. PKK mampu menjadi penunjang dalam pembentukan desa agrowisata dengan mempersiapkan produk-produk kuliner.

Selain hamparan alam yang cantik, desa Podokoyo juga memiliki warisan-warisan kuliner yang bernilai. Hal tersebut disampaikan oleh Setia, salah satu anggota PKK yang ahli dalam mengelola  getuk kentang. “Getuk kentang itu gurih Mbak, apalagi kalau dibakar itu lebih guri lagi. Itu kan dulu ceritanya nenek moyang jaman dulu itu kesusahan pangan, makanya mengelola apa yang bisa dikelola, jadilah getuk kentang itu. Resepnya itu diturunkan terus ke anak-anaknya sampai sekarang,” ujarnya.

Getuk kentang dapat diklaim sebagai makanan khas desa Podokoyo yang memiliki makna historis. Jadi, Desa Podokoyo adalah desa yang berkarakter sangat kuat, memiliki alam yang cantik, sumber daya manusia yang kompeten dan kemampuan masyarakat dalam mengelola jajanan yang menarik bagi wisatawan. Selain itu, tentu masih banyak lagi kegiatan yang menarik seperti budaya dan kehidupan sosial yang dapat dikembangkan lebih jauh lagi untuk Desa Wisata Podokoyo. [Dina]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *