Petani Kalipucang Menceritakan Kisah Suksesnya

Petani Kalipucang Menceritakan Kisah Suksesnya

Sekolah Inovasi Tani Indonesia (SITI) sebagai salah satu bagian dari Program Pendidikan Agrobisnis Desa Inovatif mulai dijalankan bulan ini. SITI merupakan implementasi nyata dari upaya mengembangkan, memberdayakan dan membangun kemandirian petani.

Februari ini, SITI dimulai dengan kegiatan analisis potensi. Bertempat di kantor Kepala Desa Kalipucang pada Selasa (31/01/2017), para peserta melaksanakan Sekolah Inovasi Tani dalam kemasan musyawarah desa.

Musyawarah dihadiri oleh 44 peserta yang terdiri dari perwakilan kelompok tani, pemuda, tenaga profesional serta stakeholder lainnya. Turut hadir pula dalam kesempatan tersebut kepala desa Kalipucang beserta perangkatnya.

Tujuan pelaksanaan musyawarah adalah untuk menera kemudian menganalisis tantangan serta strategi pengembangan potensi desa yang berkaitan dengan sektor pertanian. Untuk memulai aktivitas analisis potensi, masing-masing peserta diminta untuk menceritakan kisah sukses peserta lainnya. Cerita bisa berupa cara bekerja dan menjalani kehidupan selama ini serta bagaimana mereka meraih suksesnya. Semua peserta mendapat giliran untuk bercerita secara gamblang mengenai kisah sukses kehidupan rekan-rekan sesama peserta.

Salam, salah satu peserta musyawarah dalam kesempatannya mencoba untuk menceritakan profil Kepala Desa.

“Beliau menghidupi keluarganya dengan bekerja menjadi buruh tani, berdagang hasil pertanian, dan menyempatkan untuk berorganisasi  di tingkat dusun. Lama-kelamaan dicalonkan oleh dusun untuk menjadi kepala desa sampai sekarang,” jelasnya dalam menceritakan kisah sukses Kepala Desa.

Cerita-cerita tersebut sebenarnya hanyalah pancingan untuk menganalisis kekuatan Sumber Daya Manusia Desa Kalipucang. Dari hal-hal yang diceritakan inilah terlihat potensi dan kualitas setiap Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh desa ini. Hal tersebut penting dilakukan sebagai pengantar analisis potensi desa lebih lanjut.

Dalam musyawarah tersebut Edi Purwanto, Manajer Program PADI, memaparkan pentingnya kesadaran mengenai kekayaan aset dan potensi pertanian. Menurutnya, desa berpeluang untuk memanfaatkan aset dan potensinya dengan landasan hukum yang kuat.

“Aset desa adalah potensi desa yang bisa dimanfaatkan dan didayagunakan untuk kemakmuran desa. Hal tersebut diperjelas dalam UU No. 6 tahun 2014”, terangnya.

Ia berharap, adanya kegiatan belajar ini mampu menunjang masyarakat dalam mengembangkan potensi desa termasuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian bagi para petani.

“potensinya banyak sekali, pisangnya beragam. Pengennya di mana? Ini harapan sebenarnya supaya pisang ada nilai tambahnya. Nilai jual yang semakin besar” tutur Edi. [Diyah]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *