Perut, Kayu, dan Biogas: Kajian Ekofeminisme di Desa Kalipucang

perut dan kayu

Seperti biasa, memastikan anggota keluarga berperut kenyang adalah tugas wajib yang diemban oleh perempuan. Karena kultur patriarki masih melekat pada masyarakat Indonesia, hal-hal semacam itu sering dijumpai utamanya di pedesaan.

Wiwin adalah salah satu ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Kalipucang, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Seperti ibu rumah tangga pada umumnya, tugas utama Wiwin adalah menyiapkan dan memastikan ketersediaan makanan. Untuk memenuhi tugasnya itu, tentu ia harus menyiapkan berbagai kebutuhan memasak termasuk bahan bakar. Dahulu, ia dan ibu rumah tangga lain selalu menggunakan kayu untuk memasak. Menurut penuturannya, pada masa silam masyarakat Desa Kalipucang selalu mencari kayu sebagai bahan bakar memasak. Tidak hanya ranting yang sudah lepas dari pohonnya saja, masyarakat juga menebang kayu-kayu di hutan.

Fenomena di Desa Kalipucang ini adalah wujud nyata keterkaitan antara kebutuhan manusia dengan elemen alam. Kayu, sebentuk elemen alam yang menjadikan perut manusia kenyang.

Nasib Kayu dan Hutan Kita

Meski bisa membuat perut kenyang, tebang-menebang kayu bukanlah kegiatan yang patut dilanjutkan. Perubahan iklim global yang terjadi saat ini merupakan fenomena yang salah satunya disebabkan oleh pepohonan yang terus berkurang. Jika pohon-pohon berkurang tentu suhu bumi akan terus meningkat.

Peningkatan suhu 3-4 derajat celcius saja bisa menyebabkan 350 juta orang di dunia kehilangan tempat tinggal akibat banjir (Hunga, 2013). Selain banjir, peningkatan suhu juga berakibat pada kekeringan lahan pertanian. Jika petani gagal panen, maka ketersediaan pangan akan berkurang. Jika pun petani berhasil panen dalam kondisi kekeringan, maka harga kebutuhan pangan akan melambung tinggi. Lagi-lagi persoalan perut yang akan terancam.

Petugas pengisi perut tentu menjadi sosok yang dirugikan. Mereka harus memutar otak agar makanan di rumah tetap tersedia. Mereka harus memikirkan bagaimana anak-anaknya memiliki gizi yang cukup. Mereka juga dipaksa untuk berpikir cara membantu rekan hidupnya untuk mencari uang. Bahkan, tidak jarang mereka juga menyisihkan makanan pada keadaan terbatas hanya untuk mengisi perut anak-anak dan sang rekan hidup.

Petugas Pengisi Perut yang Dirugikan

Adalah perempuan, yang menjadi garda depan penjamin ketahanan pangan. Dalam kondisi kekeringan, perempuan akan kesulitan menemukan air bersih. Pada saat yang sama, mereka dituntut untuk menyiapkan makan, minum dan baju bersih bagi seluruh keluarga. Eksploitasi bumi melalui fenomena penebangan kayu demi perut yang kenyang akan memperpanjang penderitaan perempuan. Terlihat bahwa eksploitasi pada bumi, paralel dengan eksploitasi terhadap perempuan. Manusia lupa bahwa kehidupan dan perut kenyang adalah hutang kepada alam yang belum terbayar.

Spretnak (1990) yang dikutip dari Candraningrum (2013) menyatakan bahwa krisis dan kehancuran bumi merupakan suara dari penurunan nilai bumi sekaligus penurunan nilai perempuan. Dalam revolusi sains, bumi mendapat atribut kelamin perempuan. Atribusi pada bumi dan alam semesta sebagai makhluk berkelamin perempuan yang mudah dikendalikan akan berdampak pada kerusakan dan berujung pada kelaparan manusia.

Masyarakat Desa Kalipucang mencium bau kurang sedap dari desanya. Bau hutan di sekitar desanya menjadi berbeda karena kayu-kayu yang terus berkurang. Pada akhirnya muncullah satu gagasan melalui Koperasi Setia Kawan untuk memenuhi kebutuhan perut warganya tanpa menebang kayu-kayu di hutan.

Inovasi dan Solusi

Apakah gas elpiji menjadi solusi? Jawabannya adalah bukan. Bagaimana bisa kayu yang gratis itu digantikan dengan gas elpiji berbayar. Mari tengok dapur Wiwin. Ada yang berbeda dari kebanyakan dapur. Tidak ada gas elpiji maupun minyak tanah, Wiwin memasak menggunakan “kotoran” sapi-sapi perahnya.

Kebanyakan masyarakat Desa Kalipucang termasuk keluarga Wiwin adalah peternak sapi perah. Dari situlah gagasan Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk menggantikan kayu dengan kotoran sapi perah itu muncul. Bahan bakar memasak pengganti kayu itu bukanlah kotoran sapi biasa. Kotoran sapi diproses sedemikian rupa hingga menjadi biogas. Biogas kemudian bisa dijadikan bahan bakar untuk mengolah makanan.

Bener, Mbak. Biogas mbantu banget jadi lebih irit” ujar Wiwin.

Selain lebih irit, kotoran sapi yang semula dibuang sia-sia atau hanya berakhir sebagai pupuk dengan harga yang murah, ternyata bisa membantu ketahanan pangan keluarga. Ampas dari biogas justru sangat membantu kesuburan tanaman. Wiwin memanfaatkan ampas biogas sebagai media tanam tumbuhan bahan makanan. Tidak disangka, hal tersebut secara signifikan membantu mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan pangan. Cabai, bawang merah, daun bawang dan pepaya adalah sederet kebutuhan makanan yang dapat dipenuhi sendiri oleh Wiwin.

Nanam cabe di tanah biasa sama di ampasnya biogas itu beda. Lebih subur dan cepat tumbuh pakek ampas biogas,” terang Wiwin atas hasil eksperimennya.

Hal terpenting yang perlu menjadi refleksi atas pembahasan di atas adalah “jangan egois dengan alam”. Wiwin telah membuktikan bahwa ketahanan pangan di keluarganya begitu kuat walaupun harga cabai melambung tinggi. Dengan upayanya, ia pun telah berkontribusi dalam melestarikan eksistensi pepohonan di hutan. Kesuksesan Wiwin dapat terwujud karena ia berani mengganti kayu dengan kotoran sapi yang semula tidak memiliki nilai ekonomis.

Akhir kata, segala yang bersumber dari alam akan membantu keberlangsungan kehidupan kita, perut kita, kebahagiaan ibu kita dan kebahagiaan anak cucu kita.  Maka, perlakukanlah alam dengan adil.

Perlu komitmen bersama dalam gerakan sosial partisipatif yang konsepnya bersumber dari pengalaman masyarakat dalam memanfaatkan potensi di sekitarnya. Upaya pencegahan sangat diperlukan sebelum bumi menyuguhkan kekeringan pada peradaban manusia utamanya perempuan. [Naila]

 

Sumber:

Wawancara dengan Wiwin warga desa Kalipucang, 14 Februari 2016

Hunga, Arianti Ina. (2013). Ekofeminisme, Krisis Ekologis dan Pembangunan Berkelanjutan. Ekofeminisme, Dalam Tafsir Agama, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya. Jakarta: Jalasutra

Candraningrum, Dewi. (2013). Amanat Al-Insan dalam Krisis Lingkungan: Kajian Ekofeminisme Islam. Ekofeminisme, Dalam Tafsir Agama, Pendidikan, Ekonomi, dan Budaya (pp. 3-13). Jakarta: Jalasutra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *