Perjalanan Janu di Gunung Cikur

Setelah  menempuh waktu setengah hari, akhirnya Janu sampai juga di lereng Gunung Cikur. Warna biru yang mulai berubah hijau kecokelatan telah menjadi tanda bahwa perjalanan jauh yang dia tempuh akan sampai pada tujuannya.

Ia diperintahkan oleh Sapangat, dosennya, untuk melakukan penelitian di Dusun Sumber Lenthong. Di dusun ini, tinggal seorang petani tua bernama Ki Mastani. Sapangat sering berkunjung ke rumah petani tua itu. Konon, gelar doktor Sapangat diraih setelah “berguru” kepada Ki Mastani yang tak lulus Sekolah Rakyat (SR).

Sebenarnya, ada yang mengganggu pikiran Janu sejak dia menyusuri jalanan makadam di kawasan itu. Hamparan hijau yang nampak di lereng sebelah timur sejak dia melaju naik tadi, ternyata hanyalah rerumputan. Tak ada satu pun pohon yang menopangnya. “Apa tidak bahaya jika hujan lebat datang, gumam Janu dalam hati.

Memasuki perkampungan Dusun Sumber Lenthong, Janu merasakan suasana yang tenang. Janu menghentikan motornya di pinggir jalan. Dia melepas helm dan menggantungnya. Sejuk angin pegunungan rupanya telah mengeringkan ikat kepalanya yang nampak kumal oleh keringatnya.

Di jalanan berbatu itu, nampak beberapa orang memanggul tabung kaleng alumunium di kepalanya. Janu sudah tahu kalau yang mereka bawa itu adalah susu segar. Sapangat sudah bercerita sekilas bahwa dusun di mana Ki Mastani tinggal adalah dusun penghasil susu.

Perhatian Janu tertuju kepada perempuan-perempuan renta yang turut memanggul kaleng susu dari arah timur. Dari sisi barat, melaju mobil pikap warna hitam. Jalanan terjal menjadikan kendaraan sehebat apapun akan terseok untuk bergerak. Tiba-tiba, muncul seorang perempuan dan berhenti di tengah jalan. Mak Darsih, demikian nama perempuan itu. Ia berdiri di tengah jalan sembari memberi tanda kepada pikap untuk berhenti.

Sang sopir mengeluarkan kepalanya lewat jendela sembari berkata, “besuk saja ya, Mak. Aku buru-buru dipanggil bos iki,” ujarnya.

“Tidak bisa. Seharusnya sejak kemarin klethong-ku kamu angkut. Kalau gak diambil sekarang, pikapmu tidak boleh lewat sini,” sentak Mak Darsih ketus.

Dengan senyum kecut, sang supir membelokkan pikapnya ke halaman Mak Darsih. Dengan menggunakan sekop, Sopir pikap itu memindahkan tumpukan klethong di bak yang ada di halaman ke bak pikap.

Ok. Suwun ya,” ujar Mak Darsih sembari menerima selembar uang sepuluh ribuan dari Lelaki bertubuh tambun itu. Ia lantas pergi dengan pikapnya yang terseok-seok.

Tak lama kemudian, Janu menghampiri Mak Darsih. Tentu saja untuk menanyakan rumah Ki Mastani.  “Itu pas di samping musala,” jelas Mak Darsih sambil menunjuk ke arah barat. Janu pun mengangguk.

Dari obrolan singkatnya bersama Mak Darsih, Janu mengetahui bahwa Sang sopir adalah anak buah Pak Sabrang, pengusaha besar yang memiliki kebun jeruk di dusun itu. Sabrang adalah pendatang. Dia membeli lahan pertanian jeruk di dusun itu. Untuk kebutuhan kebunnya itu, Sabrang membeli klethong dari penduduk dengan harga 10 ribu per pikap. Secara bergantian, klethong sapi dari warga dia borong dengan bantuan sang supir.

Walah, murah banget. Kalau di Gunung Kulon, harganya bisa belasan kali lipat. Apalagi kalau dikeringkan dulu, bisa lebih tinggi nilainya. Pak Sabrang itu benar benar…,” gumam Janu sembari menggenjot motornya.

 

***

“Terus apa yang mau kau teliti di dusun ini?” tanya Ki Mastani.

“Modal Sosial Kaum Tani, Ki. Jadi saya disuruh melihat kekuatan apa saja yang dimiliki petani di sini. Intinya saya disuruh belajar kepada petani di sini dan mencatatnya”, terang Janu.

Ki Mastani terdiam beberapa saat. “Babagan opo iku? angel tenang,” Ki Mastani memancing.

Janu kemudian menceritakan informasi awal yang dia dapat dari Sapangat tentang dusun ini. Janu juga menceritakan kisah perjalanannya. Termasuk kesan yang dia tangkap semenjak mau masuk ke Dusun Sumber Lenthong. Tentang petani yang merumput, tentang susu sapi dan tentang Mak Darsih.

“Coba kasih penilaian dari sisi prasangka baikmu. Sejak kamu masuk ke dusun ini”

Setelah berpikir sejenak, Janu berujar,”Si mbah yang masih bekerja memanggul susu itu sedang menikmati hidupnya. Masih bekerja di usia senja merupakan cara mereka menghargai hidup. Saya jadi berpikir, ternyata petani sebenarnya adalah pekerja keras dan mencintai pekerjaannya.”

“Lantas?” tanya Ki Mastani yang wajahnya mulai tersenyum.

“Mak Darsih yang menjual klethong sapi dengan harga murah…”, lanjut Janu sembari mengernyitkan dahi.

“…mungkin dia berpikir praktis. Tidak mau ribet. Lagi pula Pak Sabrang kan satu satunya pembeli”, lanjut Janu.

“Siapa bilang”, Tukas Ki Mastani.

“Tiap bulan selalu ada utusan Pak Wastu dari Punden Aji. Dia butuh klethong kering dalam jumlah besar, tiap bulan 3 ton. Tapi warga di sini belum berminat. Warga lebih memilih untuk diberikan kepada Sabrang.”

“Jadi begitu ya Ki. Saya jadi mengerti. Mak Darsih lebih percaya kepada Pak Sabrang,” Janu mencoba berpendapat.

“Pak Sabrang itu meski pendatang, dinilai baik sama warga. Kebun jeruknya sering mempekerjakan anak muda di sini.”

“Pertimbangannya tidak hanya uang. Aktivitas ekonomi di sini tidak semata-mata hanya urusan untungnya berapa.” Ki Mastani mulai terkekeh.

Kon iki pancen mirip Sapangat”, sergah Mastani sambil menepuk pundak Janu.

“ Anu Ki, tentang lereng gundul yang hanya berisi hamparan rumput tadi, saya khawatir, Ki. Karena…”

Ki Mastani tak menanggapinya. Ia lantas berkata “Tinggallah di sini beberapa hari. Aku hanya mau bilang satu hal. Ngangsu kaweruh itu seperti menimba air. Agar air yang kamu timba bermanfaat, jangan biarkan airnya berdiam di dalam timba. Tuangkan air itu ke tempat yang butuh air. Biar bisa kau gunakan untuk menimba lagi”

“Maksudnya gimana, Ki”, tanya Janu sambil berpikir.

“Kamu datang ke sini tentu dengan bekal ilmu dan pengalaman pertanian. Kamu jangan canggung untuk berbagi pengalamanmu kepada masyarakat. Bagikan ilmumu sembari belajar kepada petani di sini. Termasuk ilmu per-klethong-an yang tadi sempat kau singgung. Mereka pasti senang jika kamu bagi pengalaman tentang kompos dan biogas.”.

Nggih, Ki”

“Tugas pertama. Besuk pagi, pergilah ke mata air Sumber Songo. Ambilkan air langsung ke sumbernya dengan kendil ini. Aku butuh untuk uji coba pestisida yang baru kutemukan”

“Nggih,” jawab Janu penuh kepatuhan.

***

Setelah pagi menjelang, Janu bergegas.  Ia menyusuri jalan setapak melewati lereng Gunung Cikur. Sekali lagi dia terganggu dengan pemandangan lereng dengan kemiringan ekstrem yang tidak ada pepohonan.

Setelah beberapa saat dia berjalan mendaki, Janu tertegun. Rupanya dia baru menyadari bahwa ada banyak kalen-kalen kecil di sela hamparan rumput gajah yang ia lalui. Rasa penasaran membuatnya menaiki bukit kecil untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas. Ia ingin menelisik ke arah mana kelen-kalen itu bermuara. Ternyata di ujung bawah nampak seperti waduk kecil yang airnya dangkal.

Duh Gusti”, bibir Janu berucap lirih. Ia menyadari bahwa waduk kecil yang airnya dangkal itu berfungsi seperti embung. Waduk kecil itu ternyata dikelilingi sawah penduduk dusun. Janu sadar bahwa, lereng yang dibiarkan gundul itu ternyata sepertinya memang disengaja. Selain untuk membasahi rumput, rupanya airnya memang sengaja dibiarkan turun untuk ditampung di embung alami itu.

Sembari melamun dan berjalan, sampailah Janu di Sumber Songo. Ia membasuh muka dan meminum beberapa teguk, Janu mengisi kendil dengan air dari sumber. Setelah istirahat sejenak, ia bergegas pulang. Kali ini memilih jalan memutar untuk berpetualang.

Saat melewati balai dusun Setinggil, Janu melihat ada keramaian. Rupanya sedang berlangsung pemilihan pimpinan baru. Ada banyak orang berkumpul melihat dan mendengarkan sosok yang berbicara di panggung.

“Kalau Saya dipercaya menjadi petinggi di dusun ini maka petani di sini akan makmur. Petani di sini perlu maju. Harus menerapkan teknologi modern. Petani di sini miskin karena tidak ada bantuan dari pemerintah, karena tidak ada yang memperjuangkan. Itu yang akan saya lakukan nanti. Saya punya banyak teman dari kampus-kampus. Teman-teman saya yang investor juga mau datang ke sini. Untuk itu, ayo maju dan bekerja keras bersama saya, Sukaryo.”

Mendengar pidato berapi-api itu, Janu tersenyum. Lamat-lamat ia teringat kata-kata Sapangat, “Jangan langsung percaya kalau ada yang bilang bahwa petani itu malas, miskin, bodoh, perlu bantuan dan semacamnya. Itu adalah kebohongan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *