Peran Pokdarwis dalam Pembangunan Kepariwisataan

Pariwisata merupakan sektor bisnis yang kini sedang naik daun. Meningkatnya jumlah kelas menengah nasional menggairahkan bisnis ini. Kelas menengah yang terkosentrasi di pusat kota sebagian besar menjadikan wisata sebagai sebagai sarana kebutuhan mengusir kejenuhan. Mereka mengincar destinasi wisata alam yang banyak diantaranya berada di wilayah desa-desa. Potensi ini ditangkap oleh masyarakat desa dengan meningkatkan kualitas destinasi dan jasa wisata.

Peran Pokdarwis

Mengutip presentasi Adi Hasto Utomo dalam materi kelas Padi di Desa Podokoyo, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) merupakan kelembagaan di tingkat masyarakat yang anggotanya terdiri dari para pelaku kepariwisataan. Pria yang menjabat sebagai Bendahara Forum Pokdarwis Jawa Timur ini juga menyampaikan bahwa anggota Pokdarwis harus memiliki kepedulian, tanggung jawab, dan berperan sebagai penggerak dalam mendukung terciptanya iklim kondusif sektor pariwisata yang berkembang di daerah. Anggota Pokdarwis juga harus mengedepankan terwujudnya Sapta Pesona dalam setiap pembangunan pariwsata.

Pokdarwis yang merupakan kelembagaan wisata pada sektor mikro diharapkan mampu secara nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Secara bahasa, Pokdarwis tersusun dari tiga kata, yakni Kelompok, Sadar, dan Wisata. Kelompok diartikan sebagai sebuah komunitas yang terdiri dari individu-individu. Sementara itu, sadar dapat diartikan sebagai adanya keberlangsungan bisnis pariwisata yang bagian dari tanggung jawab masyarakat. Terakhir, wisata diartikan sebagai suatu aktivitas bepergian secara bersama-sama yang bertujuan untuk bersenang-senang atau menambah pengetahuan.

Sadar wisata dimaknai sebagai suatu kondisi yang menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi atau wilayah. Kesadaran dan kepedulian masyarakat menjadi tolak ukur dari setiap gerakan pokdarwis dalam mengelola lingkungan.

Kesadaran masyarakat merupakan daya dukung utama dari kegiatan wisata di desa. Maka dari itu, terdapat istilah Sapta Pesona yang harus dipegang teguh dalam setiap gerakan Pokdawis. Sapta Pesona merupakan kondisi dan suasana lingkungan yang harus diupayakan oleh Pokdarwis. Unsur-unsur dalam Sapta Pesona adalah aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan unsur kenangan.

Buku Pedoman Pokdarwis yang diterbitkan oleh Kementerian Pariwisata menyebutkan bahwa Pokdarwis merupakan kelompok swadaya dan swakarsa masyarakat yang aktivitasnya berupaya menggapai empat instrumen. Pertama, meningkatkan pemahaman kepariwisataan. Kedua, meningkatkan peran dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan. Ketiga, meningkatkan nilai manfaat kepariwisataan bagi masyarakat/anggota Pokdarwis. Keempat, mensukseskan pembangunan kepariwisataan.

Pembangunan Wisata

Berdasarkan uraian di atas, Pokdarwis memiliki peran penting dalam manajemen wisata di sebuah desa. Pokdarwis dapat dijadikan perencana sekaligus pelaku teknis di lapangan yang mengurus kegiatan wisata. Desa Podokoyo Kecamatan Tosari merupakan salah satu desa yang saat ini mengalami perkembangan aktivitas kepariwisataan. Bergeraknya aktivitas pariwsata di desa ini tidak luput dari gerakan yang dilakukan oleh Pokdarwis Desa Podokoyo.

Pokdarwis Podokoyo telah berperan sebagai penjaga kelestarian lingkungan desa dengan mengagendakan aktivitas kerja bakti di setiap pekannya. Komitmen ini mereka bangun sebagai sarana untuk menjaga kualitas tempat tinggal mereka. Mereka memprediksi kegiatan pariwasata juga memiliki kemungkinan buruk berupa tercemarnya lingkungan akibat sampah.

Melalui wisata andalan berupa Bromo Fun Tracking dan Wisata Edukasi Tengger, Pokdarwis Desa Podokoyo memulai era baru dalam manajemen wisata. Saat ini, mereka telah memiliki struktur Pokdarwis, perencanaan pengembangan wisata, Pos Informasi Wisata, dan kas anggaran. Beberapa unsur ini menjadi modal mereka dalam melakukan manajemen wisata.

Belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan wisata menjadi kelemahan dari manajemen wisata di Desa Podokoyo. SOP merupakan instrumen yang penting untuk disusun di Desa Podokoyo mengingat banyaknya jasa wisata gelap (kibir) yang sering memainkan harga. Keberadaan mereka yang berdekatan dengan wisata Gunung Semeru dan Bromo telah lama menghadirkan kibir yang meresahkan. Kibir merupakan makelar yang menawarkan jasa wisata dengan harga tidak wajar.

Dewasa ini, mencari keuntungan sebasar-besarnya melalui jasa wisata bukan lagi orientasi bisnis yang bisa dikedepankan. Adi Hasto mengatakan tolak ukur lama seperti jumlah kunjungan, pendapatan, lama kunjungan, dan peluang kerja bukan lagi menjadi tolok ukur keberhasilan utama pembangunan wisata. Adapun tolok ukur yang baru adalah belanja wisatawan yang dinikmati masyarakat, peluang usaha untuk masyarakat lokal, tidak merubah budaya masyarakat, meningkatkan peran masyarakat, dan tidak merusak lingkungan. Paradigma baru ini merupakan respon dari adanya persoalan lingkungan yang pada periode terakhir dialami oleh destinasi-destinasi wisata.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *