Mimpi Bersama Sebagai Modal Branding Desa Jarangan

Branding pada desa wisata pada saat ini adalah konsep yang di primadona kan oleh masyarakat desa. Tak terkecuali oleh desa Jarangan. Untuk menjadikan desa menjadi desa wisata, penting untuk mengenali potensi wilayahnya secara benar. Kelas analsisa potensi dilaksanakan di Kantor Desa Jarangan Rabu, (29/11). Seperti pada desa- desa sebelumnya, analisa potensi ini diawali dengan pemaparan masyarakat yang telah memetekan aset desa nya secara sederhana. Dilanjutkan dengan pemilahan potensi yang benar benar mampu menjadi branding desa.

Secara umum, masyarakat desa telah mengetahui potensi yang ada di desanya. Namun, potensi yang ada di desa tersebut tidak disadari atau bahkan diabaikan oleh masyarakat. Masyarakat pada umumnya hanya fokus pada pengembangan perekonomian pribadi tanpa memikirkan bagaimana itu bisa menjadi sebuah aset untuk desa. Oleh karena itu, desa tidak mempunyai suatu ciri khas atau identitas utama yang bisa “dijual” untuk daya tarik desanya.

Branding pada desa penting, hal ini berkaitan dengan bagaimana desa Jarangan akan menjadi desa wisata nantinya. Bicara tentang branding, berarti bicara tentang kemasan. Kemasan yang dimaksud disini adalah bagaimana Desa Jarangan menjadi desa wisata yang dikemas sesuai dengan harapan dan cita- cita masyarakat desa sendiri. Hal ini berkaitan dengan mimpi dari masyarakat, akan seperti apa desa Jarangan dibangun.

Seperti yang diungkapkan oleh Edi “Kita punya mimpi berdasrkan apa yang ada di desa? Mimpi itu bisa jadi kenyataan asalakan dilakukan upaya-upaya tadi, opo ya misal kita pengen jadi sentra bandeng terbesar di Indonesia, oh mulai sekarang temen-temen semua kita ajak menanam bandeng yang bagus, jadi nek untung-untung bareng, nek rugi rugi bareng”.

Edi dari Komunitas Averroes memaparkan bahwa kesadaran akan pembangunan desa secara kompak itu penting. Edi mecontohkan tentang produksi bandeng. Budidaya bandeng telah ada di desa Jarangan sejak lama, lalu mengapa bandeng dari Jarangan belum terkenal, atau Jarangan belum menjadi sentra bandeng? Hal itu karena tidak ada sinergitas diantara masyarakat yang berupaya membangun desa Jarangan secara gotong royong dan kompak.

“Tapi semua itu tidak datang ujuk–ujuk sendiri, usaha- usaha ini yang kemudian kita butuh lakukan. Saya minta kelompok dua ini apa ya, yang bisa kita usahakan bersama-sama.  Seumpama saya sudah punya usaha keripik, bandeng, gimana ya caranya biar tidak mateni pasar, jadi kita maju bersama-sama,. Jadi ini ngomong tentang mimpi beberapa tahun ke depan ingin jadi apa?” tegas Edi.

Branding desa wisata tidak harus sesuatu yang besar tapi masyarakat gagap dalam mengeksekusi. Branding desa wisata harapannya adalah suatu bentuk identitas lokal masyarakat, dan itu merupakan wujud dari sesuatu yang telah dimimpikan. Ketika masyarakat Desa Jarangan telah memiliki mimpi bersama, tugas selanjutnya adalah bagaimana untuk mewujudkan mimpi itu.

Seperti yang dimpamakan oleh Edi “Kita jangan bermimpi untuk menikahi syahrini, nikahi saja yang sudah dekat dan terjangkau, jadi mimpi kita bisa jadi kenyataan, kalau mimpi kita berdasarkan pada apa yang sudah kita miliki, baik personal atahu apa yang sudah ada di desa, jadi kita dapat membuat mimpi kita menjadi nyata” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *