Pemetaan Potensi Desa Jatiarjo Tetapkan Dua Komoditas Utama

Kopi, Komoditas Ungulan Desa Jatiarjo, Prigren, Pasuruan

Masyarakat Desa Jatiarjo tetapkan kopi dan nangka sebagai komoditas unggulan untuk dikembangkan. Keputusan tersebut merupakan hasil forum Analisis Potensi Pertanian, Senin (13/02/2017). Dua komoditas ini dipilih karena dinilai paling berpengaruh terhadap hajat hidup masyarakat Desa Jatiarjo. Selain karena kuantitas panen yang paling banyak, dua komoditas ini merupakan komoditas khas Jatiarjo yang tidak dimiliki oleh desa-desa lainnya. Penetapan dua komoditas ini penting untuk menentukan langkah pembangunan desa agar lebih efektif dan efisien.

Nuroso, ketua kelas Sekolah Inovasi Tani Indonesia (SITI) Jatiarjo mengungkapkan bahwa sebenarnya komoditas buah-buahan yang tumbuh di Jatiarjo banyak sekali. Namun seiring berjalannya waktu komoditas buah-buahan tersebut mengalami penurunan jumlah produksi.

“Dulu yang paling terkenal itu ada empat, nangka, jambu, sama nanas dan alpukat. Sekarang tinggal nangka. Itu (nangka) pun sudah mulai berkurang,”  tuturnya saat diwawancarai di sela aktivitas forum Analisis Potensi Pertanian.

Nuroso Adi (kanan) Saat Mempersiapkan Pelaksanaan Forum Analisis Potensi Pertanian
Nuroso Adi (kanan) Saat Mempersiapkan Pelaksanaan Forum Analisis Potensi Pertanian

Teknik penanaman dan perawatan yang kurang baik disinyalir menjadi penyebab menurunnya kuantitas dan kualitas panen buah nangka. Berdasarkan pengamatan Nuroso, Saat ini mulai banyak buah nangka yang masak tidak sempurna dan cepat busuk. Buah yang busuk atau rusak tentunya tidak masuk dalam hitungan jumlah panen.

“Ada beberapa yang memang punya pohonnya, tapi ketika pohon tidak ditata dengan baik sehingga setiap panen tidak berhasil. Contohnya, ketika musim hujan Kalo tidak di disonggro, dikemuli, diblongso semacam itu akhire waktu panen jadi busuk,” tutur Adi, sapaan akrab Nuroso.

Jumlah produksi memang berbanding lurus dengan jumlah tanaman. Saat ini jumlah tanaman nangka di Jatiarjo semakin menipis, sehingga jumlah produksi juga semakin menurun. Menurunnya jumlah tanaman nangka tidak lain disebabkan oleh penebangan pohon. Beberapa pohon nangka ditebang untuk dimanfaatkan kayunya sebagai bahan dasar pembuatan furniture. Kayu nangka dianggap kuat dan bagus digunakan sebagai bahan furniture atau mebel rumahan. Selain itu pohon nangka banyak berkurang karena lahan tempat pohon nangka ditanam dibeli para investor, pohon-pohon akhirnya ditebang.

“Rata-rata kan nangka di ladang kita masing-masing, nah lahan kita itu banyak yang dibeli oleh investor entah dibuat apa, wisata dan sebagainya. Ini yang namanya berkurangnya pohon nangka untuk orang lokal itu sendiri. Hanya orang-orang tertentu sekarang yang punya. Kalau dulu ya, di musim panen nangka, orang-orang ngomong sampe gak laku karena saking banyaknya. Nah kalau ini kebalik, sekarang ini berkurang, “ imbuhnya.

Strategi Pengembangan Komoditas Nangka

Meski banyak tantangan dan sedang mengalami penurunan jumlah panen, masyarakat tetap optimis untuk terus menggenjot produktivitas nangka. Masyarakat bertekat untuk mempertahankan nangka sebagai ciri khas desa Jatiarjo. Beberapa strategi dijelaskan oleh Adi sebagai upaya pengembangan nangka.

Salah satu teknik meningkatkan produktivitas nangka adalah “pengerdilan”. Teknik pengerdilan ini terinpirasi dari semakin berkurangnya luas lahan tanam nangka. Karena canopy (tutupan) tanaman yang lebar, satu tanaman nangka memerlukan lahan yang luas untuk menanamnya. Mengurangi ukuran pohon dengan “pengerdilan” dapat meminimalisir kebutuhan lahan. Pada akhirnya petani dapat menanam banyak pohon nangka dengan lahan yang tidak terlalu luas.

“Lahan-lahan untuk kebun sudah dijual. Jadi kami membuat satu pengerdilan pohon nangka meskipun lahannya gak banyak tapi bisa memproduksi banyak. Kalau tidak dikerdilkan pohonnya kan besar, kalau dikerdilkan pohon bisa ditanam lebih banyak, dan biar nama Jatiarjo untuk desa nangka balik lagi. Pingine ada satu icon seperti gawelah patung nangka,” Ujar pria yang berprofesi sebagai penyiar radio tersebut.

Merencanakan Wisata Edukasi Kopi

Selain nangka, komoditas unggulan lainnya adalah kopi. Berbagai varietas kopi dimiliki oleh Desa Jatiarjo. Jenis kopi robusta, arabika dan liberica bisa tumbuh di desa ini. Adi menjelaskan bahwa, kopi di desa ini merupakan kopi terbaik, hal itu diakui sejak zaman penjajahan Belanda.

“Sedangkan untuk kopinya memang mayoritas di sini mulai dari nenek moyang saya dulu. Di sini adalah lahan kopi yang terbaik mulai jaman Belanda. Dan orang sini juga suka minum kopi. Kopinya juga macem-macem,” ungkap Adi.

Melihat potensi dan sejarah kopi, warga bertekad mewujudkan Jatiarjo sebagai desa wisata kopi. Wisata berbasis edukasi kopi tersebut akan menyuguhkan praktik-praktik keilmuan budi daya kopi, mulai dari pembibitan, teknik budi daya, proses pengolahan kopi hingga display pemasaran kopi. Desa wisata kopi merupakan bentuk strategi masyarakat Jatiarjo dalam pengembangan pertanian sektor kopi.

“Jadi katakanlah kalau misalnya kita punya tempat 10 kali 10 (meter) dibuat model edukasi pertanian, mulai dari benih sampai menjadi bibit, sampai pasca panen. Nah, nanti juga ada tempat sendiri kayak ibarat kopi mulai dari proses yang tradisional, kalau yang tradisional kan lagi in juga. Minimal ada dua contoh, jadi ada ini yang tradisional, (ada juga) ini yang modern. Jadi ada dua jenis pembuatan pasca panen untuk menjadi bubuk,” papar Adi.

Selain edukasi pembelajaran kopi, para pengunjung juga akan dimanjakan lidahnya untuk menikmati kopi asli khas Jatiarjo. Sehingga diharapkan nantinya ada kenyamanan pengunjung ketika memasuki wisata kopi.

“Biar lebih menyentuh dibuatlah tempat minumnya juga. Artinya yo opo orang-orang ke sana itu tidak hanya sekedar belajar, tapi juga ngopine pisan, dikei plus wifi gampanganne,” ujar Adi.

Wisata edukasi kopi rencananya akan bertempat di salah satu dusun di Desa Jatiarjo guna memudahkan akses saat kunjungan. Dengan demikian para pengunjung yang ingin belajar dan melihat proses pembuatan kopi tidak perlu susah payah ke hutan.

“Ke depannya ada satu komunitas dari kelompok ini (kelompok tani Jatiarjo) yang akan membuat satu tempat khusus sebagai tempat edukasinya. Jadi kita tidak perlu ke hutan karena lahannya ada di sini (di tengah desa),” terang Adi.

Sementara itu, di sektor pemasaran masyarakat tidak mengalami banyak kesulitan. Masyarakat mengaku sudah berpengalaman dalam hal pemasaran serta promosi terkait produk kopi.

“Untuk pemasaran Insyaallah di Jatiarjo ini sudah cukup bagus karena kebetulan kayak kopi Djaran (salah satu  ini sudah sampai ke luar negeri,” tukas Adi. [Diyah]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *