Nur Hidayat, Tokoh Penggerak Petani Muda

Nur Hidayat Bersama Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf

Sore itu, kami tiba di rumah Nur Hidayat bersamaan dengan hujan deras dan angin kencang. Buruknya cuaca di luar tak mampu melunturkan rasa hangat kami. Meski baru dua kali bertemu, kami sudah saling akrab dan sering kali melempar canda tawa.

Cak Dayat, demikian warga Desa Jatiarjo akrab memanggil Nur Hidayat. Sosoknya baik, sederhana, dan berjiwa muda. Ia dikenal sebagai tokoh penggerak petani muda sejak ia berhasil membawa kelompok taninya berprestasi.

Penggerak Petani Muda

Cak Dayat lahir pada 26 Maret 1980 di Desa Jatiarjo. Di usianya yang masih tergolong muda ini, ia sudah memiliki segudang pengalaman mulai dari pertanian, hingga lika-liku kehidupan. Pengalaman itulah yang membuatnya piawai mengatur manajemen organisasi dan membagi waktu dalam aktivitasnya yang padat.

Ayah dari dua orang anak ini tergolong orang yang tak kenal lelah. Bagaimana tidak, dalam kesehariannya, selain menjadi satpam di Taman Safari Indonesia II, ia juga aktif sebagai seorang ketua di Kelompok Tani Sumber Makmur Abadi (Sumadi). Kelompok Tani ini ia dirikan bersama rekan-rekannya pada 2011 silam.

Sebagian besar anggota kelompok tani yang ia pimpin adalah para kawula muda. Mereka adalah anak-anak petani yang dalam jiwanya masih tertanam “lahan dan kebun”. Cak Dayat rela sebagian ruang di rumahnya dijadikan Sekretariat Sumadi. Baginya, berkumpul dengan anak-anak muda dan melihat mereka bergairah untuk bertani adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Wujud kesuksesan Cak Dayat dalam memimpin pemuda tani adalah munculnya tokoh yang bernama Khusairi. Rencanannya, petani berumur 24 tahun ini akan berangkat ke Jepang untuk menjalani proses magang di bidang pertanian. Berkat kontribusi Dayat, Khusairi lolos seleksi dari tingkat kelompok tani regional hingga nasional.

Kesadaran Cak Dayat dalam menggerakkan potensi generasi muda untuk bertani merupakan refleksi dari masa kecilnya. “Sejak kecil saya ikut ke ladang. Bantu orang tua tiap hari ke hutan cari-cari rumput dan kayu. Jadi sejak kecil saya sudah diajari bertani,” Ujarnya. Berawal dari situlah seorang Dayat tumbuh sebagai sosok yang bernaluri di bidang pertanian.

Baginya, organisasi kelompok tani adalah wadah untuk menumbuhkembangkan pengetahuan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa sebelum mendirikan Sumadi, ia sempat bergabung dengan bisnis pertanian Mitra Kaliandra. Namun di tengah jalan, ia merasa ada proses negosiasi antara petani dan Kaliandra yang tidak sesuai. Karena itulah ia beserta beberapa rekannya, memilih mundur dari Mitra Kaliandra dengan harapan dapat mendirikan kelompok tani yang bisa memberdayakan masyarakat.

Kegigihan dan idealisme Cak Dayat bukan tanpa latar belakang dan alasan yang mempengaruhi. Pria berwajah murah senyum ini menuturkan memiliki beberapa inspirator yang menjadi panutan.

“Saya jamaah dari habib-habib. Saya melihat ulama-ulama terdahulu. Ketika mereka terjun ke masyarakat itu mereka mengorbankan semuanya. Dan mereka tidak mengharapkan apa-apa (imbalan). Salah satu inspirator saya itu ada Habib Abu Bakar Muhammad Assegaf dari Gresik. Kemudian tokoh-tokoh NU di tempat saya, salah satunya seperti bapak saya. Di mana beliau mengikuti organisasi dengan merelakan waktunya. Lalu ada bapak Dur Rahim dia masih keluarga dengan saya.”

Ada yang unik dari kisah hidup Cak Dayat. Ia menceritakan bahwa sebagai seorang petani, keluarganya memiliki satu kitab kuno yang dijadikan dasar untuk kegiatan bertani. Dari kitab itulah ia mendapatkan pengetahuan cara bertani dengan perhitungan perhitungan berdasarkan kondisi alam dan hasil produknya berkualitas baik.

“Saya ada kitab kuno yang dipelajari dan dijadikan pegangan. Berbahasa Arab tapi membahas tentang pertanian. Itu yang menginsipirasi saya ke pertanian organik,” jelasnya.

Sumadi, Prestasi, dan Mimpi-Mimpinya

Cak Dayat memiliki mimpi agar petani dan kelompok tani bisa mandiri. Karenanya, dalam setiap program pemberdayaan dan kemitraan, kelompok tani harus menjadi subjek pembangunan agar setiap harapan dan aspirasi petani dapat terwadahi. Mimpi inilah yang juga menginsipirasi terbentuknya Kelompok Tani Sumadi yang ia pimpin hingga sekarang.

“Karena kita selalu dijadikan objek program itu, saya menyadarkan ke teman-teman. Membentuk organisasi. Kepingin tahu sebenarnya mengubah keadaan itu seperti apa. Kemudian tercetuslah ide bahwa organisasi ini nantinya harus bisa menarik aspirasi dari teman-teman yang ada di sini,” tegasnya.

Berbekal cita-cita untuk mandiri, Sumadi akhirnya berdiri dengan anggota sekitar 20-an. Secara politik, menurut Dayat, berdirinya Sumadi bisa meningkatkan daya tawar warga desa Jatiarjo. Juga dapat melindungi eksistensi dari para anggotanya. Tujuan ini memang tidak lepas dari proses penamaan Sumadi.

“Waktu itu memang dirapatkan dengan teman-teman, ada yang bilang sumber makmur, ada yang bilang abadi. Maksudnya (dari nama ini) adalah menjadi sumber penghidupan teman-teman. Menciptakan satu peluang yang berkelanjutan,” paparnya dengan berapi-api.

Masa-masa awal pembentukan Sumadi, Cak Dayat bersama rekan-rekannya menghadapi banyak tantangan. Satu di antaranya adalah membentuk kesadaran berorganisasi pada anggota.

“Kami membentuk mindset dengan ide-ide baru. Mengubah pola kebiasaan cara berorganisasi. Bagaimana organisasi ini bukan objek bantuan. Tapi kita mencari peluang usaha yang memang akan dibutuhkan di masa mendatang, salah satunya ya pertanian organik ini,” kenangnya.

Bukan Dayat jika mudah menyerah. Pria berusia kepala tiga ini terus berpikir agar organisasinya bisa berjalan sesuai mimpinya. Ia memberikan tanggung jawab kepada anggotanya berdasarkan pada naluri, minat dan bakat masing-masing. Dengan cara itu, setiap anggota akan aktif karena mereka menyukai tanggung jawabnya.

“Saya melakukan manajemen keanggotaan dan organisasi dengan menempatkan anggota sesuai dengan minat dan bakatnya. Inspirasinya, dari keluarga. Jadi keluarga saya itu memang orang-orang NU. Dengan itu, pemikiran dan tingkat yang berbeda-beda itu maka kita lihat dan cermati. Mereka kita petakan lalu tempatkan di tempat yang sesuai dengan minat masing-masing.”

Hingga kini, bisa dikatakan bahwa Sumadi merupakan kelompok tani aktif, yang mandiri dan berprestasi. Ini membuktikan bahwa kegigihan Dayat selama ini membuahkan hasil. Tak hanya prestasi, beberapa program kerjasama juga dilakukan oleh Dayat dan Sumadi membuktikan bahwa ia dan organisasinya memiliki kualitas yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Ketika ditanya tentang harapan di masa mendatang, Dayat mengaku masih memiliki cita-cita yang belum tercapai. Ia berharap masyarakat Jatiarjo bisa mengoptimalkan lahan dan tidak memperjualbelikan lahannya.

“Dengan mempertahankan lahan, masyarakat tidak kalah dengan para investor. Jadi pertanian organik ini satu jalan untuk berjuang. Bahwa kawasan sini punya nilai tawar,” tandasnya. [Luthfil]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *