Moh. Aris Fahmi : Kerja Pemberdayaan Harus Punya Tahapan yang Jelas

Aris Fahmi, salah satu fasilitator program PADI

Sosoknya low profile, pendiam namun selalu ceria saat bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya. Salah satu fasilitator lapang Program Pendidikan Agrobisnis Desa Inovatif (PADI) ini memang individu yang unik. Kerap kali, Aris membiarkan dirinya menjadi objek candaan demi menghibur dan menghangatkan suasana. Yang pasti, lajang asal Kabupaten Rembang ini memiliki pendapat yang menarik tentang pemberdayaan.

Baginya, sebuah program pemberdayaan harus memiliki tahapan yang jelas dan bisa dimengerti. “Bedanya bekerja di dunia pemberdayaan itu adalah kita tidak sekadar melaksanakan tugas atau perintah. Fasilitator  perlu memahami tahapan dan logika dari sebuah program. Dengan begitu, kita tahu bagaimana memposisikan diri secara tepat di tengah komunitas. Yo ngono pora Cak?”, terangnya sembari meminta persetujuan atas pendapatnya itu.

Aris mengaku masih minim pengalaman dalam pemberdayaan, khususnya untuk komunitas petani. Meski lahir dan dibesarkan dari keluarga petani, jebolan FISIP Universitas Brawijaya ini merasa tidak tahu banyak tentang isu-isu penting dalam dunia pertanian. Karenanya setelah terpilih sebagai bagian dari tim fasilitator PADI, Aris sangat proaktif berdiskusi dengan rekan-rekannya secara informal. Aris kerap terlibat dalam obrolan terkait dengan pengalaman, metode dan pendekatan yang biasa dipakai oleh Averroes dalam dunia pemberdayaan masyarakat.“Saya merasa mendapatkan hal baru dengan pendekatan Apresiative Inquiry  (AI) yang dipakai Averroes (dalam program PADI) ini“, aku Aris di sela sela kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitaor Program Padi di Hotel Wisata Tidar Malang (9/12) .

Meski merasa belum memahami secara detail, Aris menangkap bahwa pendekatan AI memberi ruang yang luas bagi petani untuk berdaya secara kolektif dan mandiri berbekal potensi yang sudah dimiliki. Dengan pendekatan seperti ini, Aris merasa cocok terlibat dalam program PADI. Karena menjadi fasilitator kemudian tidak harus pandai dan punya sederet pengalaman. Berbekal niat baik, semangat belajar bersama komunitas serta ketulusan yang kuat untuk menemani, Aris merasa siap menjalankan tugas yang akan dia emban.

Selain suka cengengesan (baca: senyum-senyum sendiri tanpa sebab), Aris memiliki satu sifat lagi yang menonjol, yakni tidak ekspresif saat marah. Hampir semua orang yang mengenal Aris mengaku bahwa Aris adalah sosok yang tidak suka marah. “Saya bukannya tidak bisa marah, Cak. Cuman kalau saya marah itu biasanya diam. Tak salah jika sampean menilaiku begitu. Aku ndak bisa marah-marah dengan cara selain diam. (Kemarahan) Itupun juga tidak pernah berlangsung lama kok”, seloroh Aris.

Aris merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya laki-laki. Sebagian besar masa pendidikan Aris dijalani di madrasah. mulai MI hingga MA. Nasib yang membawanya ke Kota Malang adalah masa yang paling penting dalam hidupnya. Kesempatan mengenyam pendidikan di salah satu PTN terkemuka di Malang Jawa Timur adalah sebuah capaian yang membanggakan baginya. “Mungkin dalam sejarah MA Al Huda, aku alumnus pertama yang bisa menembus Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN)”, kisahnya penuh percaya diri.

Dalam pengakuan Aris, keikutsertaannya dalam SMPTN adalah hanya iseng dan ikut-ikutan. Ceritanya, dia diajak sama teman sekolahnya untuk mengadu nasib di Malang dengan menjajal kompetisi merebut kursi di Universitas Brawijaya. Saat itu, Aris memilih jurusan sosiologi untuk pilihan pertama dan Ilmu Politik untuk pilihan kedua. Keduanya merupakan program studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Brawijaya. Ketika ditanya tentang alasan memilih jurusan itu, dengan enteng Aris menjawab, “Ya waktu itu mengalir aja. Yang ada di benakku ya (pilihan) itu”.

Penulis awalnya gemes dengan sikap Aris yang selalu menjawab pertanyaan dengan singkat dan datar. “Biasa aja, Cak”, “Mengalir ajalah, Cak”, “Apa kata nanti aja”, begitu jawabnya ketika ditanya tentang hal-hal yang bersifat pribadi. Sepertinya sikap ini berkaitan dengan falsafah hidup yang dia miliki. Aris memang memiliki prinsip hidup yang simple. Cita-cita dan obsesi pribadi -yang bagi kebanyakan orang adalah hal yang penting- baginya ternyata tidak penting. “Aku sejak dulu begini, Cak. Mengalir aja. Urip iku sing penting cukup dan barokah”, terang pria yang ternyata tahun depan harus menikah karena di-deadline oleh pacarnya ini. [Rian]

Biodata Aris

3 comments

  1. Rendra Kurniawan Reply

    Saya sangat suka dengan kepribadian Mas Aris, walaupun minim pengalaman di bidang fasilitator. Tapi dirinya adalah fasilitator terbaik yang pernah saya kenal, terutama dalam melayani keluh kesah sahabat-sahabatnya. Top, Mas Aris.

  2. Imbarothur Reply

    Mas Aris adalah sosok inspiratif. Setiap kata-katanya selalu bisa menjadi trend di kalangannya. Satu bukti bahwa Mas Aris memang sosok yang sangat menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *