Mimpi Kalipucang Lewat Kopi Robusta dan Kampung Susu

Kondisi alam yang subur membuat Kalipucang dapat ditanami berbagai jenis tanaman. Tidak hanya itu, temperatur udara, suhu dan kelembaban juga menjadikan desa ini termasuk dalam kategori desa yang layak untuk dijadikan sentra kegiatan peternakan sapi perah.

Dua hal tersebut yang menjadi perbincangan hangat pada Sekolah Inovasi Tani Indonesia (SITI) dengan tema Analisis Potensi III, Selasa (21/02/2017), di Balai Desa Kalipucang, Tutur, Pasuruan.

Adi Herwanto, salah seorang peserta SITI, menuturkan bahwa mayoritas komoditas yang paling banyak dibudidayakan di Kalipucang adalah kopi. “Kebanyakan ini tanaman pertaniannya kopi, selanjutnya ada cengkeh, pisang dan rumput. Penyebaran kopi hampir seluruh dusun di Kalipucang,” tutur pria yang akrab dipanggil Adi Her tersebut.

Hal tersebut diamini oleh Nunuk, peserta SITI dari perwakilan PKK, menurutnya, Kalipucang memiliki beberapa prioritas pembangunan. Luas lahan yang  dan hasil panen yang cukup besar menjadikan kopi layak untuk dijadikan komoditas unggulan.

“Dengan luas kopi yang hampir sekitar 60 Ha, Kalipucang sangat berpotensi untuk menghasilkan produk olahan kopi yang berkualitas, di mana produksi kurang lebih dalam satu panen 300 ton/tahun,” ujar nunuk.

Aroma dan Rasa Arobusta Kalipucang

Menurut Adi Her, Kopi di Kalipucang terdiri dari dua macam, yaitu arabica dan arobusta. Jenis kopi arobusta Kalipucang dianggap lebih nikmat dibandingkan Arabica.

“Kebanyakan kopi di Kalipucang adalah arobusta. Sebagian lainnya adalah arabica, cuma, untuk arabica kurang tinggi. Cita rasa kopi Arabica di Prigen lebih nikmat dibandingkan di sini, karena ketinggian tempatnya lebih tinggi di sana. Jadi keunggulan kopi di Kalipucang adalah arobusta,” jelasnya.

Tanaman kopi di Kalipucang
Tanaman kopi di Kalipucang

Senada dengan hal tersebut, Yayuk, peserta SITI lainnya, menjelaskan bahwa kalipucang memiliki cita rasa kopi yang berbeda dengan daerah lainnya. Ia juga mengutarakan harapannya akan keberadaan kopi tersebut.

“Cita rasa kopi di sini berbeda dengan daerah lain, terutama arobusta. Saya ingin cita rasa kopi di Kalipucang ini rasanya terkenal,”  terangnya.

Harapan Menjadi Kampung Susu

Sebagaimana yang dituliskan di artikel sebelumnya berjudul Komoditas Warisan Belanda di Kalipucang, Kalipucang memiliki bermacam potensi untuk dikembangkan. Susu semisal, yang konon menurut artikel tersebut di atas memiliki sejarah yang panjang.

Keberadaan sapi perah dengan susu memang sudah lama menjadi “teman hidup” warga Desa Kalipucang. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Nunuk, “Peternak di Desa Kalipucang ada 1160 KK. Sebagian besar masyarakat Kalipucang itu peternak. Dengan  jumlah populasi kurang lebih 2600 ekor. Produksi susu sapi sekitar 12.000 liter/hari.”

Hasil sapi perah Desa Kalipucang
Hasil sapi perah Desa Kalipucang

Lebih lanjut, Nunuk menambahkan bahwa tantangan yang ada terkait hasil susu perah adalah minimnya pengetahuan seputar olahan susu. “Hasil olahan susu kita masih belum ada dan belum bisa. Karena belum diadakannya pelatihan pengolahan susu. Maka perlu diadakannya pelatihan pengolahan susu kepada masyarakat secara merata,” imbuhnya.

Besarnya potensi tersebut membuat masyarakat optimis memandang masa depan peternakan sapi perah di Kalipucang. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dwika Mayangsari, peternakan sapi perah adalah aset lain yang dimiliki oleh Kalipucang. Karenanya, menjadikan Kalipucang sebagai kampung susu bukanlah kibulan semata.

“Potensi peternakan yang besar di Kalipucang menjadikan desa ini ke depan layak untuk dijadikan wisata edukasi kampung susu,” kata gadis berkaca mata tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *