Merumuskan Strategi Pengembangan Komoditas Salak Wonosari

Lilik Saat Diskusi Perumusan Strategi Pengembangan Komoditas Salak

Para petani Desa Wonosari membincang strategi pembangunan pertanian desa. Itulah yang terjadi di kelas Sekolah Inovasi Tani Indonesia (SITI) pada Selasa (15/02/2017). Mulai dari analisis potensi desa, strategi pengembangan potensi, hingga tantangan yang kemungkinan terjadi, semua ditulis dan didiskusikan dalam suatu kerangka pemetaan yang lengkap dan rinci.

Lilik Handayani, salah seorang warga yang juga menjadi peserta SITI mengaku terkejut setelah dilangsungkannya forum ini. Ia baru menyadari bahwa desanya memiliki keragaman dan kekayaan potensi yang sangat melimpah.

Ia menyatakan bahwa masyarakat belum menyadari potensi komoditas pertanian yang mereka hasilkan sendiri. Selama ini para petani hanya terpaku pada budi daya saja. Setelah panen, hasil pertanian langsung dijual kepada tengkulak. Padahal banyak potensi desa yang bisa saling dihubungkan untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Baginya, petani tidak hanya bisa menjual salak dalam bentuk buah.

“Salak ini bisa dibuat beraneka macam olahan seperti jenang, sirup atau keripik,” tuturnya pada saat presentasi hasil analisis potensi.

Melalui forum ini, ditemukan pula potensi yang bisa mendukung upaya pembangunan sektor pertanian. Potensi-potensi yang sekilas tidak memiliki keterkaitan dengan sektor pertanian justru bisa dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan sektor ini. Potensi sumber daya manusia misalnya, warga yang tidak memiliki lahan salak namun hobi memasak bisa memproduksi makanan berbahan baku salak. Warga yang berprofesi sebagai pedagang pun bisa ambil bagian untuk menjual aneka makanan olahan salak.

Selain potensi sumber daya manusia, masyarakat juga menemukan potensi lain terkait dengan lokasi desa yang strategis. Lokasi Wonosari yang berdekatan dengan wilayah kota sekaligus menjadi jalur wisata menuju Gunung Bromo, dinilai sangat menguntungkan untuk menjual produk oleh-oleh wisata.

Tiga Poin Strategi Pembangunan Pertanian

Di dalam presentasi tugas kelompoknya, Lilik juga menyampaikan tiga poin penting dalam strategi pembangunan pertanian yang disusunnya bersama-sama warga lain.

Pertama, pembekalan masyarakat desa terkait ilmu budi daya. Ia menjelaskan bahwa petani memang sudah berpengalaman dalam menanam salak. Namun demikian, jika hasil panennya dihitung secara serius maka akan diketahui bahwa hasil panen salak di desa ini tergolong masih rendah.

“Untuk dijadikan (bahan baku) olahan pangan masih saja kurang. Petani juga butuh ilmu budi daya yang baik dan benar, agar hasil panen juga semakin,” tutur ibu dari dua orang anak ini.

Selain ilmu budi daya, keterampilan mengolah buah salak menjadi produk bentuk lain juga harus diberikan. Menurutnya, dengan mengolah buah salak menjadi jajanan, petani bisa mendapatkan keuntungan lebih.

Kedua, petani membutuhkan peralatan dan perlengkapan dalam rangka menyokong aktivitas produksi. Alat-alat produksi menjadi hal utama dalam bisnis olahan makanan. Peralatan semacam facum frying dinilai oleh para petani desa ini sebagai barang yang terlalu mahal untuk dibeli.

“Harganya dua puluh juta, terus yo opo?” ungkapnya sambal tertawa bersama rekan-rekan kelompoknya.

Pada poin ketiga, Lilik mencoba menggarisbawahi tentang pembentukan karakter gotong royong dan mental bisnis. Baginya, masyarakat cenderung takut untuk memulai bisnis baru. Mengenai hal ini, Lilik mencoba untuk memotivasi rekan-rekannya.

“Kita harus mencoba, karena kita tidak tahu sebelum kita mencoba,” tandasnya dengan penuh semangat.

Memulai Usaha Olahan Salak

Sebagai contoh sekaligus bahan refleksi, Lilik mencontohkan upayanya dalam memulai bisnis pengolahan salak. Meskipun sedang mandek karena kendala kekurangan bahan baku, ia sempat mengolah salak menjadi jenang. Usaha itu dijalaninya pada tahun 2014 hingga tahun 2015.

Ia menyayangkan ketika usahanya terpaksa ia hentikan. Meski sedang tidak berproduksi ia masih optimis untuk melanjutkan usaha ini lagi. Menurutnya usaha olahan salak memiliki peluang besar di pasaran.

“Pasar untuk produk-produk olahan salak ini banyak sebenarnya. Pasuruan punya banyak tempat wisata seperti Pandaan dan Prigen. Kita bisa titip di toko-toko di pinggir-pinggir itu,” jelas perempuan yang juga menggeluti profesi sebagai pengrajin batik ini.

 Tantangan yang Harus Dilalui

Tantangan yang dialami Lilik dalam menjalankan usahanya berada pada ranah produksi dan pemasaran. Dari segi produksi, ia merasa kesulitan untuk mempertahankan kontinuitas pasokan bahan baku salak. Hal tersebut tidak terlepas dari sifat salak yang hanya berbuah dua kali dalam satu tahun.

“Salak berbuah dua kali setahun. Nah yok opo carane nak lagi gak panen produksi ini tetep jalan,” katanya memancing ide dari rekan-rekannya.

Dalam hal pemasaran, selama ini juga masih menjadi tantangan nyata bagi usaha pengolahan salak. Lilik menyadari bahwa  banyak sekali saingan di pasar yang menjual produk yang sama, dan itulah tantangan yang harus dilalui.

Sebagai ketua PKK, Lilik berharap, dengan berkembangnya produksi olahan salak nantinya mampu memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga petani. dengan demikian secara ekonomi, kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan. [Seno]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *