Menimbang Asa Petani Salak Wonosari

Khanafi, Kaur Pertanian Desa Wonosari Pasuruan

Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan memang masyhur sebagai wilayah penghasil salak. Selain Desa Kresikan, Desa Wonosari juga dikenal khalayak menjadi penghasil salak. Beberapa petani salak Desa Wonosari, kini mulai memproduksi jenang salak.

Selain tanaman padi dan palawija, warga di Desa Wonosari juga memiliki tanaman salak. Hampir semua rumah memiliki pohon salak yang ditanam di pekarangan atau tegalan yang letaknya tidak jauh dari rumah. Kondisi tanah dan cuaca di desa ini rupanya cocok untuk budi daya salak.

Tanaman salak di desa ini bisa panen dua kali dalam setahun. Uniknya, panen raya salak tidak bisa ditandai dengan penanggalan Masehi. Waktu panen raya hanya bisa diprediksi dengan acuan penggalan Jawa atau Hijriah. Panen raya salak biasanya terjadi pada bulan Mulud dan Syawal. Pada bulan-bulan tersebut, jumlah salak di desa ini sangat berlimpah.

“Biasanya pas peringatan Muludan (hari lahirnya Nabi Muhammad) dan pas Hari Raya Idul Fitri, salak menjadi suguhan bagi para tamu, karena pas waktu itu salak sedang banyak-banyaknya,” ujar Hanafi, salah seorang petani salak sekaligus Kepala Urusan Pertanian Desa Wonosari.

Sajian salak pada saat berlangsungnya acara Maulid Nabi dan Idul Fitri seolah menjadi kewajiban setiap keluarga. Sehingga masyarakat merasa kurang lengkap jika saat pada bulan tersebut tidak menyajikan salak. Menurut Hanafi, pada 2015 kemarin salak mengalami gagal panen dikarenakan musim yang tidak menentu. Sebagian masyarakat yang cenderung sudah fanatik terhadap salak, harus merogoh sakunya lebih dalam untuk membeli salak.

Bagi masyarakat Wonosari, salak sudah menjadi bagian hidup dan identitasnya. Pada awalnya salak hanya dikonsumsi sendiri dan menjadi hidangan para tamu. Masyarakat di desa ini sangat bangga apabila bisa memberikan hidangan salak, apalagi bisa memberikan oleh-oleh kepada para tamu yang datang ke rumahnya.

Belakangan, banyak orang yang mengatakan bahwa salak Wonosari memiliki cita rasa yang khas, berbeda dengan salak yang dijual di pasaran. Salak Wonosari terkenal manis keasam-asaman. Kombinasi manis dan asam yang terkandung dalam Salak Wonosari dirasa pas oleh masyarakat penikmat buah. Selain itu salak yang dihasilkan dari desa ini juga lembut tekstur daging buahnya.

Menurut Gufron, salak Kresikan terlalu manis rasanya dan cenderung berair. “Terlalu manis dan berair menjadikan salak Desa Kresikan kurang enak dimakan”, jelas anggota kelompok tani ini.

Rupanya pemberian salak sebagai oleh-oleh kepada sanak keluarga tersebut, menjadikan orang lain semakin penasaran dengan salak Wonosari. Mengingat permintaan salak Wonosari di pasaran semakin tinggi, maka masyarakat mulai membudidayakan salak sebagai tambahan penghasilan.

Belakangan salak Wonosari tidak hanya dijual dalam bentuk buah, namun sudah ada beberapa orang yang mencoba mengolah salak menjadi jenang salak dan beberapa produk lainnya.

Pasangan suami istri Roni dan Lilik adalah salah satu keluarga yang telah mengolah salak menjadi jenang. Pasangan ini mengolah salak dengan cara-cara tradisional. Cara mengolah salak menjadi jenang ini mereka dapatkan dari orang tua mereka yang sejak lama memproduksi jenang salak.

Inisiatif  untuk mengolah salak menjadi jenang ini berawal dari keaktifan Lilik dalam kegiatan PKK. Selain karena kemampuan mengolah salak yang didapatkan secara turun-temurun, Lilik juga mendapat tambahan pengetahuan mengenai pengolahan salak dari pelatihan pelatihan PKK yang diselenggarakan oleh Kecamatan.

Selain pemasaran secara konvensional, Roni dan Lilik mencoba membuat terobosan dalam memasarkan jenang salak. Media online menjadi salah satu cara pasangan ini mengenalkan dan menjual jenang salak pada ruang yang lebih luas. Dari media inilah jenang salak hasil produksinya mulai dikenal banyak orang. Permintaan pasar akan jenang salak semakin hari semakin banyak.

Usaha yang dirintis pada 2015 silam ini telah mengantongi Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dari pemerintah kabupaten. Pada 2015, usaha ini terpaksa tidak berjalan sebagaimana tahun sebelumnya. Cuaca yang tidak menentu membuat gagal panen. Ujungnya, terjadi kelangkaan bahan baku.

Meski demikian, pasangan suami istri tersebut optimis pada tahun-tahun mendatang bisa melanjutkan usahanya. Mereka berharap bisa mendapatkan pelatihan dalam meningkatkan kemampuan memproduksi, manajemen usaha, pengemasan hingga pemasaran. [Very]

Gambar: Khanafi, Kaur Pertanian Desa Wonosari
Sumber: wartabromo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *