Mengawali Munculnya Partisipasi

Partisipasi Wanita Tani Desa Jatiarjo Prigen Pasuruan

“Pertanian itu sangat seksi, bukan hanya masalah on farm-nya, namun lebih kepada bagaimana menjadikan para petani berdaya.”

Begitu penilaian Willy Bayu Kurniawan, mantan fasilitator Program Upaya Khusus (Upsus) Swasembada Pangan Kementerian Pertanian, terhadap dinamika pertanian Indonesia dalam sebuah obrolan santai. Ia mencoba menggambarkan upaya pemberdayaan petani yang semakin gencar dilakukan oleh beberapa lembaga dan pemerintah beberapa tahun terakhir.

“Dapat dilihat sendiri sekarang setiap ada majalah pertanian selalu memuat upaya pemberdayaan petani, ini menunjukkan bahwa perhatian ke sana akhir-akhir ini dapat dikatakan lebih-lebih,” lanjutnya.

Pemberdayaan menurut Simon (1993), merupakan suatu aktivitas refleksi, suatu  proses yang  mampu diinisiasikan dan dipertahankan oleh agen atau subyek yang mencari kekuatan atau penentuan diri sendiri (self-determination). Selanjutnya, Sulistiyani (2004) menjelaskan lebih rinci bahwa pemberdayaan berasal dari kata dasar “daya” yang berarti kekuatan atau kemampuan. Bertolak dari dua pengertian tersebut, maka pemberdayaan dimaknai  sebagai proses untuk memperoleh daya, kekuatan atau kemampuan, dan atau proses pemberian daya, kekuatan atau kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.

Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa menjelaskan “Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat Desa.”

Keberhasilan pemberdayaan masyarakat tani tidak dapat dicapai dengan hanya dengan mengandalkan pengetahuan atau pengalaman dari lembaga atau perintis program. Justru, tingkat partisipasi petani dalam memberdayakan dirinya sendirilah yang menjadi kunci kesuksesan suatu program pemberdayaan petani.

Berpijak pada pandangan di atas, Pendidikan Agrobisnis Desa Inovatif (PADI) berupaya menerapkan prinsip partisipasi, keterbukaan dan inklusi, serta menempatkan setiap orang sebagai sumber belajar berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Setiap orang adalah sumber ilmu, dan sangat penting partisipasinya dalam proses pemberdayaan terlepas apapun dan bagaimanapun status orang tersebut.

Mengapa Partisipasi Masyarakat Menjadi Sangat Penting?

Dalam undang-undang desa, dijelaskan bahwa fungsi dari pengaturan desa adalah untuk mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa untuk pengembangan potensi dan Aset Desa guna kesejahteraan bersama.

Sekali lagi partisipasi masyarakat Desa dalam mengembangkan potensi dan aset desa dipandang sangat penting untuk menimbulkan dampak kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa.

Conyers (1991) menjelaskan terdapat tiga alasan yang membuat mengapa partisipasi masyarakat penting dalam proses pembangunan. Tiga alasan itu sebagai berikut:

  1. Partisipasi masyarakat dapat menjadi “telinga” untuk memperoleh informasi mengenai kondisi, permasalahan dan kebutuhan masyarakat

  2. Efektivitas dan efisiensi dari program atau proyek pembangunan akan lebih mudah dicapai, apalagi dalam kondisi kontribusi masyarakat dapat mengurangi beban biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu implementasi pembangunan

  3. Partisipasi secara etik-moral merupakan hak demokrasi bagi rakyat, sehingga dengan partisipasi yang maksimal pemerintah sudah otomatis meredam potensi resistensi dan proses sosial bagi efek-efek samping pembangunan.

Melibatkan masyarakat secara aktif dan partisipatif dalam upaya pemberdayaan merupakan praktik yang “gampang-gampang susah”. Kendala utama yang umumnya menghalangi tercapainya sebuah masyarakat yang aktif dan partisipatif adalah pola komunikasi di awal program. Fasilitator harus bisa memilah dan menentukan metode pendekatan dalam menjaring partisipasi masyarakat. Fasilitator harus piawai mendorong masyarakat untuk mau dan mampu menyampaikan apa yang ada di dalam benak pemikiran mereka.

Pada saat sosialisasi program PADI, para fasilitator mencoba untuk memancing agar para peserta (yang kebanyakan adalah warga desa dan merupakan petani) untuk mengungkapkan strength (kekuatan), weakness (kelemahan), opportunity (peluang) dan treat (ancaman) dari desa masing-masing.

Melalui proses dengar pemikiran ini, Jamroni, warga desa Wonosari mengungkapkan bahwa, potensi desa Wonosari terletak pada komoditas buah-buahan terutama salak, nangka dan pisang. Sebagai warga pendatang, Ia pernah berinisiatif untuk mengolah salak menjadi jenang salak namun usahanya terkendala oleh bahan baku, modal, peralatan dan pemasaran yang tidak luas.

Teknik lain untuk mengetahui keinginan dan harapan para petani adalah dengan meminta para peserta menulis harapannya pada selembar kertas. Cara ini dilakukan untuk “manambal” kekurangan penggalian gagasan dengan metode komunikasi oral. Kertas tersebut digunakan sebagai alat untuk menyampaikan keinginan, aspirasi dan harapan para peserta terhadap Program PADI. Selain berpegang pada hasil penelitian assessment yang telah dilakukan selama satu bulan, program PADI juga berpegang pada aspirasi masyarakat yang digali melalui forum sosialisasi ini. [Seno]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *