Mengarusutamakan Potensi Petani

Petani Sedang Berpikir via: tabloid-desa.com

Selain berbagai alasan dan latar belakang, Workshop Program yang diselenggarakan pada 29-30 November 2016 lalu, menemukan beberapa simpul yang menyebabkan berlarut-larutnya permasalahan di sektor pertanian, diantaranya:

  1. Pemerintah kurang berpihak pada petani.
  2. Kurangnya dukungan dari departemen lain (selain dinas/ kementerian pertanian).
  3. Kepemilikan lahan petani yang sempit, dan
  4. Berbagai macam statement tentang alasan lambannya gerakan pembangunan pertanian di Indonesia.
  5. Hal yang jarang diungkapkan adalah masalah strategi pendekatan pemberdayaan petani.

Khusus untuk poin terakhir, perlu diingat bahwa petani adalah organ hidup. Bukan benda mati yang boleh digeser-geser ke sana ke mari oleh pemerintah ataupun NGO. Maka cara terbaik untuk memberdayakan petani adalah mengapresiasi seluruh potensi dan pengetahuan yang telah dimiliki oleh petani. Hasil dari cara pandang positif terhadap petani ini adalah, meningkatnya kemampuan petani dalam menemui, mengenali serta menganalisis potensi yang mereka miliki. Berikut adalah tujuh potensi yang melingkupi petani yang terinspirasi dari tujuh aset desa menurut FPPD (2014):

  1. Potensi Sumber Daya Manusia

Potensi sumber daya manusia adalah keahlian yang dimiliki oleh para petani baik dalam teknologi pertanian maupun yang berkaitan dengan pemikiran. Sumber daya manusia ini pada dasarnya adalah milik individu, tetapi masyarakat secara komunal dapat memanfaatkan keahlian tersebut. Misalnya kelompok tani atau pemerintah desa dapat menyelenggarakan sekolah pertanian dengan memanfaatkan keahlian salah satu anggota yang telah terbukti sukses melakukan inovasi.

  1. Potensi sumber daya alam

Sumber daya alam misalnya berbentuk lahan, kesuburan tanah, sumber air, sinar matahari, dan pohon. Sumber daya alam adalah sumber-sumber yang berkait dengan lingkungan alam baik udara, tanah maupun air yang memberikan penghidupan bagi petani.

  1. Potensi Sosial

Potensi sosial berkaitan erat dengan kolektivisme dan kebersamaan yang memungkinkan berpengaruh secara politik, sehingga sering disebut juga sebagai potensi sosial dan politik. Contoh potensi sosial adalah kelompok keagamaan semacam NU, Muhammadiyah, Kelompok Pemuda Gereja, Jamaah Sholawat dan sebagainya.

 

  1. Potensi Finansial

Potensi finansial adalah segala sesuatu yang bisa dijual, atau dimanfaatkan untuk menjalankan usaha. Kemampuan untuk memperbaiki cara-cara menjual barang sehingga bisa mendapatkan uang dan menggunakan apa yang ada secara lebih bijak, juga bisa dikategorikan sebagai potensi finansial.

Hal yang berkaitan lebih langsung dan nyata dengan potensi finansial potensi finansial juga bisa berupa sumber-sumber keuangan seperti tabungan, kredit dan bantuan keuangan.

  1. Potensi Fisik

Misalnya dalam bentuk alat-alat pertanian, gedung pertemuan. Potensi fisik bisa juga disebut sebagai infrastruktur dasar (baik berupa transportasi, maupun komunikasi), peralatan produksi dan alat-alat yang bisa mendorong warga meningkatkan produktivitasnya.

  1. Potensi Kelembagaan

Potensi kelembagaan berbentuk badan-badan atau organisasi yang memiliki hubungan dengan petani, misalnya kelompok tani, Gapoktan, Himpunan Petani Pengguna Air (HIPPA). Contoh-contoh ini biasanya memang disebut potensi sosial karena berkait dengan komunitas dan bisa disebut potensi kelembagaan bila disponsori atau didanai oleh pemerintah.

  1. Potensi Spiritual Budaya

Potensi ini berkaitan dengan nilai-nilai yang penting dan menggairahkan hidup seperti nilai keimanan, kerelaan untuk berbagi dan kegotong-royongan. Ketiga konsep tersebut memiliki peran yang sama dalam mendorong pencapaian cita-cita menuju kehidupan dan kesejahteraan petani yang lebih baik.

Pemberdayaan petani berbasis potensi yang diarusutamakan oleh Averoes ini berupaya mengajak warga dan masyarakat desa menggali dan menemukan potensi yang mereka miliki untuk dapat dikembangkan demi peningkatan kesejahteraan. Tentu sudah menjadi kesadaran bersama bahwa potensi adalah kekuatan yang sudah dimiliki, namun belum dimanfaatkan secara optimal dan belum disadari bahwa potensi tersebut dapat bermanfaat untuk meraih cita-cita pembangunan. Averroes berharap bahwa catatan ini menjadi reminder notes (pengingat) bahwa siapa pun, kapan pun dan dimana pun tempatnya, selalu memiliki potensi. Kesadaran untuk memanfaatkan potensi adalah sebuah pembahasan lebih lanjut setelah kesadaran akan adanya potensi terbahas secara tuntas. [Nasrun]

Sumber gambar: Tabloid-DESA.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *