Mendayagunakan Aset dan Potensi untuk Kemajuan Desa

Kelas Analisis Potensi kegiatan Program Agrobisnis dan Agrowisata Desa Inovatif (PADI) 2018-2019 di Desa Gerbo diselenggarakan pada 8-9 Desember 2018 lalu. Kegiatan kelas pelatihan analisis potensi ini menghadirkan narasumber yakni Rurid Rudianto. Pada forum ini peserta diajak untuk mengenali lebih banyak mengenai potensi desanya yang bisa dikembangkan, khususnya pada sektor agrobisnis dan agrowisata.

Pada hari pertama Rurid yang mengajak peserta untuk melakukan permainan analogi. Secara berelompok peserta diberi instruksi untuk menjaga telur agar tidak pecah dan retak saat dijatuhkan. Bagaimana caranya? Telur tersebut dibungkus dengan bahan-bahan pelindung seperti selotip dan sedotan. Kelompok peserta saling berdiskusi untuk menyusun strategi agar telur terbungkus dengan kuat dan tidak pecah saat dijatuhkan. Seusai telur seluruh kelompok terbungkus, perwakilan peserta diminta menjatuhkan telur dari ketinggian kurang lebih dua meter. Hampir seluruh telur milik kelompok peserta pecah serta retak.

Pada percobaan permainan kedua, Rurid memberikan petunjuk mengenai cara agar telur tidak pecah saat dijatuhkan. Ternyata, diperlukan strategi serta logika untuk menyiasatinya. Permainan itu, rupanya merupakan analogi dari dua hal yakni aset dan pendukung. Telur disini merupakan gambaran dari aset yang harus dijaga sedangkan sedotan, selotip, serta kemampuan manusia dalam berkoordinasi, menyusun strategi merupakan pendukung. Hal ini berkaitan dengan materi analisis potensi desa yang akan membuka pengetahuan bagi masyarakat peserta program bahwa seluruh aset dan potensi di desa jika dimanfaatkan dapat memberikan keuntungan untuk masyarakat, sebagai misal menaikkan taraf hidup masyarakat dan keuntungan bagi desa.

Kelak pembangunan desa bersifat mandiri. Dana dari pemerintah merupakan stimulus untuk mengelola aset, melaksanakan pembangunan baik fisik maupun non fisik. Terhadap peserta PADI di Desa Gerbo Rurid Rudianto memaparkan paradigma peraturan desa lama dan baru. Secara ringkas, perbedaan itu terdapat pada peraturan yang diacu. Kini, peraturan desa baru mengacu pada UU No.6 tahun 2014 tentang desa yang berasaskan rekognisi dan subsidaritas.

Terdapat 9 aset dan potensi yang bisa dikembangkan. (1) Sumber Daya Manusia, (2) Sumber Daya Alam, (3) Sosial, seperti gotong-royong, kerja bakti, (4) Kelembagaan, Karang Taruna, LSD, BUMDES, Kelompok Tani, organisasi olahraga, organisasi pemuda, (5) Spiritual dan budaya, seperti hubungan antara manusia dengan Allah, dengan lingkungan, melakukan selamatan desa, (6) Financial/keuangan, baik keuangan desa atau masyarakat, (7) Informasi dan Jaringan, harus dimanfaatkan baik dari dalam maupun dari luar, (8) Infrastruktur, berupa fisik seperti jalan,jembatan, bangunan publik, rumah-rumah warga, (9) Komoditas Pertanian, seperti kopi, kelapa, padi, pisang, durian, ketela, jamur, sayur mayur, susu sapi.

Setelah pemaparan materi pengetahuan mengenai aset dan potensi desa, dilakukan simulasi penyusunan aset dan potensi desa oleh peserta. Terlebih dahulu peserta dibagi per dua dusun yang saling berdekatan. Dengan demikian, terdapat tiga kelompok yakni kelompok Dusun Tengah dan Lorkali, Dusun Pagergunung dan Kejoren, dan Dusun Jajang dan Rojopasang. Setiap kelompok menyusun dan mendata ke sembilan aset di tiap dusun berdasarkan pengetahuan mereka.

Adapun agenda kelas pelatihan di kelas hari kedua adalah peserta meninjau kondisi lapangan aset yang telah didata di hari sebelumnya. Setiap kelompok akan melakukan proses dokumentasi : (1) Turun ke Lapangan (Dusun), (2) Melakukan interview mendalam, (3) Mengambil foto kegiatan, (4) Mengidentifikasi potensi strategis dan potensi pendukung.

Menarik, hasilnya peserta berupaya semakin memahami potensi desa dan menemukan hal yang selama ini mereka hanya sekedar mengetahui saja. Mereka menemukan potensi di Dusun Kejoren dan Pagergunung, diantaranya: di bidang agrobisnis terdapat produk olahan pertanian seperti  produsen nasi jagung (gerit), petulo dan samiler yang terbuat dari singkong, sedangkan wisata ada mata air grenjengan dan sumber songo. Di Dusun Tengah dan Lorkali, terdapat potensi aneka kripik buah. Di Dusun Rojopasang dan Jajang, terdapat potensi peternakan susu sapi perah.

Keseluruhan potensi tersebut masih bisa dikembangkan lagi. Dari sembilan potensi itu akan dibagi menjadi potensi strategis. Potensi strategis adalah apa yang kita punya dan orang lain tidak punya.  Apabila sudah ada potensi strategis bukan berarti potensi yang lain tidak digunakan, tetapi menjadi potensi pendukung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *