Mencintai Pekerjaan Adalah Kunci Keberhasilan

Berdiskusi dan Menulis Ilustrasi. Suroidah dan Dua Rekannya Sedang Melakukan Analisis Potensi Pertanian Wonosari

Suroidah, salah satu perempuan Desa Wonosari yang menekuni pekerjaan sebagai pengrajin batik. Kisahnya diceritakan dalam Musyawarah Analisis Potensi Desa Wonosari pada Rabu (01/02/2017). Ia membuktikan bahwa wanita juga mampu ikut andil dalam menopang perekonomian keluarga.

Menekuni usaha batik, ibu dua orang anak ini berusaha menjadikan kehidupan keluarganya menjadi lebih layak. Mulanya ia membatik hanya sebagai kegiatan mengisi waktu luang. Menurutnya daripada menganggur, berkumpul bersama teman-teman dinilai lebih baik dan menyenangkan.

Bersama 20 perempuan lainnya, warga Dusun Wonosalam RT 02 RW 03 Desa Wonosari ini mulai belajar menjalankan usaha produksi batik. Berawal dari stimulus Program Nasional pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri), hingga sekarang, usaha batik itu perlahan-lahan mulai berjalan.

“Pertama kali pelatihan PNPM Mandiri itu Mbak. Berawal dari pelatihan PNPM Mandiri bulan Desember 2013 – Januari 2014. Sebenarnya ini kan kelompok, pertama kali belajar itu ada 20 orang, tetapi yang aktif sampai saat ini 10 orang,” paparnya saat ditemui di sela musyawarah yang diselenggarakan di Balai Desa Wonosari tersebut.

Ia menjelaskan peran program pelatihan sangat sentral bagi usaha batik yang digelutinya. Pendampingan yang diberikan hingga saat ini masih terus masif dilakukan. Tidak hanya membantu dalam proses produksi, proses pendampingan juga dirasa membantu dalam proses pemasaran. Menurut penilaiannya, proses pendampingan yang baik adalah yang berkelanjutan dalam kurun waktu yang relatif panjang.

“Yang mendampingi batik itu tetap mendampingi sampai sekarang,” sambungnya.

Ia memaparkan bahwa usaha batik yang digeluti bersama perempuan dusunnya sering mendapatkan order dari pasar lokal. Dari situlah produksi batik tersebut mampu bertahan hingga saat ini.

“Ini bukan hanya produksi (untuk kebutuhan) sendiri, tapi juga ada orderan dari Kotamadya (Kota Pasuruan). Jadi bisa lanjut terus,” ujarnya sambal tersenyum.

Meski terlihat lancar, bukan berarti usaha batik di desa ini tidak menghadapi tantangan. Tantangan utama yang mereka hadapi adalah minimnya ketersediaan bahan baku produksi. Bahan baku kain belum tersedia di wilayah Pasuruan. Selama ini mereka mengatasi kekurangan bahan baku dengan mendatangkannya dari Surabaya atau Malang. Selain kota-kota tersebut secara lokasi berdekatan dengan Pasuruan, harga bahan-bahan yang lebih terjangkau menjadi alasan mengapa mendatangkan bahan baku produksi dari kedua kota tersebut.

Kendala dan tantangan yang dihadapi oleh para pengrajin batik tidak lantas menyurutkan semangat. Suroidah dan perempuan-perempuan tangguh lainnya tetap menekuni pekerjaan membatik. Bagi mereka bekerja tidak boleh dipisahkan dari proses belajar. Selain itu, mencintai pekerjaan adalah sebuah kunci dalam meraih keberhasilan.

Ketika ditanya apa yang membuat Suroidah bertahan membatik sampai sekarang, ia menjawab, “Senang saja, Jenenge sak kelompok kan pasti onok saut-sautan, engko sadar dewe kabeh.”

Suroidah mengaku mendapatkan banyak manfaat dari usaha membatik. Manfaat tersebut antara lain pengalaman usaha dan keterampilan mengembangkan usaha. Dari usaha batik ini, Suroidah dan perempuan lainnya mampu mendapatkan penghasilan tambahan.

“(Penghasilan dari usaha batik) lumayan mbak, untuk membeli belanja keluarga,” tukasnya. [Diyah]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *