Manfaatkan Potensi Rencanakan Wisata Kampung Kopi

Renza Saputra Saat Memeragakan Penyajian Kopi

Jatiarjo dikenal masyarakat luas sebagai desa yang dilalui jalur wisata. Meski demikian, desa ini bukan merupakan desa wisata. Spirit untuk “menjadi tuan rumah di desanya sendiri” telah mendorong masyarakat untuk merencanakan konsep wisata kampung kopi.

Masyarakat berkomitmen untuk memanfaatkan semua potensi yang ada di desa guna mendukung terwujudnya wisata kampung kopi. Perwakilan masyarakat yang tergabung dalam peserta Sekolah Inovasi Tani memulai aktivitas perencanaan wisata kampung kopi dengan mengidentifikasi sembilan aset dan potensi desanya.

Bertempat di Rumah Jamur Desa Jatiarjo, para peserta sekolah ini melakukan penyelarasan akhir dokumen analisis potensi desa yang telah disusun selama satu bulan. Dokumen ini nantinya dijadikan bahan oleh masyarakat untuk berkomunikasi dengan pemerintah desa dan pihak-pihak lainnya. Acara yang diselenggarakan pada Senin (20/02/2017) ini juga membahas persiapan pelaksanaan musyawarah desa untuk pengarusutamaan rencana wisata kampung kopi.

Tantangan dan Strategi

Meski kopi sudah sejak lama menjadi tumpuan hidup masyarakat Jatiarjo, masih ada sebagian masyarakat yang belum memahami seluk beluk budi daya dan pengolahan kopi. Renza Saputra, salah seorang tokoh pemuda Jatiarjo menyatakan bahwa secara umum masyarakat masih perlu banyak belajar untuk menyongsong rencana Jatiarjo sebagai kampung wisata wisata kopi. Selain itu, peralatan pengolahan modern juga diperlukan untuk efektivitas pengolahan.

“Orang-orang di sini masih pada bingung bagaimana mengeringkan kopi selain dijemur. Kalau musim hujan kan tidak bisa jemur kopi, Mas,” katanya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Harno, ketua BPD Jatiarjo yang juga hadir berkomentar bahwa sebenarnya sudah ada seperangkat alat pengolahan kopi, termasuk alat pengeringan. Namun demikian, alat tersebut masih disimpan oleh pemerintah desa sembari menunggu kesiapan tempat yang pengadaannya diserahkan pada masyarakat.

“Pada aset fisik, terdapat pula alat pengolahan kopi. Alat ini berasal dari pemerintah pusat untuk kelompok tani yang diberikan melewati desa. Pemerintah desa berharap kelompok tani bisa menyiapkan tempat untuk pemanfaatan peralatan ini. Karena alat ini tidak boleh dipisah-pisah,” jelasnya.

Harno mengapresiasi semangat dan antusiasme para peserta SITI yang sebagian besar adalah para pemuda tersebut. Ia berharap bahwa pemuda Desa Jatiarjo bisa bersinergi dengan pemerintah desa. Sebagai BPD, ia berkomitmen untuk menyambungkan harapan dan usulan masyarakat dengan perencanaan yang disusun oleh pemerintah desa.

“Saya mohon kepada teman-teman. Sampean buat proposal anggaran untuk kegiatan pemuda ini nanti saya yang akan mengawal untuk masuk di APBDesa,” harapnya.

Mengenai peluang pasar kopi, ia juga memberikan gambaran positif pada para peserta Sekolah Tani. Menurutnya, perusahaan wisata yang berdiri di desa ini bersedia menampung produk yang dihasilkan masyarakat Jatiarjo.

“Perusahaan wisata yang ada di desa ini akan mengakomodir kegiatan pemuda yang ada hubungannya dengan souvenir. Termasuk salah satunya adalah kopi. Mereka juga siap menampung produksinya anak-anak, mau dipajang dan dijualkan di sana,” ujarnya.

Tiga Ranah Pengetahuan Kopi

Tak hanya menyelaraskan dokumen dan merencanakan musyawarah desa. Forum ini juga berusaha merencanakan muatan kurikulum pelatihan inovasi produksi pasca panen.  L. Riansyah didapuk untuk menjadi fasilitator pada sesi ini. Dengan menggunakan metode Jauhari Window, Rian mengajak peserta untuk mengidentifikasi pengetahuan yang sudah dimiliki oleh masyarakat secara keseluruhan, pengetahuan yang diketahui sebagian orang namun tidak diketahui sebagian yang lainnya serta pengetahuan yang benar-benar belum diketahui oleh seluruh masyarakat Jatiarjo.

Dari klasifikasi tersebut, diketahui bahwa cara perawatan pohon kopi, pengolahan tanah dan proses panen kopi adalah pengetahuan bersama yang telah dimiliki oleh seluruh masyarakat Jatiarjo. Adapun pengetahuan yang dimiliki oleh sebagian orang saja meliputi pembibitan kopi, identifikasi ranting ular (ranting jantan), jenis varietas kopi, cara stek pohon kopi, pengemasan olahan kopi dan strategi pemasaran.

Pengetahuan yang dimiliki oleh sebagian orang nantinya akan didokumentasikan. Hasil dokumentasi tersebut akan menjadi alat belajar bagi peserta yang belum memahami dan bagi masyarakat luar Jatiarjo.

“Tidak perlu ada kelas khusus, nanti kita bikin video tentang pengetahuan sebagian orang ini salah satunya penyemaian kopi. Dengan begitu video bisa diputar atau kita unggah secara online sehingga tidak perlu pelatihan khusus mengenai hal ini. Setiap orang sudah bisa belajar dari video yang akan kita buat tersebut,” papar Riansyah.

Mengenai pengetahuan yang belum dimiliki oleh warga Jatiarjo, forum ini meyimpulkan beberapa temuan. Pertama, masyarakat belum memahami cara pengeringan kopi pada saat musim kemarau dengan menggunakan peralatan modern. Selain itu,  coffee cupping (pengetesan) cita rasa kopi juga belum pernah dilakukan oleh warga desa ini. Proses coffee cuping merupakan salah satu langkah standar untuk mengetahui karakteristik dasar dari cita rasa kopi Jatiarjo sebelum diluncukan ke pasaran.

Kalau memang nanti kita mau menciptakan brand kopi Jatiarjo, kita perlu menggali dan meneliti kandungan kopi Jatiarjo agar bisa menjelaskan berbagai manfaat kopi kita kepada konsumen. Saya rasa nanti ketika kita memprofilkan kampung kopi, harus ada satu atau dua paragraf tentang sejarah kopi Jatiarjo,” lanjutnya. [Malik, Nasrun]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *