Manajemen Wisata Menjadi Sorotan Penting di Desa Jarangan Pasuruan

Pasuruan-Desa Jarangan terletak di kawasan pesisir utara Kabupaten Pasuruan. Berbatasan dengan laut, desa ini memiliki potensi berupa hilir Sungai Rejoso yang di sekitarnya terdapat hutan mangrove dan sangat berpotensi untuk pemancingan. Selain itu, di kawasan ini juga memiliki potensi lain seperti keberadaan Hiu Tutul yang muncul di setiap periode tertentu. Keunikan potensi ini mulai digali oleh masyarakat Desa Jarangan melalui kegiatan Kelas Pendidikan Agrobisnis dan Agrowisata Desa Inovatif (PADI) 2018-2019 yang pertemuan pertamanya diselenggarakan minggu lalu pada hari selasa dan rabu (4-5/12).

Pertemuan pertama Kelas PADI 2018-2019 Desa Jarangan membahas mengenai penguatan kelembagaan dan Manajemen Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pertemuan dilaksanakan di Pendopo Desa Jarangan dengan dihadiri kurang lebih 28 peserta kelas. Adapun sebagai pemateri adalah Purnomo Anshori yang notabenenya sebagai Ketua Forum Pokdarwis Provinsi Jawa Timur.

Selama dua hari, kelas berlangsung dengan fokus membahas instrumen-instrumen yang dapat menguatkan kelembagaan Pokdarwis Desa Jarangan. Pembangunan kelembagaan ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan kegiatan wisata yang ada di desa. Tak lupa, pembahasan juga diarahkan pada mekanisme kerjasama antar dua desa, yakni Desa Jarangan dengan Desa Patuguran. Hal ini dilakukan karena lokasi wisata yang berada dalam wilayah teritorial dua desa dan kesamaan karakter antar kedua desa.

Purnomo Anshori memberikan gambaran detail jika kerjasama dan landasan telah terbentuk, maka paket wisata dapat disusun. Ia menggambarkan bahwa paket wisata merupakan satu perjalanan wisata yang disusun dan terencana untuk bisa dikunjungi dan dinikmati yang dijual dalam satuan harga tunggal.

“Untuk membuat paket wisata kita harus ada destinasi apa saja yang akan kita jual, fasilitas apa yang jadi penunjangnya, semua akan terangkum dalam satu paket wisata,” ujarnya pada saat memaparkan materi.

Ia melanjutkan terdapat lima faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun paket wisata. Lima faktor tersebut adalah pertama adalah rute perjalanannya; Kedua adalah variasi obyek; Ketiga tata urutan kunjungan; Keempat kondisi geografis obyek; Kelima tingkat kebosanan dan daya fisik wisatawan.

“Bagaimana caranya membuat wisatawan bisa berlama-lama ditempat kita sehingga wisatawan tidak bosan dan bisa menikmatinya, berarti kita harus mengadakan banyak atraksi dalam menampilkan wisata kita,” imbuhnya.

Sementara itu, Khumaedi yang menjadi peserta kelas menanggapi bahwa perlunya penguatan sumber daya manusia untuk menunjang kelembagaan dan manajemen Pokdarwis di Desa Jarangan.

“Kita harus tetap solid dan berkomitmen tinggi agar harapan dari desa wisata ini bisa terwujud,” tegasnya.

Dengan solidaritas dan komitmen ia yakin segala aturan yang dibentuk akan dipatuhi dan dijalankan oleh para pegiat wisata Desa Jarangan. Untuk itu, ia juga mengharapkan adanya partisipasi dari masyarakat dalam penyusunan aturan-aturan yang berkaitan dengan wisata dan Pokdarwis.

Hasil dari kelas yang berlangsung selama dua hari ini diantaranya adalah pembentukan struktur organisasi pengelola wisata desa, rencana pembentukan Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUM Desma), pembuatan visi misi anggaran dasar dan rumah tangga, serta aturan yang mengikat lainnya. Dengan adanya kelas ini Komunitas Averroes yang bekerjasama dengan Sampoerna untuk Indonesia selaku penyelenggara kegiatan berharap agar Desa Jarangan memiliki manajemen yang kuat dan inovatif dalam mengelola wisata desanya yang saat ini dikenal dengan Rejoso Mangrove Conservation.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *