Lulis Irsyad Yusuf: Yang Paling Penting Adalah Mengambil Hati Konsumen

Langkah kongkrit untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat terus diupayakan oleh Komunitas Averroes. Lewat Program Pendidikan Agribisnis Desa Inovatif (PADI), Averroes laksanakan Pelatihan Pengolahan Pasca Panen bertajuk “Diskusi Pengembangan Usaha Mikro dan Legalitas Produk”, Kamis (06/04/2017).

Kegiatan yang dihelat di Gedung Serba Guna Pemerintah Kabupaten Pasuruan ini dihadiri oleh seluruh peserta Sekolah Inovasi Tani Indonesia (SITI) dari tiga desa (Jatiarjo, Kalipucang dan Wonosari).

Edi Purwanto, Program Manager Padi, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya untuk memberikan informasi tentang pengembangan usaha bagi masyarakat, khususnya peserta SITI.

“Para peserta yang juga pelaku usaha di titik sasaran Program PADI (Desa Jatiarjo, Desa Kalipucang dan Desa Wonosari) kebanyakan belum memiliki optimisme untuk memulai atau mengembangkan usahanya. Kekhawatiran dan ketakutan akan keberadaan alat, modal, pasar hingga jaringan seringkali masyarakat keluhkan dalam memulai atau mengembangkan usahanya,” jelasnya.

Selain itu, menurut Edi, kebutuhan legalitas suatu produk sangat penting melihat kebutuhan dan standarisasi pasar. “Legalitas suatu produk dibutuhakan guna melindungi masyarakat dari produk pangan olahan yang dapat membahayakan kesehatan konsumen,” imbuhnya.

Lulis Irsyad Yusuf, Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kabupaten Pasuruan yang bertindak sebagai keynote speaker dalam kegiatan tersebut menjelaskan beberapa hal tentang kondisi dan permasalahan industri kecil di Kabupaten Pasuruan.

“Saya sering datang ke desa-desa di Kabupaten Pasuruan. Banyak industri kecil atau rumahan yang sebenarnya sudah diusahakan oleh para warga. Hanya saja, memang kondisinya masih ada beberapa ganjalan, terutama di branding dan marketing produk,” terang Lulis.

Lulis menjelaskan bahwa terkadang pihaknya merasa miris dengan kondisi usaha kecil yang tengah dilakukan masyarakat. “Saya kadang mengelus dada kalau melihat cara warga berjualan. Ketika ada suatu kegiatan, harga produknya dinaikkan sekian persen. Padahal harga sebenarnya tidak sebesar itu. Harga itu harusnya urusan belakang, hal yang paling penting adalah mengambil hati konsumen. Ini yang kurang saya suka, terlalu memanfaatkan aji mumpung,” tegasnya.

Selain Lulis, narasumber kegiatan tersebut adalah Makhmud Ghozi, Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pasuruan, Dra. Fitriyah, Kasi Kefarmasian Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan dan Muzdalifah, Koordinator Program Satria Emas Pemkab Pasuruan.

Acara yang diakhiri sekitar pukul 13.00 WIB tersebut juga dihadiri oleh undangan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan, Dewan Riset Daerah Kabupaten Pasuruan, dan perwakilan dari Sampoerna Untuk Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *