Kopi Sebagai Solusi

Tanaman kopi di Kalipucang

Kopi merupakan salah satu komoditas paling populer di kalangan masyarakat Indonesia. Tanaman ini tumbuh tegak, bercabang dan dapat mencapai ketinggian hingga 12 meter. Dari sekian banyak jenis kopi, terdapat tiga jenis yang lazim ditanam dan diperjualbelikan yakni Arabica, Robusta dan Liberica.

Kesuburan alam Desa Jatiarjo, menjadikan tiga jenis kopi tersebut tumbuh dengan subur. Kopi di desa ini rata-rata ditanam di lahan Perhutani. Terdapat sekitar 350 hektar lahan Perhutani yang digarap oleh warga desa ini. Sebagaimana penjelasan Rasub, ketua Kelompok Tani Subur Makmur 3, setidaknya petani Desa Jatiarjo mampu menghasilkan 10 ton kopi kering dalam setiap masa panen.

Awal mula petani menggarap lahan hutan tidaklah ditanami kopi, melainkan palawija. Akan tetapi banyak terjadi konflik antara petani dan Perhutani karena komoditas palawija tersebut. Sejatinya konflik antara petani dan Perhutani tidak hanya terjadi di Jatiarjo, konflik serupa juga terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

HuMA (Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis) mencatat bahwa hampir seluruh wilayah kerja Perum Perhutani terutama di Pulau Jawa memiliki masalah konflik terkait lahan. Sedikitnya terdapat 6.800 desa yang terlibat konflik dengan Perhutani di Pulau Jawa. (Sumber; huma.or.id)

Terjadinya konflik antara petani Desa Jatiarjo dengan Perum Perhutani memang berawal dari berkurangnya lahan pertanian di desa ini. Petani yang tidak lagi mempunyai lahan garapan terpaksa membuka lahan pertanian di hutan.

Dalam usaha menangani konflik atau pertikaian perlu mempertemukan kepentingan dua kubu yang sedang berkonflik. Lambat laun ditemukanlah cara untuk menangani konflik antara petani dan Perhutani. Petani boleh bercocok tanam di lahan Perhutani asalkan tidak mengganggu tanaman tegakan. Adalah kopi, sebuah komoditas yang dianggap tidak mengganggu tanaman tegakan dan juga menguntungkan bagi para petani. Maka kepentingan Perhutani dengan tanaman tegakannya terwadahi dan kepentingan warga dengan tanaman kopi juga terpenuhi.

Kopi, berdasarkan penelitian ilmiah, merupakan tanaman yang mampu menahan air. Kemampuan ini hampir sama dengan tanaman tegakan hutan. Dengan kata lain, fungsi tanaman kopi tidak jauh berbeda dengan tanaman hutan. Sembari menghasilkan uang, kopi juga membantu Perhutani untuk menyimpan air dalam tanah.

Berkat kopi, petani yang pada mulanya banyak kehilangan lahan garapan dan berkonflik dengan Perhutani, kini hidup sejahtera. Sejalan dengan hal itu, sejak kemitraan petani kopi dan Perhutani terjalin dengan harmonis, kebakaran hutan nyaris tidak pernah terjadi lagi. Rasa memiliki dan kesadaran untuk pelestarian hutan, tumbuh dalam jiwa petani.

“Petani sekarang ikut melindungi hutan dari kebakaran maupun kerusakan. Kalaupun ada kebakaran petani siap gotong-royong untuk memadamkannya,” ujar Syamsuri, salah seorang petani penggarap lahan hutan.

Warga Desa Jatiarjo yang menggarap lahan hutan terhimpun dalam sebuah wadah bernama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Ngudi Lestari. Lembaga ini berfungsi sebagai pengayom dan penampung aspirasi petani penggarap lahan hutan.

Sebagai informasi tambahan, kopi Jatiarjo rata-rata ditanam dengan sistem tumpang sari. Tumpang sari adalah suatu sistem penanaman campuran berupa perlibatan dua jenis tanaman atau lebih pada satu areal lahan tanam dalam waktu bersamaan atau agak bersamaan. Sistem ini dirasa dapat memaksimalkan potensi lahan pada areal hutan. Dengan sistem ini tidak ada areal lahan yang tidak termanfaatkan. Hasil produksi pertanian semakin beragam, penghasilan petani pun semakin bertambah. [Aris]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *