Komunitas Averroes Mantapkan Persiapan Jelang PADI 2018-2019

Malang- Program Pendidikan Agrobisnis dan Agrowisata Desa Inovatif (PADI) Komunitas Averroes tahun 2018-2019 mulai dipersiapkan secara detail. Selama dua hari kemarin(10-11/10/18), Averroes telah menyiapkan tim sejumlah 17 orang yang beberapa diantaranya berisikan dewan pengawas, program manajer, tim manajemen, staff, dan fasilitator. Mereka diberi pelatihan dalam tajuk Workshop Persiapan Program yang diselenggarakan di Hotel Tidar Kota Malang.

Workshop ini digelar dengan tujuan agar para pelaksana program (Tim PADI) memahami desain substansial dari PADI 2018-2019. Selain itu, mereka juga diharapkan agar mampu mengurus persoalan teknis administratif selama berlangsungnya program. Terakhir, workshop ini juga bertujuan agar pelaksana program atau tim mampu melakukan penatausahaan dokumen dan informasi lainnya.

Kegiatan dibuka pada Hari Rabu pukul 9.00 oleh Sutomo, Ketua Averroes. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih atas kehadiran dari Tim Padi 2018-2019. Ia juga berharap dilaksanakannya kegiatan ini mampu memberikan dampak berupa peningkatan kapasitas bagi anggota tim.

“Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada teman-teman yang sudah menyempatkan datang pada pagi hari ini. Saya berharap melalui kegiatan ini para anggota baru bisa mengetahui program yang akan dilaksanakan. Sekaligus juga para anggota tim bisa meningkatkan kapasitas diri karena akan ada proses transfer pengetahuan yang akan diberikan,” terang pria yang juga menjadi Wakil Rektor I Unira tersebut.

Substansi

Materi pertama workshop disampaikan oleh Edi Purwanto. Ia menyampaikan perihal Gambaran Program PADI 2018-2019. Pada peyampaian pertamanya, Edi menerangkan mengenai empat hal latar belakang dari pelaksanaan program, diantaranya: Pertama, visi Kabupaten Pasuran Kedua, misi keempat Komunitas Averroes; Ketiga, berdasarkan tantangan Kabupaten Pasuruan; Keempat, strategi dan pengembangan sektor agrowisata dan agrobisnis.

Edi kemudian melanjutkan konsep yang akan digunakan pada program tahun 2018-2019. “Pendekatan yang kita gunakan, masih melanjutkan seperti periode sebelumnya. Yakni melalui pendekatan Apreciative Inquiry,” tuturnya.

Pendekatan ini berorientasikan pada pola pikir yang positif dan optimis, mengenali dan menghargai potensi yang dimiliki serta prograsif dalam memandang perubahan. Dari pendekatan tersebut diharapkan masyarakat dapat menemukenali potensi yang ada di desanya dan tergerak untuk memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Sebagai Program Manager, Edi juga menyatakan bahwa adanya perbedaan dalam proses pendampingan yang akan dilakukan. Pada periode ini akan terdapat klasterisasi desa dampingan.

“Akan terdapat tiga klaster. Masing-masing klaster akan berbeda dalam proses pendampingannya. Kita sudah menyiapkan masing-masing aktivitas pada setiap klaster,” imbuhnya.

Penjelasan mengenai aktivitas masing-masing klaster dijelaskan pada materi berikutnya oleh PME Specialist, Levi Riansyah. Ia menyampaikan materi dengan tajuk Planning, Monitoring, dan Evaluation. Dalam penyampaiannya Rian menjelaskan bahwa terdapat kegiatan-kegiatan yang berbeda di tiap klaster.

“Klaster pertama berisikan aktivitas pemetaan potensi terkait dengan pengembangan Inovasi, fasilitasi kelembagaan usaha, dan pemetaan pasar.  Klaster kedua berisi pelatihan need assessment, penguatan kapasitas teknis dan kelembagaan, dan marketing produk unggulan desa. Klaster ketiga berisi need assessment desa wisata, peningkatan kapasitas kelembagaan desa, fasilitas kebutuhan kebijakan, fasilitasi pengembangan jaringan,” terang pria yang juga Ketua II Bidang Program Komunitas Averroes.

Teknis Tata Usaha dan SOP

Tidak hanya penjelasan mengenai substansi program, pada wokshop ini juga dijelaskan teknis tata usaha dan SOP program yang harus ditaati oleh anggota tim. Fahrul Ulum selaku Manajer Administrasi menegaskan bahwa materi yang akan dibawakan olehnya sangat penting untuk diperhatikan oleh anggota tim. Mengingat pada waktu sebelumnya banyak anggota yang kesulitan dalam mengurus proposal kegiatan hingga laporan kegiatan.

Dalam penyampaiannya Fahrul, banyak menerangkan terkait teknis pembuatan proposal, laporan kegiatan, dan minutes of meeting. Salah satu catatan penting menurutnya terkait persoalan administrasi ini adalah waktu,

“Saya tekankan pada semua anggota tim, bahwa yang paling penting dari proses administrasi ini adalah timing (waktu). Karena ketika tim menyetorkan pada saya tepat waktu, saya masih bisa mentolelir adanya kesalahan. Sehingga revisi bisa dilakukan bersama,” tegas pria lulusan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya ini.

Mujtabah selaku Manajer Keungan juga turut ambil bagian dalam sesi ini. Ia lebih banyak menerangkan penyusunan rencana anggaran kegiatan dan laporan anggaran kegiatan. Menurutnya, selama ini proses ini masih menjadi kesulitan tersendiri bagi tim, khususnya fasilitator lapangan. Oleh karenanya, ia menyampaikan agar sebaiknya urusan administrasi keuangan dapat diselesaikan sesegera mungkin.

Pria asal Gresik ini menandaskan, “Seringkali terjadi kesalahan pada waktu pelaporan keuangan dan pengajuannya. Saya berharap agar proses tersebut disetorkan sebelum waktu jatuh tempo pengumpulan. Asalkan teman-teman bisa menuliskan dan melaporkan dengan jujur. Saya siap untuk memberikan jalan keluar terkait kesalahan yang terjadi.”

Penyampaian Materi oleh Mujtabah

Setelah adanya penjelasan teknis tata usaha dan Standard Operation Procedure (SOP) ini peserta diajak untuk praktik mengerjakan sesuai dengan format yang telah ditentukan. Hasil dari pengerjaan tersebut dikoreksi secara bersama pada hari kedua workshop.

Workshop berakhir pada pertengahan hari kamis dengan ditutup oleh materi berjudul Tata Kelola Informasi program yang disampaikan oleh Knowlede and Management Komunitas Averroes, Nasrun Annahar. Nasrun menyampaikan perihal pemanfaatan TIK pada setiap interaksi dan pengolahan informasi ketika program berlangsung.

Adapun sebagaimana diketahui, PADI 2018-2019 merupakan program periode ketiga yang telah dilaksanakan oleh Komunitas Averroes dengan bermitra bersama Sampoerna untuk Indonesia. Tahun ini, program rencananya akan dilaksanakan pada tujuh desa di Kabupaten Pasuruan (uv).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *