Ketua BPD Jatiarjo: Komunikasi adalah Kunci

Sesuai dengan prioritas pembangunan daerah Kabupaten Pasuruan, pariwisata merupakan sektor utama yang akan diarusutamakan pada tahun 2018 mendatang. Hal tersebut yang kemudian melatarbelakangi Averroes melaksanakan Program Pendidikan Agrobisnis dan Agrowisata Desa Inovatif (PADI) di desa Jatiarjo. Hal ini juga sesuai dengan proyeksi pemerintah kabupaten bahwa Desa Jatiarjo juga akan didorong menjadi desa wisata.

Sebagai titik mula program, Komunitas Averroes menyelenggarakan sosialisasi program  di desa ini. Acara sosialisasi yang dihelat di Balai Desa Jatiarjo Jumat (10/11/2017) ini dihadiri 30 peserta yang mewakili berbagai kelompok masyarakat desa.

Program yang terselenggara atas kerja sama Komunitas Averroes, Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan Sampoerna untuk Indonesia ini akan mulai dijalankan pada 20 November 2017 hingga April 2018 mendatang. Program ini akan menjaring 35 peserta dari desa Jatiarjo. Mereka inilah yang akan menjadi garda terdepan upaya pembangunan desa wisata dan pengembangan agrobisnis pengolahan produk pertanian.

Nantinya, para peserta akan belajar mengenai analisis potensi desa, inovasi produk pertanian, penguatan manajemen usaha masyarakat, pemasaran produk hingga penguatan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa).

Nasrun Annahar, fasilitator kegiatan sosialisasi ini menyatakan bahwa program PADI berfokus pada penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Sebelumnya, di desa ini memang telah banyak SDM pelaku wisata. Namun belum ada wahana wisata yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat sendiri.

“Perlu merapatkan barisan baik para pelaku wisata, para petani, pelaku UKM dan pemerintah desa. Jika seluruh SDM ini solid, akan sangat mudah membangun desa wisata,” paparnya.

Sejauh ini, desa wisata telah terbukti mampu menjadi kekuatan dalam meningkatkan perekonomian lokal masyarakat. Hal ini sejalan dengan asas gotong royong yang dimiliki oleh masyarakat desa. Dengan pengembangan desa wisata, perekonomian masyarakat bisa terangkat, di saat yang sama semangat kebersamaan tetap menjadi nafas pengelolaan usaha.

Dalam forum sosialisasi ini, para peserta telah menunjukkan optimisme terwujudnya desa wisata Jatiarjo. Pasalnya, desa ini menjadi jalur satu-satunya menuju sebuah destinasi wisata tingkat nasional. Desa wisata Jatiarjo bisa dipromosikan secara lebih cepat dengan memanfaatkan jalur transportasi menuju destinasi wisata nasional tersebut.

“Sudah saatnya desa Jatiarjo bersolek dan mempercantik diri agar desa yang selama ini hanya diangap sebagai teras bisa menjadi inti rumah yang nyaman untuk menyambut wisatawan,” lanjut manager pengelolaan pengetahuan di program PADI ini.

Pada akhir acara, peserta sosialisasi berkesempatan untuk mendiskusikan kebutuhan desa yang berkaitan dengan pelaksanaan program PADI nantinya. Harno, ketua BPD Jatiarjo menyatakan bahwa program PADI yang sebelumnya sudah dilaksanakan di desa Jatiarjo sejak 2016 lalu perlu dimatangkan lagi. Ia berharap bahwa Desa Jatiarjo yang sudah mulai dikenal sebagai desa wisata kopi bisa menyambut wisatawan dengan baik, baik dari segi fisik destinasi wisata maupun dari segi SDM pengelola wisata serta masyarakatnya. Ia berharap bahwa setiap wistawan yang datang akan ketagihan dan terpuaskan.

Harno (Dua dari kiri), Ketua BPD Jatiarjo.

“Kita perlu menata komunikasi antara pengelola wisata kampung kopi dengan unsur lain seperti kelompok tani atau LMDH. Agar kita tidak gagap. Agar tamu yang sudah datang ke desa tidak kecewa karena belum ada wujud fisik dari destinasi wisata. Untuk sementara para tamu bisa diajak berwisata ke kelompok tani atau LMDH,” ujar Harno.

Untuk mendukung upaya pembangunan desa wisata, Harno siap mengawal sinkronisasi ususlan-usulan masyarakat dengan perencanaan pembangunan desa. “Jika teman-teman punya usulan kegiatan, silakan buat proposal, nanti saya yang akan memperjuangkan dalam musyawarah perencanaan pembangunan,” lanjutnya.

Selain BPD, hadir pula Hidayat, ketua LMDH Ngudi Lestari. Ia juga mengungkapkan dukungannya terhadap upaya pembangunan desa wisata ini. “Saya merasa bahwa saya adalah salah satu potensi sumber daya manusia yang akan dianalisis dalam tahapan program ini nantinya. Silakan teman-teman memanfaatkan saya. Saya siap membantu upaya ini,” ujarnya.

Senada dengan Hidayat, Kholili juga menyatakan dukungan terhadap program. Ia memberikan catatan dan masukan penting untuk menuju upaya mewujudkan desa wisata. Menurutnya, BUM Desa yang telah berdiri pertengahan tahun ini perlu diperkuat dalam hal manajemen SDM pengurus dan aturan-aturan pengelolaannya.

“Selain merapatkan barisan dan mulai menjalankan BUM Desa, pemerintah desa dibantu oleh Averroes, perlu memperjelas status tanah kas desa yang akan ditempati oleh unit usaha wisata kampung kopi dan pasar desa. Agar lebih jelas dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,” ujar Kepala dusun Tonggowa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *