Keripik Gadung, Proses Pengolahan Hingga Peluang Pasarnya

Keripik Bu Tani Jatiarjo Pasuruan

Gadung merupakan tanaman umbi-umbian yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif bahan pangan. Meski demikian, perlu kehati-hatian dalam mengolah buah ini. Jika tidak bisa mengolah secara baik, maka keracunan akan mengancam. Racun yang terkandung di dalam ubi gadung mampu membuat seseorang yang memakannya menjadi mual dan pusing. Hal itu bisa dihindari dengan teknik pengolahan yang benar.

Selain teknik pengolahan, warga Jatiarjo juga memiliki cara unik untuk mengenali gadung yang beracun atau tidak. Caranya adalah dengan melihat arah lilitan batang gadung yang menjalar. Jika batang gadung melilit ke kanan berarti gadung tersebut tidak beracun. Sebaliknya, jika ke kiri, maka gadung tersebut beracun.

Sifat dasar ubi gadung yang beracun tidak serta-merta menjadikan ancaman bagi warga Jatiarjo. Keadaan ini justru menciptakan peluang bisnis bagi mereka. Adalah para ibu tani di Desa Jatiarjo yang menemukan peluang bisnis dari gadung yang beracun itu. Mereka mengubah gadung menjadi keripik yang memiliki cita rasa enak, renyah dan tentu saja memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Keripik gadung merupakan produk unggulan Desa Jatiarjo. Sebenarnya banyak jenis produk-produk keripik lain yang juga diproduksi para ibu tani kreatif Desa Jatiarjo. Produk-produk tersebut antara lain, keripik singkong, pisang, ubi jalar, tingting jahe dan keripik mbothe (talas). Namun demikian, keripik gadung masih menjadi primadona olahan yang dihasilkan oleh tangan-tangan terampil para ibu tani tersebut.

Gadung dapat dipanen pada umur dua tahun setelah ditanam. Meski masa panen dilakukan sekali dalam dua tahun, namun ketika panen, satu tanaman gadung mampu menghasilkan satu Kwintal umbi.

Panenne yo katah, sekali panen bisa mencapai satu Kwintal per pohonnya. Ukurannya juga besar-besar,” terang Wasis.

Ide untuk mengolah gadung menjadi keripik muncul dari para ibu tani Desa Jatiarjo setelah melihat potensi pasarnya. Salah satu potensi pasar keripik gadung adalah sebagai jajanan saat peringatan hari besar agama. Permintaan keripik gadung meningkat pesat ketika mendekati lebaran. Menjelang bulan puasa, ibu-ibu tani di desa ini pasti berlomba-lomba untuk memproduksi keripik gadung.

“Kalau hari raya itu ibu-ibu sibuk semua membuat keripik,” terang Sunarnis.

Ibu-ibu tani Desa Jatiarjo umumnya mengambil bahan baku gadung dari kebun masing-masing. Bagi yang tidak memiliki kebun sendiri, atau yang tanamannya belum bisa dipanen, biasanya membeli gadung milik tetangganya.

“Bagi yang tidak punya atau kebunnya masih belum panen, kita beli dari tetangga, 60 ribu per Kwintal,” lanjut Sunarnis.

 Proses Pembuatan Keripik Gadung

Teknik atau proses produksi keripik gadung memang relatif rumit dan membutuhkan waktu yang lama. Tidak semua orang bisa mengolah gadung menjadi keripik. Hal inilah yang membuat warga Jatiarjo berpeluang luas menguasai pasar keripik gadung. Selain itu, harga keripik gadung juga cukup tinggi.

“Meskipun prosesnya ribet tapi hasilnya (harga) lumayan,” ujar Ani, yang ditemui di sela Sekolah Tani pada Senin (6/3/2017).

Teknik produksi keripik gadung oleh ibu-ibu tani Desa Jatiarjo masih bersifat tradisional. Mulai dari pengupasan hingga keripik siap di pasarkan semua dikerjakan secara manual dengan tangan-tangan terampil mereka. Ani, salah satu pengrajin keripik gadung berbaik hati untuk berbagi ilmu pengolahan camilan renyah ini. Dari keterangannya, proses untuk mengubah ubi gandung menjadi keripik adalah sebagai berikut:

  1. Gadung dikupas dari kulit luarnya.
  2. Gadung yang telah dikupas kemudian diiris dengan pasah sesuai dengan selera, bisa tipis atau tebal.
  3. Hasil irisan gadung diwadahi keranjang kemudian ditaburi abu dapur dan garam. Fungsi penaburan abu dapur dan garam ini adalah untuk menghilangkan racun yang terkandung di dalam ubi gadung.
  4. Untuk menghilangkan racunnya, gadung di diamkan selama satu malam. Selama proses pemeraman ini, racun akan mengalir dari keranjang tersebut. Indikator bahwa racunnya sudah hilang adalah, irisan ubi gadung yang semula kaku akan menjadi lentur.
  5. Gadung yang sudah bersih dari racun diangkat dan dijemur di bawah sinar matahari.
  6. Gadung direndam di dalam wadah minimal tiga malam empat hari. Setiap hari air rendaman harus diganti dua kali, yaitu pada pagi dan sore hari. Perendaman kurang dari empat hari membuat rasa keripik kurang enak dan kurang gurih.
  7. Gadung diangkat kemudian dicuci hingga bersih dan ditiriskan.
  8. Masak air hingga mendidih, lalu tambahkan bumbu sesuai selera. Biasanya para ibu tani Jatiarjo menggunakan bumbu seperti bawang putih, ketumbar, garam dan penyedap rasa.
  9. Masukkan gadung yang telah dicuci bersih ke dalam air yang mendidih hingga matang. Ciri gadung yang matang adalah, perubahan warna dari yang mulanya putih susu menjadi bening.
  10. Gadung ditiriskan kemudian dijemur hingga kering.
  11. Kemas gadung yang sudah kering agar terhindar dari kerusakan.

 Pemasaran Keripik Gadung

Menurut keterangan Ani, harga keripik gadung mentah berbeda-beda, berkisar antara 25 ribu sampai 30 ribu per kilogram. Harga 30 ribu per kilogram berlaku untuk kriteria keripik gadung super. Kualitas super adalah keripik yang memiliki warna putih bersih, lebar dan tidak pecah.

Sayangnya, keripik gadung Jatiarjo masih dijual dalam bentuk keripik mentah, belum digoreng. Ani  mengatakan bahwa menjual dalam bentuk mentah itu lebih mudah. Ketika dijual dalam bentuk siap makan, dikhawatirkan rusak ketika tidak laku terjual.

Sementara jika melihat persaingan di pasar, tidak banyak produsen keripik gadung. Artinya, pasar masih sangat terbuka. Menurut keterangan Ani, salah satu pesaing produk keripik gadung adalah dari daerah Pacitan. Namun ia yakin bahwa keripik Jatiarjo mampu bersaing dengan menonjolkan kelebihannya. Yang membuat keripik gadung Jatiarjo berbeda adalah dijamin bebas dari bahan kimia. Proses pengolahan dengan cara tradisional dan alami menjadi jaminan keamanan bagi para konsumen. Keripik gadung Jatiarjo aman dikonsumsi meskipun dalam jumlah banyak.

“Ada daerah yang menggunakan tawas dalam proses produksinya, hasilnya lebih putih memang, lebih jernih. Tapi kami tidak menggunakan seperti itu. Seperti itu kurang aman bagi yang makan,” pungkas Ani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *