Jamroni, Sarjana Rantau di Bidang Pengolahan Salak

Jamroni dan Lilik Handayani

Badannya tinggi tegap, sorot matanya tajam, cara bicaranya menggunakan logat Sunda bercampur Jawa dengan sedikit terbata-bata. Dialah Jamroni, pria kelahiran Cirebon yang kini menjadi warga Desa Wonosari, Gondangwetan, Pasuruan. Setelah menikah dengan Lilik Handayani, teman semasa kuliahnya, ia memutuskan untuk menetap di Wonosari.

Sebagai orang baru, tentu Jamroni harus menyesuaikan dengan kultur sosial masyarakat Wonosari. Mulanya ia merasa kesulitan karena ia bekerja di pabrik dan jarang berada di rumah. Lambat laun kegiatan keagamaan ia gunakan sebagai media untuk melakukan pendekatan dan penyesuaian dengan masyarakat lainnya.

“Saya masuk (berinteraksi) lewat pengajian, jamaah di masjid dengan itu. Dengan itu saya bisa masuk berkumpul dengan warga desa Wonosari,” ungkap bapak dari dua anak ini.

Sebagai bagian dari masyarakat, tentu ia ingin memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya. Bertahun-tahun tinggal di Wonosari membuatnya sadar akan potensi pertanian yang ada di sana. Lahan kebun salak warisan turun-temurun dari orang tua mendorong munculnya ide untuk menyejahterakan masyarakat. Ia melihat bahwa potensi salak belum digarap dengan maksimal. Ia begitu prihatin melihat harga satu panci salak di pasaran sebesar 20-30 ribu.

Karena latar belakang itu, alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya ini pun berinisiatif untuk mengolah salak menjadi jenang dan berbagai jenis makanan lainnya. Ia berharap, buah salak yang harganya sering anjlok pada masa panen ditampung dengan harga normal.

Proses pembuatan jenang salak yang sederhana, menurutnya dapat dilakukan oleh siapa pun untuk menambah nilai jualnya. Karena itu, ia tidak pelit untuk berbagi ilmu. Ia bahkan mengizinkan Martani untuk mendokumentasikan dan memublikasikan proses pembuatan jenang salak.

“Pembuatan jenang salak sangat minimalis, Mas. Cukup dengan peralatan menggoreng yang ada di dapur sudah bisa menghasilkan jenang salak. Semua orang bisa membuat,” ucapnya.

Awalnya, usaha pembuatan jenang salak ia lakukan berdua bersama istri. Lama-kelamaan, usaha tersebut mulai masif dan mampu membuka lapangan pekerjaan baru, khususnya untuk para tetangga.

”Ya hanya berdua bersama istri saya dan dipasarkan melalui media online seperti Facebook, itu pun ke teman-teman dekat saja Mas,” ujar pria yang akrab dipanggil Roni ini.

Dari aktivitas tersebut, sang istri tergerak untuk mengikuti pelatihan bersama PKK. Berawal dari pelatihan tersebut, kini usahanya telah mendapatkan SIUP (Surat Izin Usaha Pertanian). Sayangnya, biaya pengurusan perizinan ia rasakan masih menjadi hambatan.

“Mahal, Mas. Harus ngurus Industri Rumah Tangga (IRT) hampir 1-2 juta,” keluhnya.

Selain pengolahan jenang salak, Roni juga memaparkan bahwa ia berkeinginan untuk membuat keripik dari salak. Menurutnya, pembuatan keripik salak tidaklah sulit seperti yang dibayangkan banyak orang. Hanya saja, sekali lagi, ia menemui ganjalan kebutuhan alat yang harganya mahal.

“Mudah kok membuatnya, saya bisa, Mas. Dengan catatan kalau ada vacuum frying. Saya bisa memproduksi keripik salak,” tandas pria yang genap berusia 40 tahun ini.

Roni menuturkan bahwa alam (potensi pertanian) yang ada di Wonosari secara berangsur membentuk pola pikirnya untuk kreatif dan mandiri. Dengan perangkat ilmu yang didapat semasa kuliah, berbagai hal yang inovatif terus ia usahakan. Ia berharap keberadaan Pendidikan Agrobisnis Desa Inovatif yang diselenggarakan oleh Komunitas Averroes dapat memberikan ilmu yang bermanfaat, khususnya tentang pengolahan pasca panen salak.

Sejauh ini ia telah merasakan dampak positif dari program tersebut. Tidak hanya mempertemukan warga, program ini ia rasa mampu memunculkan semangat belajar masyarakat. Mulanya masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui aset dan potensi desanya. Dengan hadirnya program ini masyarakat kemudian mengetahui dan optimis untuk menggerakkan potensi dalam pembangunan desa.

“Saya merasakan banyak manfaat positif. Meskipun di awal dulu masih blank. Contoh manfaat itu seperti tabel analisis potensi desa. Gak gampang lo Mas membuat pendataan seperti itu. Saya berharap bisa terus dapat ilmu dan pengetahuan baru. Dengan ini (masyarakat) dapat saling berbagi pengetahuan,” tuturnya. [Very]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *