Jaminan Kualitas Rasa Kopi Dimulai dari Pemberantasan Hypothenemus Hampei

Mendung tampak menggelayut di langit Jatiarjo. Gunung Arjuno yang berselimut awan putih menambah kesan dingin pada kunjungan kami pagi itu. Beberapa mobil lalu lalang melintasi jalan desa. Ada pula bus-bus pariwisata yang menderu menapaki tanjakan jalan desa yang cukup terjal.

Beriringan dengan bus pariwisata, mobil kami pun menapaki jalan yang sama. Kami menuju Rumah Jamur Jatiarjo. Di sanalah rekan-rekan kami, para peserta Sekolah Inovasi Tani, menunggu kehadiran kami untuk berdiskusi. Secara khusus, pertemuan pada Senin (13/03/2017) itu kami niatkan untuk membahas seputar cara pengolahan kopi.

Nuroso Adi, sang ketua kelas menyambut kedatangan kami dengan akrab. Ia mengajak kami bergabung dengan para peserta dan memulai forum. Adi kemudian mengajak peserta lainnya untuk berdiri melingkar. Dalam lingkaran itulah, gelak tawa pecah menyambut permainan yang dipandu oleh Adi.

Seusai memacu semangat peserta dengan permainannya, Adi mempersilakan Nasrun Annahar untuk memfasilitasi forum. Nasrun lantas mengajak para peserta untuk menonton dua buah film dokumenter tentang keistimewaan kopi.

“Kita sebagai petani kopi harus tahu betapa orang-orang di seluruh dunia mengistimewakan komoditas kopi ini. Kalau kita mau menaikkan kelas kopi kita. Kita juga harus mengistimewakan kopi, mencintai kopi dan merawat kopi seperti keluarga sendiri. Sebagaimana yang dibahas dalam film tadi,” ulas Nasrun pasca sesi pemutaran film.

Pria yang sehari-hari bertugas sebagai staf manajemen pengetahuan di program Pendidikan Agrobisnis Desa Inovatif (PADI) tersebut lantas mengajak peserta untuk membaca buku tentang budi daya kopi. Ia membagi seluruh peserta yang hadir menjadi tujuh kelompok kecil. Masing-masing kelompok mendapat bagian untuk membaca dan memaparkan satu bab buku yang telah ia persiapkan. Dengan cara ini, seluruh peserta dapat mengetahui isi buku dalam waktu yang relatif singkat.

Setelah secara bergantian memaparkan hasil bacaannya, para peserta diajak untuk berdiskusi dengan Karnadi, seorang petani kopi sekaligus peserta Sekolah Inovasi Tani dari desa Kalipucang, Kecamatan Tutur, Pasuruan. Pada kesempatan tersebut, Karnadi mengapresiasi pengetahuan yang telah dipaparkan oleh para peserta.

“Semua cara yang dipaparkan tadi betul. Itu yang telah saya dapatkan dari berbagai pelatihan yang diadakan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Dan semua itu juga yang saya lakukan dalam budi daya dan pengolahan kopi,” papar Karnadi.

Lebih lanjut, Karnadi menjelaskan mengenai fermentasi kopi. Dalam paparannya, ia menyatakan bahwa terdapat dua jenis fermentasi yaitu fermentasi basah dan fermentasi kering. Kopi arabika umumnya diberi perlakuan fermentasi basah. Sebaliknya, fermentasi kering dilakukan untuk jenis kopi robusta.

“Kenapa arabika cenderung diharuskan diolah basah? Karena kalau diolah kering itu katanya orang Kalipucang gampang kapangen. kopi arabika itu kalau tidak difermentasi basah (disimpan) selama satu tahun itu keropos,lanjut pria yang juga seorang ketua kelompok tani tersebut.

Sebelum melakukan proses fermentasi, seorang petani harus memastikan bahwa kopi yang dipanen adalah kopi dengan kualitas terbaik. Untuk itu, Karnadi selalu memastikan bahwa kopi yang ia panen adalah kopi yang bebas dari hama tanaman. Ia memaparkan bahwa jauh hari sebelum panen, ia melakukan pemetikan kopi yang terserang hama bubuk buah kopi. Dalam Bahasa ilmiah, hama ini disebut sebagai Hypothenemus hampei atau PBKo.

“Kopi lembing itu kata orang sana (Kalipucang) adalah kopi yang bajang (cacat) atau yang sudah terserang PBKo. Nah, kalau kopi kita memang yang diinginkan berkualitas lakukanlah petik hama bubuk itu” ucapnya.

Karnadi (kiri) Saat Mencontohkan Kopi yang terserang Hama PBKo
Karnadi (kiri) Saat Mencontohkan Kopi yang terserang Hama PBKo

Proses perusakan oleh hama PBKo dimulai saat serangga betina yang akan bertelur membuat lubang pada bagian ujung buah kopi. Serangga tersebut bertelur sebanyak 30 hingga 50 butir di dalam lubang. Dalam kurun waktu lima hingga sembilan hari telur akan menetas. Setelah menetas, larva akan berkembang selama 25 hari di dalam biji kopi. Pada ketinggian lebih dari 1200 meter di atas permukaan laut larva membutuhkan 33 hari untuk menjadi serangga.

Setelah dewasa, serangga tersebut kawin di dalam biji kopi. Setelah kawin, sang betina lantas keluar, membuat lubang dan bertelur di biji kopi lainnya. Serangga jantan tak bisa terbang dan tetap di dalam biji yang sama untuk memakan isi buah kopi.

Untuk menghalau terjadinya perusakan biji kopi akibat hama PBKo, Karnadi menyarankan agar biji yang sudah teridentifikasi terserang hama harus segera dipetik. Tak cukup dipetik saja, ia juga menyarankan agar biji-biji tersebut dijauhkan dari kebun agar PBKo tidak terbang ke biji kopi lainnya.

“Kopi yang sudah terserang harus diambil. Tapi jangan dibuang di kebun. Bawa pulang lalu bakar di rumah,” lanjut Karnadi.

Mengenai hama PBKo, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian di bawah Kementrian Pertanian merilis bahwa hama ini umumnya hanya menyerang biji yang telah mengeras. Biji muda yang belum mengeras juga diserang namun hanya dilobangi untuk mendapat makanan lantas ditinggalkan. Penyerangan PBKo pada biji muda dapat menyebabkan gangguan perkembangan biji. Warnanya akan berubah menjadi kuning kemerahan dan akhirnya gugur.

Di sisi lain, serangan pada buah yang cukup tua menyebabkan biji kopi cacat berlubang dan bermutu rendah. Cacat berlubang ini akhirnya berpengaruh negatif terhadap susunan senyawa kimia kopi, terutama pada kafein dan gula pereduksi. Rendahnya kualitas susunan senyawa berujung pada menurunnya cita rasa kopi.

Petani harus berhati-hati dengan hama ini. Umumnya PBKo menyerang kopi yang berada di bawah tanaman naungan dengan udara yang lembab. Jika tidak diberantas sebagaimana saran Karnadi, serangan dapat menyebar ke seluruh kebun.

Tak cukup dengan pemberantasan hama di kebun saja, proses sortasi kopi juga penting untuk memastikan tidak ada PBKo dalam biji kopi. Kopi setelah dipetik adalah tempat berkembang biak yang sangat baik untuk PBKo. Dalam kopi tersebut, dapat hidup hingga 75 ekor PBKo per biji. Serangga dalam biji pasca petik ini diperkirakan dapat bertahan hidup selama kurang lebih satu tahun. [Nasrun]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *