Ir. Ihwan, M.Si: Jika Petani Punya Kemauan, Mereka Pasti Berhasil

Di tengah ekspansi industrialisasi di Pasuruan, sektor pertanian terus bertahan dan menghasilkan inovasi dan prestasi. Terakhir, Kabupaten Pasuruan sudah mendapatkan paten untuk komoditas Mangga Gadung 21. Mangga Gadung memang menjadi salah satu komoditas unggulan di Kabupaten ini. Tentu saja prestasi ini tidak didapatkan dalam waktu sekejap. Apa rahasianya?

Tim Martani berkesempatan untuk menimba ilmu kepada Ir. Ihwan, M.Si, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan pada Rabu siang (28/11/2016). Banyak cerita dan pengalaman menarik dari sosok yang sudah mengabdi hampir 28 tahun di Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan ini. Berikut hasil wawancara dengan Ir. Ihwan M.Si.

Pengalaman membanggakan apa yang bapak alami selama mengabdi di Dinas Pertanian?

Suka dukanya banyak. Namun yang membanggakan adalah saya menjadi saksi atas keberhasilan mangga di Pasuruan. Awalnya di tahun 1994 ada program SAGU (Sentra Pengembangan Agrobisnis Unggulan dari Departemen Pertanian). Di Jawa Timur ada tiga lokasi yakni Pasuruan, Situbondo dan Sampang. Saya jadi Pimpro (Pimpinan Program) di Kabupaten Pasuruan.

Komoditas mangga dikembangkan di mana?

Saya dulu merekomendasikan 3 Kecamatan, Wonorejo, Sukorejo dan Rembang. Dari ketiga tersebut, yang berkembang sampai sekarang bagus ada di Rembang dan Sukorejo. Bibit dan anggaran tersedia melalui APBN. Kita mendapatkan data potensi memungkinkan tanah di situ oke.

Apa kunci keberhasilan waktu itu?

Mengubah perilaku manusia. Apapun yang dilakukan, kalau manusianya (petani) gak mau berubah ya tidak akan berubah. Karena manusia itu kalau tidak disentuh dengan keyakinan dan kebenaran kan susah. Kebiasaan orang itu, kalau bicara belum tentu dipercaya kan? Nah, untuk meyakinkan mereka saya ajak praktek langsung. Sumber daya manusianya saya perbaiki dulu, diajak belajar bersama.

Mangga juga begitu. Caranya saya sekolahkan dan menitipkan ke perusahaan (budi daya). Satu kelas itu satu angkatan 30 orang. Tidak hanya teori, lebih banyak praktik langsung. Saya suruh menjual mangga itu. Dengan mengubah mindset, bagaimana petani yakin bahwa mangga itu mahal. Saya sampaikan ke yang punya perusahaan. Pak, petani dilatih dan disuruh menjual mangga kepada pembeli dan suruh setorkan uang ke bendahara. Dia (petani) gak percaya mangga kok harganya bisa tinggi.

Apakah langsung berhasil di tahun pertama?

Tentu bertahap. Butuh waktu tidak sebentar. Petani itu tidak bisa kalau hanya dikasih teori. Prinsip mereka itu yang penting bisa tanam, panen dan makan. Sudah menurut dia (petani) itu sudah cukup. Diajak menanam mangga butuh proses. Teknik budi daya sudah dia kuasai, cara tanam, jarak tanamnya harus berapa, lubang tanamnya kedalaman berapa, apa saja yang diisi lubang dan sebagainya.

Kalau sudah tanam, bagaimana mangganya. Bagaimana kalau sudah panen dan penjualannya seperti apa. Tujuh tahun pertama, waduh belum bisa. Banyak yang menjual hasil panen dengan sistem borongan. Jadi, ada yang datang dari Surabaya, dari mana-mana beli 1 hektar sebelum masa panen.

Lantas?

Akhirnya saya cari cara lagi. Saya bilang ke mereka, “Bapak harus (dijual saat) masak pohon kalau ingin kaya”. Kalau masak pohon, investor gak datang gak masalah. Pembeli akan datang sendiri. Ternyata, begitu mangga itu umurnya baru pentilan, sudah datang orang mau borong seperti sebelumnya. Saya gak mau kecolongan. Saya yang pesan sendiri mangganya. Saya titip uang, saya ambil pada saat panen nanti. Harganya berapa nanti ikut harga di pasaran. Saya ambil mangga masak pohon. Memang kalau dibayangkan susah. Itu titip uang hanya kepercayaan. Anggaran yang kami alokasikan untuk itu sangat besar. Saya percaya aja. Karena mereka sudah terbiasa begitu.

Strategi itu berhasil?

Cukup efektif. Sekarang sudah makmur, Mas. Buah mangga mereka tidak mau dibeli kalau tidak masak pohon. Dari petani yang gak punya mangga, sekarang sudah menjadi juragan. Saya menjadi saksi atas keberhasilan mereka. Dari jadi staf di Dinas Pertanian hingga menjadi Kepala Dinas. Di situ saya merasa sangat bangga dan bahagia.

Kebahagiaan seperti itu yang tidak bisa dinilai dengan materi ya, Pak?

Iya. Dulu saya ajak susah. Sekarang saya tawarkan bibit sudah banyak yang ngantri. Karena sudah liat tanamannya pasti makmur. Jadi sekarang saya kalau ngomong sama kelompok tani mangga, saya gak perlu cerita. Bapak mau menjadi kaya?  Mau, gimana caranya? Tanya petani. Itu lihat temannya yang sudah jadi. Ya toh? Itu bukan ratusan meter. Itu ribuan meter. Nah kalau sekarang saya membeli mangga mahal harganya. Pak Bupati beli mangga mahal.

Kalau sudah ada yang berhasil, apakah pasti yang lain tergerak?

Begini saya kasih tahu. Petani itu kebanyakan memang berbekal tiga hal. mendengar, melihat dan menirukan. Kalau ada penyuluhan, mereka mendengar. Apakah langsung dilakukan. Ya tidak. Mereka harus melihat dulu. Kalau ada hasilnya, dan mereka yakin, baru melakukan dan meniru.

Seperti cabai juga begitu. Pasuruan ini kan awalnya tidak ada pertanian cabai. Saya punya pikiran, ini orang bagaimana caranya agar berhasil. Saya cari di daerah mana sih cabai yang paling bagus? Yang sudah maju SDM-nya. Akhirnya dapat informasi Kediri dan Lumajang. Saya ajak mereka ke Kediri.

Setelah pulang dari Kediri, oh ternyata budi daya tanam cabe dari dulu salah. Pulang dari Kediri, saya kumpulkan lagi. Mereka tertarik, wih bagus pak, katanya. Saya tanya, ngerti caranya? Oh iya saya coba. Berarti mereka mau mencoba. Yang semula tadi melihat itu, setelah melihat di sana bagus dia kan sambil mendengarkan itu. Setelah melaksanakan, ada kekurangannya yang harus diperbaiki. Nyatanya juga bisa. Yang benar itu begini diterapkan sama mereka dan berhasil. Saya fasilitasi bibit dan kebutuhan lainnya. Sekarang sudah mulai nampak hasilnya.

Cabai berhasil dikembangkan di mana?

Gondangwetan dan Rembang. Panen kemarin lumayan besar. Dan mereka merasakan betul hasilnya. Kemarin ada yang panen 70 juta selama sebulan dengan lahan 1 Hektar. Modalnya 28 juta sekarang sudah panen 70 juta. Untung tiga kali. Sekarang tanam lagi dia dari modal yang keuntungan tadi, di kembangkan lagi. Tapi itu gak modal lagi.

Selain cabai?

Banyak. paprika, krisan, sedap malam. Itu dulu awalnya gak ada apa apa. Yang namanya komoditas paprika misalnya ini kan gak masuk komoditas unggulan. Tapi sekarang menjadi komoditas unggulan Pasuruan. Perlu waktu 7 tahun. Sekarang menjadi komoditas unggulan di Tutur. Krisan juga begitu. Awalnya hanya beberapa hektar. Sekarang Pasuruan merupakan penghasil krisan terbesar di Indonesia. Bahkan dapat penghargaan dari presiden. Intinya, jika petani punya kemauan, pasti berhasil.

Membangun kepercayaan bersama itu yang penting?

Jadi begini, kita mengikuti bagaimana perilaku masyarakat dan mau berubah yang kita ikuti dan tujuan kita cuma satu, bagaimana memakmurkan dia. Sebenarnya ilmu bertani itu mudah untuk ditularkan. Dan mereka sebenarnya sudah punya ilmu itu dari pengalaman. Cuma terkadang, perlu motivasi dan dukungan. Itulah mengapa saya paling suka di lapangan, sampai sekarang. Membantu petani perlu ketulusan dan totalitas. Nah kalau sudah seperti ini, kepercayaan itu pasti mulai terbangun. PPL dan mantri pertanian saya arahkan untuk memiliki prinsip seperti itu. [Rian]

 

Nama Ir. Ihwan, M.Si
TTL Bima, Nusa Tenggara Barat, 3 Februari 1963
Jabatan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan
Pendidikan Insinyur Pertanian Universitas Merdeka Malang (lulus 1987)

S2 Administrasi Publik Universitas Merdeka Malang (lulus 2000)

Karier Staf PNS Dinas Pertanian Pasuruan (1989)

Kepala Sub Seksi Holtikultura (1994-1996)

Kepala Seksi Produksi (1996-1998)

Kepala Seksi Produksi Palawija (1998-2000)

Kepala Bidang Produksi  (2000-2004)

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan (2004-Sekarang)

Keluarga Istri   : Heny Anggriani, S.Pd (46 tahun)

Anak : Ariani Anisah Pratiwi (18 tahun)

Safira Ridho Nur Amalina (14 tahun)

Sumber gambar: dinamikabangsa.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *