Ibu-Ibu, Sosok Penggerak Siti Wonosari

Rabu (22/02/2017), bertempat di Balai desa Wonosari, kegiatan Sekolah Inovasi tani Indonesia (Siti) kembali dilaksanakan. Sebagai rangkaian materi Analisis Potensi III, para peserta diajak untuk menggali lebih dalam potensi desa dan potensi pertanian di Wonosari.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta secara bergantian diminta untuk memaparkan tugas kelompoknya masing-masing. Setelahnya, forum dilanjutkan dengan review bersama yang dipimpin oleh fasilitator. Pada sesi review tersebut, ibu-ibu peserta Siti saling berebut menjawab pertanyaan dan memberikan pendapatnya.

Sejak pelaksanaan Siti pertama, terkhusus di Wonosari, peserta Siti memang didominasi oleh kaum perempuan. Menurut Lilik Handayani, salah satu peserta dari perwakilan PKK, menyebutkan bahwa Siti memiliki magnet yang besar bagi para ibu-ibu.

“Kami merasa sangat bahagia akan keberadaan Siti. Terima kasih dari teman-teman Averroes, adanya progam SITI ini secara pribadi buat saya bisa membuka mata saya bahwa di Desa Wonosari ini mempunyai potensi yang sangat besar, sangat luas potensi sumber daya alam, dan sumber daya manusia yang sebenarnya wow sekali,” paparnya.

Lilik menambahkan bahwa di Wonosari terdapat salak yang merupakan komoditas dengan tingkat produktivitas paling banyak. “Untuk komoditas pertanian memang kita spesifik sama salak, yang lainnya bisa juga ngikut ke pengolahan salak. Kita bisa nambah minuman segar, minuman asam dan sebagainya. Untuk keripiknya bisa dengan penggorengan yang manual. Memang yang ditulis komoditas salak tapi lainnya bisa ngikut,” tutur perempuan yang beberapa tahun terakhir aktif melakukan olahan salak tersebut.

Tidak hanya Lilik, Suroidah, pengusaha batik asal Wonosari juga merasakan kebahagiaan ketika mengikuti Siti. “Saya senang sekali dengan adanya Siti. Meskipun saya sehari-hari mbatik, tapi bagi saya Siti sangat bermanfaat untuk saya dan teman-teman lainnya,” ujar pemilik usaha Batik Salwons ini.

Suroidah juga menerangkan harapan dan keinginannya akan keberadaan Siti di Wonosari. “Saya berharap dengan keberadaan Siti kami semua bisa semakin pintar. Dan semoga kesejahteraan di desa ini juga meningkat,” harapnya.

Menurut Very Yudha, fasilitator pendamping Siti Wonosari, awal mulanya ia memiliki ide untuk mengundang kelompok perempuan adalah karena tidak adanya kepastian dari kelompok tani terkait kepesertaan.

“Siapa saja peserta yang mau ikut itu tidak ada jaminan dari kelompok tani. Saya cari alternatif pesertanya siapa saja. Sejak pertemuan di Gedung Serba Guna, ibu-ibu merasa tertarik,” terangnya.

Lebih lanjut, Very menjelaskan bahwa motivasi kelompok perempuan memenuhi kursi Siti tidak terlepas dari kebiasaan berkumpul yang hampir tiap minggu dilakukan. “Yaitu (motivasi) dari keterbiasaan kumpul-kumpul, keingintahuan berbagi ilmu utamanya, mereka yang pernah punya pengalaman batik, atau pengolahan salak merasa ingin saling berbagi,” jelasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *