Getuk Kalipucang Jauh Lebih Enak dari Getuk Pisang Kediri

Nunuk, Saat Menyampaikan Refleksi dan Evaluasi

Pasca mengikuti pembelajaran mengenai legalitas produk bersama warga desa lain dan beberapa Dinas di Kabupaten Pasuruan, Warga Kalipucang melakukan refleksi dan evaluasi atas produk-produk olahan yang mereka hasilkan. Tri Wahyu Widarto, Fasilitator Pendidikan Agrobisnis Desa Inovatif (PADI) Desa Kalipucang memimpin forum refleksi yang diselenggarakan di Balai Desa Kalipucang pada Selasa (11/04/2017).

Tri memulai diskusi dengan obrolan mengenai bertambahnya produk-produk inovasi pengolahan hasil pertanian dari Warga Desa Kalipucang. Proses belajar selama beberapa bulan berhasil memunculkan produk-produk olahan dengan bahan komoditas unggulan. Produk-produk baru tersebut diantaranya adalah sale pisang, stik pisang dan getuk pisang. Dalam paparannya, Tri menceritakan mengenai suka duka dan hal-hal lucu selama proses belajar memunculkan inovasi olahan komoditas pertanian.

“Kita mencoba bikin getuk. Menurut kita saat itu sudah bener. Ternyata pas dicoba, rasanya tidak karuan. Bapak-bapak peserta sebagai tester mengomentari sambil mencerca rasa getuk pisang itu,” ujar Tri sambal terkekeh.

Diakui oleh warga desa Kalipucang bahwa ada kesalahan dalam proses pembuatan getuk pisang tersebut. Para pembuat getuk pisang baru menyadari kesalahan proses setelah difasilitasi oleh Averroes untuk belajar mengenai pembuatan getuk pisang kepada Lilik (peserta Sekolah Tani dari Desa Wonosari). Hal ini menjadi bukti bahwa proses belajar bisa dilakukan oleh siapapun dan kepada siapapun. Antar sesama peserta Sekolah Inovasi Tani (SITI) bisa saling berbagi pengetahuan.

Setelah menyadari kesalahan proses, warga Kalipucang lantas kembali mencoba memproduksi getuk pisang. Hasil produksi tahap ke dua ini mengalami perubahan yang sangat signifikan. Banyak orang yang mengakui bahwa getuk pisang dari Kalipucang memiliki rasa yang enak.

“Getuk pisangnya kemudian saya bawa ke Malang. Ternyata komentarnya teman-teman luar biasa. Mereka bilang kalau getuk bikinan Kalipucang jauh lebih enak daripada getuk Kediri. Itu karena kualitas pisang kita, lebih segar, rasa dan teksturnya yang lebih unggul. Proses yang kita lakukan benar-benar alami, tanpa bahan pengawet,” kata Tri.

Pasca dimulai oleh Tri, beberapa warga kemudian secara bergantian menyampaikan kesan setelah event pelatihan legalitas dan pameran produk di Kabupaten Pasuruan. Mereka menyadari bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki.

“Harus diakui bahwa saat itu kurang persiapan. Kita tengok desa-desa lain penjualnya sudah berseragam rapi. Packing produknya bagus-bagus. Untuk rasa dan kualitas olahan pangan bisa diadu. Tapi soal packing memang kita harus berbenah,” tutur Wiwin, salah satu produsen olahan pisang Kalipucang.

Selain menyadari pentingnya perbaikan kemasan, warga Desa Kalipucang juga mengungkapkan bahwa kekompakan antar sesama produsen adalah hal penting dalam usaha promosi. Kesadaran ini muncul tatkala antar penjaga stan pameran tidak saling tahu harga berbagai produk yang mereka jual.

“Andai waktu bisa diulang, saya ingin forum kemarin itu kita ulangi dengan berbagai perbaikan. Kita harus kompak dan bekerja sama dan jangan sampai putus koordinasi. Kesepakatan harga harus dibahas oleh semua orang produsen sebelum ada event pameran. Jadi pas gerai kita dibanjiri pembeli tidak bingung terus tanya ke sana ke mari,” kata Nunuk, produsen stik pisang Kalipucang.

Hal yang tidak kalah penting dan menarik dari pendapat Nunuk adalah mengenai modal sosial warga desa. Saling percaya tidak hanya harus dimiliki oleh organisasi kemasyarakatan ataupun desa. Bisnis atau usaha yang dimiliki oleh masyarakat desa, menurut Nunuk, tidak boleh meninggalkan modal sosial dalam bentuk sikap saling percaya. Usaha masyarakat desa memiliki karakter khas, karena tidak hanya berorientasi pada upaya meraih keuntungan tapi juga mempererat hubungan antar sesama warga desa.

“Pemilik produk atau produsen harus percaya pada penjaga gerai. Kalau tidak percaya ya akhirnya tampak kacau. Di mata pembeli jelek, antar sesame kita sendiri akhirnya juga saling menyalahkan,” lanjut Nunuk.

Forum refleksi dan evaluasi produksi yang bertajuk Pelatihan Pengolahan Pasca Panen ke 6 ini berlangsung hangat dibumbui gelak tawa dari para peserta. Satu demi satu warga Kalipucang menyampaikan evaluasi, baik, buruk dan hal-hal lucu selama proses belajar memproduksi hingga memasarkan produknya. Masing-masing orang juga memaparkan gagasan dan masukan untuk perbaikan sistem usaha masyarakat desa ini. [Nasrun]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *