Festival Nggoreng dan Ngudek Kopi Cara Kuno Tutup Sarasehan Tani di Prigen

Pasuruan (Kabarpas.com) – Acara Sarasehan Tani Nasional dengan tema “Membangun Sinergi , Menguatkan Petani” di Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ditutup dengan festival Nggoreng dan Ngudek Kopi, Minggu (30/07/2017) siang.

Festival Nggoreng dan Ngudek Kopi ini menjadi pamungkas acara  dari sarasehan yang diselenggarakan oleh komunitas Averroes bekerjasama dengan Sampoerna Untuk Indonesia, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan, dan beberapa mitra strategis lainnya sejak Jumat (28/07/2017) lalu.

Acara ini diikuti oleh sekitar 500 peserta dari latar belakang pekerjaan dan profesi yang berbeda. Di antaranya yaitu petani, mahasiswa, blogger, dan aktivis pertanian. Festival nggoreng dan ngudek kopi ini menjadi daya tarik sendiri dalam acara sarasehan itu. Meski , sebenarnya masih banyak kegiatan lainnya yang juga tak kalah menarik dalam acara sarasehan tersebut.

Festival nggoreng dan ngudek kopi ini menjadi magnet bagi para peserta sarasehan tani atau sebagian pengunjung yang datang ke acara ini. Sebab mereka bisa melihat langsung bagaimana cara memilih biji kopi, cara menggoreng kopi dengan baik dan benar, cara menumbuk kopi hingga halus, dan menyajikannya hingga menjadi kopi siap seduh.

Sebelum festival ini dimulai, ada acara peresmian Desa Wisata Kampung Kopi Jatiarjo. Jadi, Pemkab Pasuruan meresmikan Jatiarjo sebagai Desa Wisata Kampung Kopi. Peresmian ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan M Ichwan, Camat Prigen Mujiono, dan Kepala Desa Sareh Rudianto.

Peresmian sendiri ditandai dengan minum kopi bersama. Semua yang hadir dalam acara ini menikmati kopi khas Jatiarjo. Selanjutnya, festival nggoreng dan ngudek kopi ini dimulai. Puluhan ibu-ibu asal Jatiarjo, mempraktikkannya. Secara cekatan , mereka memilih dan memilah biji kopi.

Biji kopi yang baik dimasukkan ke dalam penggorengan yang sudah disiapkan di atas tungku. Menggoreng kopi, diupayakan menghindari menggunakan api yang besar, Oleh karena itu, ibu-ibu Jatiarjo menggoreng kopi itu menggunakan tungku api dengan memanfaatkan kayu yang dibakar. Uniknya, nggoreng dan ngaduk kopi ini dilakukan dengan cara kuno.

Sekitar 30 menit, tangan ibu-ibu Jatiarjo ini mengaduk kopi. Mereka membolak-balikkan kopi hingga warnanya berubah menjadi hitam kecoklatan. Setelah itu, mereka memindahkan kopinya ke lumpang, atau semacam alat yang digunakan untuk menumbuk kopi.

Tanpa memerlukan tenaga ekstra, ibu-ibu Jatiarjo mulai menumbuk kopi di lumpang hingga halus. Selanjutnya, kopi sudah siap seduh. Kopi disajikan dengan air panas. Kopi Jatiarjo ini dikenal sebagai kopi yang memiliki rasa tidak kecut. Untuk manis, tergantung selera penikmat kopinya.

Salah satu perwakilan ibu-ibu Jatiarjo, Nia mengaku sudah bertahun-tahun mengaduk kopi. Ia menyebut, cara tradisional ini dipercaya bisa mempertahankan cita rasa kopi yang khas. Bagi dia, meski sudah banyak alat penumbuk kopi yang lebih modern, tapi cara kuno tetap dipertahankan, dan menjadi budaya di Jatiarjo.

“Rasanya ini berbeda kalau ditumbuk, aroma kopinya lebih nikmat. Jika menggunakan mesin modern, saya yakin ada rasa dan aroma kopi yang hilang dalam proses itu. Beda jika menggunakan cara kuno atau tradisional seperti ini,” katanya kepada Kabarpas.com.

Sementara itu, Kepala Desa Jatiarjo Sareh Rudianto mengatakan, diresmikan sebagai Desa Wisata Kampung Kopi Jatiarjo ini merupakan sebuah anugerah. Ia berjanji pihaknya akan melakukan pengembangan desa, agar Jatiarjo akan semakin dikenal, termausk untuk wisata kopinya.

Kata dia, pihaknya akan menawarkan beberapa konsep kampung kopi kepada para calon pengunjung Jatiarjo.

“Yang kami tawarkan itu, lebih kepada edukasi dalam pembuatan kopi. Artinya, kami akan menawarkan paket liburan ke pengunjung mulai dari cara menggoreng, menumbuk, hingga menyajikan kopi. Itu yang akan kami berikan ke pengunjung,” jelasnya.

Sareh menerangkan,pihaknya akan berkomitmen untuk memajukan desa wisata ini. Ia berjanji akan selalu berinovasi, agar kampung kopi ini menambah sekaligus melengkapi potensi wisata di Kabupaten Pasuruan. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan pembinaan dan pelatihan ke masyarakat Jatiarjo agar usaha di bidang kopi ini semakin maju.

“Inti dari desa wisata ini adalah menampung semua masyarakat agar bisa mendapatkan penghasilan, meski dari kopi. Ini merupakan sebuah wadah yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Saya juga berharap kampung kopi ini bisa berdampak pada Pendapatan Asli Desa,” pungkasnya. (ajo/tin).

Sumber: http://www.kabarpas.com/festival-nggoreng-dan-ngudek-kopi-cara-kuno-tutup-sarasehan-tani-di-prigen/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *