Edi Purwanto: Kemampuan Komunikasi Harus Dimiliki oleh Fasilitator

Pembukaan Peningkatan Kapasitas Fasilitator Lapang

Berita Kegiatan Peningkatan Kapasitas Fasilitator Lapang

Menindaklanjuti hasil workshop program Pendidikan Agribisnis Desa Inovatif (Padi) yang dilaksanakan pada 29-30 November lalu, Averroes melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas fasilitator. Kegiatan ini bertujuan untuk menjamin standardisasi kapasitas fasilitator lapang sebelum diterjunkan untuk melaksanakan assessment dan mendampingi petani.

Kegiatan yang diselenggarakan pada 8-10 Desember di Hotel Tidar malang ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, menetapkan dan menyamakan persepsi tentang standar kompetensi fasilitator lapang. Kedua, peningkatan kapasitas fasilitator lapang dalam melakukan assesment, pendampingan dan pengorganisasian masyarakat di lapangan. Ketiga, membahas pola koordinasi antara fasilitator dengan seluruh anggota tim pelaksana program.

Dalam paparannya saat membuka acara, Edi Purwanto menekankan pentingnya komunikasi antara fasilitator dan petani yang sedang didampingi. Baginya, petani memiliki banyak potensi dan pengetahuan yang bisa didorong untuk kemajuan mereka sendiri. Untuk itu, kemampuan dalam menggali pengetahuan, gagasan dan pengalaman petani menjadi satu hal mutlak yang harus dimiliki oleh fasilitator.

“Yang terpenting itu kita menghargai semua hal yang dimiliki petani. Kita perlu mendengarkan, kita menyerap siapa pun dan apapun yang dibicarakan. Kita Menguatkan posisi yang sudah ada di sana, maka kondisi masyarakat akan lebih baik,” papar Edi.

Setelah dibuka, acara dilanjutkan dengan pembahasan mengenai panduan assessment. L. Riansyah sebagai koordinator fasilitator, didapuk untuk memandu jalannya sesi ini. Sesi ini berjalan dengan pembahasan seputar tahapan dan output, metode, lokasi serta pembagian tugas fasilitator dalam kegiatan assessment.

Masih berhubungan dengan komunikasi, pelatihan peningkatan kapasitas ini juga dilengkapi dengan pembahasan mengenai metode wawancara mendalam. Mahalli, peneliti di Komunitas Averoes, didapuk sebagai pembicara untuk sesi ini.

Pada sesi yang ia pimpin, Mahalli menyatakan bahwa penelitian kualitatif memposisikan orang-orang yang diwawancarai sebagai subjek aktif. Implikasi dari hal ini adalah, penelitian dengan metode wawancara berusaha menggali pengetahuan hingga perspektif yang dimiliki oleh orang-orang yang diwawancarai.

“Wawancara adalah bagaimana sebenarnya kita itu mau mengangkat perspetif mereka tentang pandangan dunia mereka sendiri. Seperti halnya kalau kita wawancara pada petani, kita ingin mengetahui apa yang petani pikirkan tentang keseharian mereka,” ujar pemuda yang juga berkegiatan sebagai asisten peneliti di Pusat Studi Pesantren Universitas Brawijaya itu.

Acara pada hari pertama ini berlanjut hingga malam. Pada sesi malam, Edi Purwanto kembali memimpin forum untuk membahas alur dan pola koordinasi. Dalam sesi ini, ia bersama seluruh tim pelaksana program Padi memperbincangkan mulai dari pola koordinasi antara tim fasilitator dengan seluruh anggota tim pelaksana program, mekanisme pelaporan keuangan dan administrasi hingga pembahasan mengenai monitoring dan evaluasi.

Tak cukup hanya itu, agenda pada hari pertama ini masih terus berlanjut dengan pembahasan mengenai pendekatan program. Nasrun Annahar menjadi pemandu dalam sesi ini. Dalam paparannya, ia menyatakan bahwa Program Padi menggunakan tiga pendekatan utama demi mencapai tujuan program secara efektif dan efisien. Tiga pendekatan tersebut adalah Appreciative Inquiry (AI), Asset Based Community Development (ABCD) dan Working Out Loud.

Appreciative Inquiry digunakan sebagai alat untuk mencapai perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat. Di sisi lain, ABCD digunakan untuk menggali dan mengembangkan komoditas pertanian. Adapun Working Out Loud dipakai sebagai kerangka bagi pelaksana program untuk memberdayakan masyarakat sekaligus berjejaring dan menyebarkan praktik baik serta pengetahuan yang didapat selama pelaksanaan program.

“Tiga pendekatan ini dapat dipakai secara bersamaan dalam satu program. Secara historis, kajian akademis maupun praktis, ketiga pendekatan ini berada pada rumpun yang sama,” simpulnya sembari mengakhiri serangkaian acara pada hari pertama. [Nasrun]

 

Detail Informasi Kegiatan:
Judul Kegiatan: Peningkatan Kapasitas Fasilitator Lapang.
Waktu: 8-10 Desember 2016.
Tempat: Hotel Tidar, Malang.
Peserta: Ketua Averroes, Sekretaris Averroes, Konsultan Program, Program Manager PADI, Staf Keuangan PADI, Staf Administrasi PADI, Staf Manajemen Pengetahuan PADI, Koordinator Fasilitator PADI,  Fasilitator Lapang PADI, Staf Teknologi Informasi PADI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *