Cak Tabah, Sosok di Balik Pengelolaan Keuangan

Cak Tabah, staf keuangan

Di tengah hiruk pikuk ruang aula Komunitas Averroes, Muhammad Mujtabah (28) tampak serius membolak-balik tumpukan nota. Sesekali ia mengetik di laptopnya yang berukuran 11 inci. Seperti hari-hari yang lain, ia sibuk mencatat dan membuat laporan keuangan komunitas yang digelutinya sejak 2012 silam.

Pada bagian belakang aula berukuran 60 meter persegi itu, sengaja dibuat ruang kecil bersekat lemari buku. Di ruang itulah, pemuda yang akrab dipanggil Cak Tabah menjalankan aktivitasnya sebagai bendahara Komunitas Averroes. Ia memeriksa satu per satu nota bukti pembayaran untuk keperluan beberapa kegiatan organisasinya. Tak jarang, ia memanggil beberapa koleganya untuk dimintai keterangan perihal nota pembayaran.

Tahun 2012, Cak Tabah menyelesaikan pendidikan sarjananya pada Jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya. Tak lama setelah lulus kuliah, ia segera beraktivitas di Komunitas Averroes. Awal keterlibatannya di Averroes ia niatkan untuk menimba ilmu dalam bidang apapun. Mulanya ia belajar menulis pada newsletter Simpul Demokrasi. Pada saat yang bersamaan, ia juga bekerja sebagai fasilitator lapangan program CSR dari sebuah perusahaan multinasional. Tak mau berhenti belajar, ia pun bergabung dengan sebuah lembaga konsultan kebijakan publik.

Meski baru menjabat sebagai bendahara selama enam bulan, kemampuan Cak Tabah dalam mengelola keuangan tak bisa diragukan. Pengalamannya sebagai manajer umum di lembaga konsultan membuatnya terbiasa menghadapi kerumitan administrasi keuangan.

“Di lembaga itu, saya mengelola pengendalian internal, berurusan dengan administrasi lembaga dan keuangan. Jadi tidak dipekerjakan untuk quality control tetapi lebih kepada infrastruktur di internal perusahaan,” ujar pria kelahiran Gresik itu.

Sejak menjadi bendahara, aktivitas Cak Tabah untuk terjun sebagai pekerja lapangan berkurang. Bukan karena ingin mengubah orientasi dan minat belajarnya, ia sengaja menerima amanah sebagai bendahara. Ia ingin segera menyelesaikan pendidikan pasca sarjana ditempuhnya sejak 2014 silam.

“Menjadi petugas lapangan bagiku agak menguras tenaga. Siang harus meneliti atau mendampingi , malam masih ada aktivitas pekerjaan lainnya. Saat ditawari menjadi bendahara, saya langsung bilang oke, gak masalah. Kalau menjadi bendahara, siang saya bisa mengerjakan pengelolaan keuangan, malam saya bisa mengerjakan tesis,” papar pria yang berencana menjadi seorang pengajar ini.

Kini ia bertekad untuk melanjutkan pengelolaan keuangan Komunitas Averroes. Pengalamannya saat menata manajemen keuangan di lembaga konsultan, ia terapkan di Komunitas Averroes. Baginya, permasalahan yang dihadapi oleh manajemen keuangan lembaga profit maupun non-profit adalah sama. Kedisiplinan dalam melakukan pencatatan dan penghitungan adalah kunci sukses pengelolaan keuangan.

“Mengelola keuangan itu tidak bisa ditinggal-tinggal. Kalau belum selesai terus ditinggal, maka harus ngulang dari awal. Dan itu persis seperti yang dikatakan guru akuntansi saya semasa SMA dulu,” ucapnya.

Selain menjadi bendahara, kini Cak Tabah diamanahi oleh Komunitas Averroes sebagai staf keuangan pada program Pendidikan Agribisnis Desa Inovatif (PADI). Program ini diluncurkan oleh Komunitas Averroes untuk membantu petani dalam meningkatkan nilai tambah produksi pasca panen. Dalam program ini, Cak Tabah terus berusaha untuk mengikuti semua proses yang dilalui oleh tim pelaksana. Dengan begitu, ia bisa mendapat ilmu tidak hanya melulu soal keuangan, tetapi juga praktik pemberdayaan. [Nasrun]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *