Biogas Desa Kalipucang, Wujud Kemandirian Pangan dan Energi

Udara dingin dan embun pagi, mengawali keramaian suasana desa Kalipucang. Desa yang terletak di wilayah lereng Gunung Bromo, Pasuruan, Jawa Timur. Setiap pagi antara pukul 05.30 sampai dengan jam 06.00, warga desa ini mengantarkan susu segar hasil perahan ke penampungan susu milik Koperasi Susu Setia Kawan (KPSP) yang tersebar di empat penjuru desa.

Besarnya populasi sapi perah yang ada menjadikan desa ini sebagai salah satu sentra penghasil susu segar. Susu segar hasil perahan warga ini kemudian dikelola oleh koperasi susu Setia Kawan Nongkojajar. Berdasarkan data desa tahun 2016, populasi sapi di desa Kalipucang sebanyak 2.046 ekor, dengan jumlah peternak sebanyak 1178 orang.

Satu hal yang sangat menarik dari peternakan sapi perah di desa ini adalah pemanfaatan kotoran sapi sebagai bahan biogas. Biogas yang dihasilkan dari pemanfaatan kotoran sapi segar ini, dimanfaatkan warga sebagai sumber energi untuk memasak sekaligus menggantikan liquid Petrolium Gas (LPG). Berdasarkan keterangan Wiwin, salah satu warga Desa Kalipucang, pemanfaatan biogas cukup membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga. Ia menyatakan bahwa sebelum menggunakan biogas, dia dengan anggota keluarga sebanyak 3 orang menghabiskan 3 tabung gas LPG ukuran 5 kg per bulan.

Ditambahkan oleh Wiwin, dia dan keluarganya juga memanfaatkan limbah biogas (slurry biogas) sebagai pupuk dan media tanam untuk menanam beberapa jenis tanaman dan sayuran di pekarangan rumah. Berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan antara lain bawang merah, cabe, daun bawang, kubis, selada, dan beberapa jenis empon-empon. Dari hasil kebun pekarangan ini, kebutuhan sayuran dan beberapa jenis bumbu dapur dapat terpenuhi

“Kadang, juga kami menjual hasil kebun pekarangan kepada pedagang sayur,” ujar Wiwin.

Berdasarkan keterangan Kumanan, Kaur pemerintahan desa Kalipucang dan mantan anggota badan pengawas Koperasi Susu Setia Kawan, biogas di desa Kalipucang dimulai pada tahun 2009. Penyediaan instalasi biogas merupakan hasil kerjasama antara Koperasi Setia Kawan, pemerintah desa dan sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional. Pemasangan instalasi biogas dilakukan dengan sistem subsidi dan kredit lunak. Setiap keluarga memiliki instalasi biogas ukuran 6 kubik hingga 12 kubik, tergantung kebutuhan keluarga peternak.

“Keberadaan biogas di desa Kalipucang sampai dengan tahun 2017 adalah sebanyak 104 unit,” tutur Kumanan.

Selama ternak sapi masih ada dan dipelihara warga desa, maka potensi energi yang dapat dihasilkan sangatlah besar. Energi yang dihasilkan dari biogas ini  dapat mengurangi ketergantungan warga pada kayu bakar dan LPG. Hal ini masih ditambah dengan limbah reaktor biogas (slurry) yang langsung dapat digunakan sebagai pupuk maupun media tanam.

Kerja sama yang baik antara pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dalam pengembangan biogas seperti di desa Kalipucang dapat dijadikan acuan daerah lain. Pengembangan sektor peternakan yang terintegrasi dengan pengelolaan limbah kotoran ternak, di satu sisi mendukung tercapainya kemandirian energi, juga meningkatkan kemandirian pangan secara bersamaan.

Cukup ironis kiranya Indonesia yang terkenal sebagai negara agraris, dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar namun selalu bermasalah dalam penyediaan energi dan pangan. Contoh kecil dan sederhana dari desa Kalipucang ini kiranya dapat dijadikan bahan perenungan. [Tri]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *