Belajar dari Maha Guru Alam Semesta

Belajarlah dari kupu-kupu, yang berusaha mengubah diri dari sesosok ulat yang menjijikkan menjadi sebuah makhluk yang teramat indah melengkapi keindahan bunga-bunga. Belajarlah dari air yang meski terbentur pada bebatuan dan berbagai aral rintangan, ia tetap teguh pendirian menuju satu tujuan. Sebagai manusia, tentu sangat disayangkan jika kita tak belajar dari alam yang telah memberikan ilmu bahkan hikmah dalam setiap sisi kehidupan.

Indonesia sebagai negara kepulauan, beriklim tropis dengan ribuan suku, mendapatkan titipan kekayaan luar biasa dari Tuhan. Interaksi antar beragam karakter manusia dan berbagai jenis kondisi alam menjadikan Indonesia memiliki budaya dan kearifan keilmuan lokal yang beragam pula.

Selama satu bulan saya menetap di Desa Kalipucang, kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan untuk kepentingan penelitian sebelum dilaksanakannya Program Pendidikan Agrobisnis Desa Inovatif. Interaksi saya dengan kondisi alam dan masyarakat di desa ini memberikan saya pengalaman yang luar biasa. Pengalaman yang saya serap dari “maha guru” alam dan petani yang bekerja sama untuk menghasilkan berbagai cara atau teknik dalam mengatasi permasalahan kehidupan. Interaksi antar keduanya terjadi untuk saling berbagi, saling menghargai dan saling menguntungkan satu sama lain.

Berikut beberapa praktik dan ilmu pertanian yang saya temukan di lapangan, yang justru tidak saya temukan di buku maupun di bangku perkuliahan.

Memeram Buah Alpukat dalam Beras

Dalam penelitian ini saya berkesempatan untuk tinggal di rumah Mbah Manistri. Sebuah kebetulan yang tak ternilai harganya. Selama tinggal di sana saya berusaha untuk mengikuti seluruh aktivitas Mbak Manistri dan Mbah Yamin, suaminya. Saya yakin bahwa kedua orang tua Hariyono, Kepala Desa Kalipucang ini memiliki pengalaman hidup dan ilmu yang begitu banyak. Usia yang sudah hampir menginjak kepala delapan tentu membuat keduanya banyak memakan asam garam kehidupan sebagai petani dan peternak.

Pada suatu pagi mbah Manistri memanggil Bunga, salah seorang cucunya yang paling kecil. Ia meminta bantuan cucunya untuk mempercepat pematangan buah alpukat. Betapa terkejutnya saya dengan proses pematangan buah alpukat yang dilakukan oleh Bunga tersebut.

  • Bunga memasukkan buah alpukat yang diambil oleh Mbah Manistri dari kebun ke dalam sebuah karung yang berisi beras.
  • Setelah dua hari, Mbah Manistri kemudian mengambil buah alpukat tersebut, dan ternyata buah alpukat tersebut sudah masak

Setelah saya pelajari lebih lanjut, alpukat memang jenis buah yang tak bisa masak pohon. Buah ini harus dipetik terlebih dahulu sebelum proses pematangan. Dalam dunia akademik, proses pematangan semua jenis buah terjadi karena adanya gas etilen yang dikeluarkan oleh buah itu sendiri. Semakin banyak gas etilen yang terkandung dalam buah, semakin cepat pula proses pematangannya.

Dengan ditanamkan ke dalam beras, gas etilen yang dikeluarkan buah alpukat akan ’terperangkap’ di sekeliling buah, sehingga alpukat menjadi semakin cepat masak. Demikian cara orang Kalipucang mematangkan buah alpukat. Berlainan dengan cara ini, orang-orang di Eropa atau di Amerika juga melakukan proses pematangan alpukat dengan cara yang sedikit berbeda. Mereka membungkus buah alpukat dengan kertas kemudian diikat. Saya akhirnya dapat menyimpulkan satu hal baru lagi, mengenai alasan kenapa buah pepaya sering dibungkus dengan kertas koran. Selain menghindari gesekan dan benturan, juga agar cepat masak.

Fermentasi Kopi Ala Luwak

Ketika bertemu dan berdiskusi dengan Karnadi, ada pengalaman unik yang saya dapatkan. Untuk mendapatkan kopi premium, Ketua Kelompok Tani Dwi Tunggal ini meniru perilaku Luwak. Berikut langkah-langkah yang ia kerjakan dalam “memanipulasi” kopi biasa menjadi kopi premium.

  • Karnadi memanen kopi dari pagi hari hingga maksimal pukul 14:00 siang.
  • Kopi matang merah yang baru ia panen tersebut dikupasnya dengan mesin pengupas.
  • Setelah itu, ia akan melakukan fermentasi dengan memasukkan kopi dalam kotak dan menutupnya dengan kain goni basah selama satu malam.
  • Setelah satu malam, kopi dicuci bersih lantas dilanjutkan dengan penjemuran di atas para-para bambu.
  • Setelah kering, kopi dapat disimpan atau langsung digiling

Ternyata kombinasi antara biji kopi masak pohon dengan fermentasi kain goni basah mampu menghasilkan kopi dengan cita rasa premium mirip dengan kopi luwak. Cara sederhana ini dapat membantu membuat kopi dengan cita rasa premium tanpa bantuan hewan luwak dan tanpa biaya yang mahal tentunya.

Semoga beberapa refleksi pengetahuan ini, dapat bermanfaat dan menambah wawasan pembaca. Lain ladang, lain belalang mungkin adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan potensi kekayaan keilmuan lokal yang ada di seluruh penjuru Indonesia. Setiap masyarakat yang tinggal di tempat berbeda, kondisi geografis berbeda dan sosial budaya yang berbeda mempunyai cara atau teknik sendiri untuk berproses bersama alam semesta dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. [Tri]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *