Arah Pengembangan Wisata Berbasis Masyarakat di Kabupaten Pasuruan

Selama empat tahun terakhir, sektor pariwisata menjadi andalan nasional untuk meningkatkan perekonomian. Dilansir Detik Finance, pada tahun 2017 sektor pariwisata telah menyumbang devisa sebesar US$ 13,586. Sumbangan ini merupakan sumbangan terbesar nasional kedua setelah industri kelapa sawit (CPO). Geliat industri wisata nasional dipicu dengan adanya destinasi wisata baru dan masifnya promosi yang dilakukan oleh pegiat wisata. Di saat yang bersamaan, pemerintah pusat dan daerah juga cukup gencar melakukan transformasi layanan di bidang pariwisata.

Salah satu daerah yang kini giat melakukan kegiatan wisata adalah Kabupaten Pasuruan. Daerah ini telah lama dikenal sebagai wilayah destinasi wisata karena memiliki Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Saat ini, destinasi wisata di Kabupaten Pasuruan semakin berkembang, terbukti dengan adanya obyek baru seperti di kawasan Gunung Arjuno dan kawasan pantai. Progress ini muncul beriringan dengan semakin giatnya aktivitas masyarakat desa menjadikan potensi daerahnya sebagai lokasi wisata.

Pariwisata Berbasis Masyarakat

Sayangnya, kegiatan pariwisata yang ada di Kabupaten Pasuruan belum sepenuhnya terkelola dengan baik. Singkronisasi arah pengembangan wisata antara desa dengan kabupaten beserta aktor di dalamnya belum tergapai. Menimbang hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Pasuruan bersama dengan Komunitas Averroes yang bekerjasama dengan Sampoerna untuk Indonesia melakukan kegiatan Visioning Program. Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan kesepahaman arah pengembangan pariwisata Kabupaten Pasuruan dengan menimbang aspirasi para pegiat wisata yang menjadi peserta.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat mengedepankan partisipasi masyarakat dalam sektor pariwisata. Masyarakat telah diajak berpartisipasi dalam pengelolaan pariwisata di desanya. Dari pengelolaan ini, mereka bisa mengatur wilayahnya sesuai dengan pengetahuan dan kebutuhan lokal yang ada. Misalnya, pengelolaan wisata di Desa Podokoyo Kecamatan Tosari. Mereka mengelola destinasi wisata Bromo Fun Tracking dengan berbasis pada pengetahuan lokal. Dulu, wilayah destinasi ini merupakan tempat noni-noni Belanda yang mengawasi pertanian di Podokoyo. Namun atas hasil pemetaan masyarakat desa, lokasi tersebut kini dijadikan salah satu destinasi wisata alam dan budaya di Desa Podokoyo. Adapun yang mengelola dari destinasi tersebut adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)

Keberadaa Pokdarwis dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat menjadi penting. Melalui organisasi ini segala aktivitas dan kegiatan wisata di desa dikelola dan jalankan. Di Kabupaten Pasuruan beberapa desa yang telah memanfaatkan potensi wisata telah memiliki Pokdarwis, namun beberapa diantaranya juga masih belum memiliki. Di tingkat kabupaten forum Pokdarwis masih belum banyak dilakukan, padahal kegiatan tersebut dapat menjadi bagian penting untuk menyusun skema pengembangan wisata di Kabupaten Pasuruan. Dengan adanya perencanaan yang integratif antara desa dan kabupaten diharapkan pemerintah memiliki keberpihakan yang jelas dalam mengelola pariwisata, yakni berpihak kepada masyarakat.

Arah Pengembangan

Wisata berbasis masyarakat juga diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di desa. Selama ini, pendapatan masyarakat di tingkat desa di Kabupaten Pasuruan cenderung melambat. Hal ini dibuktikan dengan sulitnya desa tertinggal untuk naik menuju desa berkembang. Pariwisata dapat menjadi salah satu indikator penggerak ekonomi di tingkat desa. Bergeliatnya wisata di Desa Pujonkidul dapat menjadi refleksi bahwa kegiatan wisata desa berbasis masyarakat mampu berimplikasi terhadap ekonomi masyarakat desa.

Oleh sebab itu, dengan semangat memajukan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pasuruan, pengembangan wisata berbasis masyarakat harus segera untuk diaktualisasikan. Pada kegiatan Visioning Program, Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan dan beberapa pegiat wisata di Kabupaten Pasuruan yang diantaranya: media massa, pemerintah desa, perwakilan Pokdarwis, dan agen travel, telah sepaham bahwa kegiatan pariwisata berbasis masyarakat harus segera direncanakan di Kabupaten Pasuruan, setidaknya pada tahun 2019.  Adapun berikut merupakan hasil diskusi dari forum Visioning Program yang diselenggarakan Komunitas Averroes dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan

Arah Pembangunan Wisata Kabupaten Pasuruan
Arah Pembangunan Wisata Kabupaten Pasuruan
  1. Bahwa Kabupaten Pasuruan memiliki berbagai potensi strategis yang memungkinkan untuk menjadikan Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu destinasi wisata utama di Jawa Timur
  2. Bahwa melalui Pokdarwis, berbagai inisiasi untuk mengembangkan potensi-potensi pariwisata yang ada di desa sudah menampakkan geliat yang positif
  3. Tahun 2019 adalah momentum yang tepat untuk membangun sinergi multipihak meliputi Pemdes, Camat, Pemkab, Masyarakat Penggerak Wisata (Agro, Alam, Desa), NGOs, Media, dan Swasta dan penguatan visi pengembangan dan pembangunan wisata berbasis masyarakat
  4. Diperlukan rumusan bersama tentang rencana strategis pengembangan pariwisata di Kabupaten Pasuruan misalnya melalui penyusunan Rencana Induk Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata Kabupaten Pasuruan , dimana pengembangan wisata berbasis masyarakat harus menjadi salah satu arus utama
  5. Perlu meningkatkan ruang perjumpaan para pemerhati dan penggerak wisata secara berkala dalam rangka memperkuat visi bersama yang salah satunya melalui Forum Pokdarwis di Kabupaten Pasuruan
  6. Penggerak wisata desa (Pemerintah desa dan Pokdarwis) perlu mengembangkan konsep connecting villiages, sehingga pengembangan wisata desa bisa bersinergi dengan desa-desa tetangga/desa-desa
  7. Dalam menggerakkan potensi wisata di desa, maka Pokdarwis perlu mengoptimalkan kolaborasi dan sinergi dengan pemerintahan desa. Karena upaya pengelolaan wisata desa dan desa wisata tidak akan mampu memberikan dampak yang kuat tanpa keterlibatan pemerintahan desa
  8. Perlu peran yang proaktif dari pemerintah Kabupaten Pasuruan (Khususnya Disparbud) untuk menjadi fasilitator, komunikator dan promotor dalam rangka mengembangkan kawasan wisata yang diinisiasi oleh masyaraiat agar bisa mendunia
  9. Bahwa pada hakekatnya berpariwisata adalah upaya menggapai kebahagiaan. Karena itu setiap upaya membangun pengembangan wisata, perlu dilakukan dengan semangat positif dan kebersamaan. Sehingga proses dan tujuan dari gerakan wisata berbasis masyarakat mamou memberikan kebahagiaan bagi pelaku wisata dan wisatawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *