Appreciative Inquiry, Pendekatan Baru dalam Pemberdayaan

Ilustrasi Pendekatan Appreciative Inquiry

(Catatan Proses Belajar dalam Workshop Peningkatan Kapasitas Fasilitator Lapang, 8-10 Desember 2016)

Dalam deskripsi yang sederhana, pendekatan pemberdayaan berbasis masalah membayangkan sebuah kondisi yang serba kekurangan atau senjang antara harapan dan kenyataan. Ketika kesenjangan tersebut sudah diketahui (dengan berbagai cara. Bisa melalui pohon masalah, diagram tulang ikan atau bahkan melalui riset ilmiah), pengguna pendekatan ini diharuskan untuk mengisi atau memperbaiki kekurangan tersebut. Tujuan, strategi, visi dan misi dibuat sebagai manifestasi dari perencanaan untuk mengisi atau memperbaiki kekurangan yang telah ditemukan sebelumnya.

Metode yang memfokuskan diri pada penggalian masalah atau dalam bahasa lain disebut kebutuhan bahkan kekurangan, memang telah sukses memberikan ilustrasi negatif atau peta masalah. Ilustrasi tersebut memang berhasil menemukan realitas masalah, tapi sayang belum menggambarkan realita itu sendiri secara utuh. Separuh realita yang lain terlewatkan, yaitu potensi positif.

Latar kondisi sebagaimana dijelaskan di atas kemudian mendorong para ahli untuk menemukan pendekatan baru yang dinamakan Appreciative Inquiry. Whitney dan Trosten-Bloom (2007) mendefinisikan pendekatan baru ini sebagai pendekatan terhadap perubahan diri dan organisasi yang dilandaskan pada pertanyaan-pertanyaan dan diskusi tentang kekuatan, keberhasilan, nilai, harapan dan impian.

Untuk memperjelas pendekatan Appreciative Inquiry dengan pendahulunya yang beraliran negatif. Berikut disajikan tabel berbedaan keduanya yang dikutip dari Dureau (2013: 13):

Perbedaan Pendekatan Berbasis Masalah dan Appreciative Inquiry
Perbedaan Pendekatan Berbasis Masalah dan Appreciative Inquiry

Karena mengakui adanya kekuatan positif yang selalu dimiliki oleh individu maupun sebuah komunitas, Appreciative Inquiry kemudian memiliki prinsip atau asumsi dasar sebagai konsekuensi dari adanya pengakuan tersebut. Berikut adalah asumsi dasar yang harus dipegang teguh oleh para pengguna pendekatan Appreciative Inquiry:

  1. Pasti ada hal baik. Sayangnya, untuk menentukan sebuah langkah, kita sudah terlalu lama dan terbiasa dengan usaha untuk menemukan sesuatu yang tidak beres di dalam komunitas itu. Hal yang akan kita dapat jika terus demikian adalah bertambahnya masalah. Implikasi terbesarnya adalah luputnya hal-hal baik dari pengamatan.
  2. Perhatian akan menjadi kenyataan. Jika anda terlalu banyak mencari dan memikirkan masalah (hal negatif), secara otomatis, tenaga dan perhatian anda akan selalu tertuju pada hal-hal negatif dalam diri dan lingkungan sekitar anda. Hal ini kemudian berlanjut pada mindset anda. Dengan demikian, mencurahkan perhatian pada hal-hal baik, akan mempercepat pencapaian cita-cita.
  3. Realita memiliki banyak rupa. Satu peristiwa yang sama bisa jadi memiliki makna yang berbeda. Satu peristiwa yang sama bisa jadi dipahami secara berbeda oleh orang yang berbeda. “Tergantung pada perspektifnya,” begitu kata Prof Abdul. Rencana masa depan dapat ditentukan sebebas-bebasnya berlandaskan pada bagaimana komunitas memahami sebuah realita. Diskusi dengan melibatkan banyak orang akan menghasilkan gambaran yang utuh terhadap sebuah realita.
  4. Sebuah pertanyaan akan berpengaruh secara signifikan. Sebuah pertanyaan, apakah itu bahasanya ataupun cara penyampaiannya, akan selalu mengarahkan perhatian orang atau kelompok yang sedang ditanya. Pertanyaan tentang prestasi ataupun keberhasilan akan membuat orang untuk melakukan recall ingatan tentang capaian-capaiannya. Saat persepsinya digerakkan menuju ke arah positif, pemaknaan terhadap realitanya juga akan menuju ke arah positif. Maka hasilnya adalah hal-hal yang sebelumnya tidak pernah nampak akan terlihat dan disadari olehnya. Dengan demikian, akan terbangun optimisme untuk memandang masa depan.
  5. Tentu menyenangkan, menapaki masa depan yang tak diketahui berbekal masa lalu yang telah diketahui. Semua orang pasti akan menapaki masa depan yang tidak diketahui meski ia enggan untuk melepaskan masa kini yang sudah pasti. Tapi sebagian besar orang tentu menginginkan masa depan yang tidak pasti dan tidak diketahui itu untuk menjadi lebih baik. Akan lebih nyaman dan tenang menghadapi tantangan masa depan dengan refleksi atas kepastian pengalaman, pengetahuan dan potensi dari masa lalu.
  6. Membawa kenangan yang menyenangkan. Hidup selalu disertai kesuksesan yang membahagiakan ataupun kegagalan yang menyedihkan. Bekal untuk masa depan sebaiknya adalah yang terbaik di masa silam.
  7. Penting untuk menghargai perbedaan. Situasi dengan penghargaan atas perbedaan akan menghasilkan partisipasi penuh dari setiap anggota komunitas. Dalam keberagaman pasti ada hal baik yang berharga.
  8. Bahasa membentuk realitas. Cara pandang atas realitas bergantung dari hasil diskusi antar individu dalam sebuah komunitas. Mengubah percakapan dalam sebuah komunitas menjadi lebih positif akan mengubah cara pandang secara komunal.

Berikut disajikan ilustrasi mengenai tahapan pendekatan Appreciative Inquiry secara lebih teknis dalam aplikasinya untuk pembangunan komunitas ataupun pemberdayaan.

Siklus Pendekatan Appreciative Inquiry<br /> Sumber: Dureau (2013: 95)
Siklus Pendekatan Appreciative Inquiry
Sumber: Dureau (2013: 95)
  1. Define (Menentukan)

Adalah tahapan saat pemimpin ataupun fasilitator mengajak komunitas menentukan pilihan topik, tujuan dari proses diskusi, hingga gambaran tujuan yang diinginkan.

  1. Discover (Menemukan)

Apa yang berharga dan membanggakan dari masa silam perlu diidentifikasi kemudian diapresiasi. Cara menemukan kesuksesan ini dilakukan dengan proses percakapan ataupun focus group discussion. Pada tahap ini perlu dilakukan rasa bangga atas pencapaian seseorang dengan berpegang pada prinsip rendah hati namun tetap jujur. Fasilitator harus mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat untuk mendorong masing-masing individu peserta mengeluarkan pengalaman kesuksesan individu maupun kelompok (disertai peranannya).

  1. Dream (Memimpikan)

Gali beberapa impian atau harapan komunitas yang logis. Lanjutkan dengan mencari keterkaitan antara apa yang sangat dihargai dan dibanggakan dengan apa yang diinginkan di masa depan. Sebuah mimpi bisa berupa visi yang terwujud secara nyata dalam bentuk gambar, kata-kata, lagu atau bahkan visualisasi video. Pada tahap ini pula, dilakukan definisi ulang atas masalah menjadi harapan-harapan.

  1. Design (Merancang)

Adalah tahapan saat anggota komunitas mempelajari cara merencanakan pemanfaatan aset dan potensi dengan cara yang sistematis, konstruktif dan kolaboratif. Hal ini tak lain adalah untuk mencapai aspirasi dan mimpi, visi ataupun tujuan yang telah mereka tetapkan sendiri.

  1. Deliver (Lakukan)

Merupakan tahap terakhir dari keseluruhan proses. Sebelum pelaksanaan atas apa yang telah dirancang, perlu dilakukan hal-hal berikut:

  • komitmen untuk terus belajar dan eksplorasi yang berkelanjutan,
  • Komitmen untuk melakukan inovasi, dan
  • Menyampaikan hasil pada semua stakeholder. [Nasrun]

Pustaka

Dureau, Christopher. 2013. Pembaru dan Kekuatan Lokal untuk Pembangunan. Diterjemahkan oleh Budhita Kismadi. Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Phase II.

Whitney, D., dan Trosten-Bloom, A. 2007. The Power of Appreciative Inquiry: 4 Prinsip Perubahan Positif dalam Organisasi. Diterjemahkan oleh Firman Budi W dan Nendy Hylaea A. Yogyakarta: B First.

Sumber Gambar: http://psflibrary.org/catalog/repository/Pembaru%20dan%20Kekuatan%20Lokal%20untuk%20Pembangunan.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *