Apa yang Seharusnya Dilakukan oleh Pelaku Pemberdayaan

Fasilitator Program Pemberdayaan

Secara praktis maupun konseptual, program Pendidikan Agribisnis Desa Inovatif (PADI) harus berpegang pada prinsip “inti pembangunan adalah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada petani”. Karena semua masalah pertanian terletak di sekitar kehidupan petani, maka fokus pembangunan harus dimulai dari petani.

Dalam sebuah karya yang berjudul Rural Development: Putting the Last First, Robert Chambers berusaha menyadarkan pelaku pemberdayaan bahwa hal utama yang perlu dilakukan adalah memposisikan orang miskin pedesaan, (atau dalam konteks program PADI adalah petani) menjadi yang utama dan terdepan. Kata the last, menandai bahwa selama ini kelompok masyarakat miskin, para petani dan orang-orang desa selalu berada pada “kedudukan paling belakang” baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun politik. Dalam konteks dinamika pembangunan, kelompok-kelompok ini juga berada pada posisi yang aspirasi dan pengetahuannya tak pernah diapresiasi oleh pihak di luar lingkaran kelompok mereka.

Meski sudah sejak tahun 1987 Chambers memberikan wacana penempatan kelompok miskin untuk menjadi yang terdepan, hingga saat ini, belum banyak yang benar-benar mempraktekkan konsepsi ini dalam program pemberdayaan. Wacana tentang pemberdayaan yang partisipatif hanya menjadi bahasa pemanis proposal. Pelaku pemberdayaan dari pihak pemerintah serta pihak non pemerintah belum meresapi nasihat Chambers baik di otak, hati maupun praktik pemberdayaannya.

“Menyuapi” petani, orang miskin dan orang desa dengan pengetahuan modern (hanya searah dari pandangan para pelaku pemberdayaan) masih terus berlangsung hingga saat ini. Apresiasi atas pengetahuan lokal yang dimiliki petani belum mendapat porsi dan posisi sebagai yang terdepan dan utama.

Atas pertimbangan itulah, Averroes berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjebak pada pola pemberdayaan yang “menggurui” petani. Melalui program PADI, Averroes berusaha untuk mengajak stakeholder (pihak yang memiliki sumber daya, menguasai dan mengendalikan berbagai instrumen kebijakan) untuk bertindak dengan penuh inisiatif, aktif, dan kreatif dalam menggerakkan masyarakat petani. Tujuan utama yang akan dicapai adalah agar para petani mampu mengenali potensi, memahami tantangan dan permasalahannya, sekaligus merencanakan solusi secara mandiri berbekal kearifan lokal yang mereka miliki.

Untuk menjamin keberhasilan program PADI, selain mengundang stakeholder dari kalangan masyarakat desa dan instansi terkait, Averroes juga mengundang beberapa pakar di bidang pemberdayaan petani untuk memberikan masukan tentang pelaksanaan program. Berikut adalah catatan pengetahuan dari Workshop Program yang diselenggarakan oleh Averroes pada 29-30 November 2016.

Tiga Prinsip Utama Pemasaran dalam Konteks Penguatan Petani

Saiful Arif selaku konsultan program di bidang pemasaran, turut membahasakan penjelasan mengenai pendekatan program. Bahwa pendekatan apresiatif adalah pembelajaran bersama antara pelaku pemberdayaan dan komunitas yang sedang diberdayakan.

“Kita (pelaksana Program Padi dan Petani) perlu belajar mengenai kesuksesan dan kegagalan kegiatan ekonomi masyarakat. Analisa potensi petani berarti belajar bersama masyarakat tentang sesuatu yang sama-sama bisa dipahami. Mereka paham, kita (pelaksana program PADI) juga paham. Kemudian mencandra apa yang kira-kira bisa kita kerjakan dalam beberapa saat ke depan (untuk mencapai tujuan dan cita-cita program,” tutur Kang Ipul, sapaan akrabnya.

Dalam bidang marketing atau pemasaran, Saiful Arif menjelaskan bahwa terdapat tiga hal pokok yang harus diperhatikan. Pertama, pemasaran program ini sendiri. Bahwa program PADI harus disebarluaskan praktik pembelajaran, keberhasilan hingga tatangan serta hambatannya. Hal ini penting agar program ini tidak hanya menjadi keberhasilan Averroes semata. Bahwa catatan mengenai keberhasilan ataupun kegagalan harus disebarluaskan. Jika berhasil, oleh pihak lain bisa direplikasi, jika pun gagal bisa dihindari.

Kedua, marketing produk pertanian yang dihasilkan oleh petani. Marketing produk hasil pertanian ini nantinya tentu akan membutuhkan metode dan media yang berbeda antar satu desa dengan desa lain. Fasilitator yang mendampingi di setiap desa harus memiliki bekal berupa berbagai pilihan alternatif pemasaran produk pertanian. Beragam alternatif tersebut dipaparkan kepada petani. Penentu pilihan mana yang akan digunakan tentu adalah petani sendiri. Karena mereka yang dapat mengukur dan melihat kesesuaiannya dengan acuan praktik yang sudah dijalankan selama ini.

“Perlu pengetahuan mengenai kebuntuan dan permasalahan pemasaran yang mendera mereka (petani). Fasilitator harus punya banyak alternatif solusi. Mungkin akan banyak penolakan. Tapi harus terus dicoba dengan berbagai cara,” papar sosok yang sukses di bidang pemasaran online ini.

Ketiga, Saiful Arif berpandangan bahwa marketing adalah sebuah tindakan berkelanjutan. Menurutnya, marketing adalah jiwa atau semangat utama dari seorang pebisnis. Menanmkan jiwa ini kepada petani adalah tugas utama fasilitator dalam konteks pemasaran.

“Tidak Cuma jualan pas ada barang saja. Marketing itu punya atau tidak punya barang, selalu mencari hal-hal yang bisa dipasarkan,” ujarnya.

Sinergikan Berbagai Peluang

Agar pencapaian program bisa terlampaui dengan baik, peluang di luar skema program harus pula dikelola. Dalam konteks penguatan inovasi produksi pasca panen, berbagai kegiatan dalam skema program dapat dihubungkan dengan program Dinas Koperasi dan UMKM misalnya. Ketika sudah muncul inovasi pengolahan pangan, para pelaku usaha tersebut didaftarkan ke Dinas Koperasi dan UMKM. Hal ini sangat berpeluang untuk mendapat dukungan anggaran maupun penguatan kapasitas dari pemerintah mengingat pemerintah sedang gencar melakukan pembangunan di bidang UMKM. Untuk itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuka akses dan komunikasi dengan dinas ini. Tahap selanjutnya adalah mengomunikasikan berbagai kemungkinan kolaborasi.

Selaras dengan upaya di atas, Perlu mencari titik pertemuan dalam tujuan maupun strategi penguatan petani dengan berbagai kebijakan pemerintah daerah. Kabupaten Pasuruan dikenal sebuah program unggulan untuk memajukan desa yaitu Program Desa Maslahat dan Program Satria Emas. Kedekatan isu dan lokasi pelaksanaan program, memungkinkan kolaborasi antara program PADI dan program pemerintah daerah. Program pembangunan pasar desa dan Badan Usaha Milik Desa yang sedang menjadi prioritas Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Pasuruan juga merupakan peluang sang sangat memungkinkan untuk bisa dikolaborasikan dengan PADI.

Lokalitas dalam Manajemen Usaha Agribisnis

Hadi Sumarno, konsultan manajemen bisnis menyatakan pentingnya pencatatan keuangan dalam manajemen agribisnis pertanian. Menurutnya, apapun komoditas yang akan dikembangkan, pengelolaannya tidak berbeda dari konsep manajemen keuangan keluarga. Harus dilakukan pencatatan keuangan baik untuk pengeluaran maupun pemasukan.

“Pendekatan pelatihan sebaiknya dengan melakukan refleksi terhadap apa yang telah dilakukan. Dengan pendekatan ini, akan muncul kesadaran dari petani sendiri bahwa apa yang mereka kerjakan selama ini kurang baik dan akan timbul kesadaran bahwa manajemen dan pencatatan itu penting untuk dilakukan,” papar sosok yang terkenal murah senyum ini.

Dalam pembahasan mengenai manajemen bisnis, Saiful Arif menambahkan bawah petani memiliki kearifan lokal dalam kaitannya dengan manajemen keuangan. Menurutnya, menghadapi kebiasaan petani yang tidak pernah melakukan pencatatan keuangan perlu kehati-hatian. Ada aspek kearifan di balik kehidupan petani. Jangan sampai mendorong modernisasi lantas sepenuhnya meninggalkan kebiasaan dan tradisi. Penguatan petani harus terhindar dari kegagalan developmentalism sebagaimana dilakukan pada masa Orde baru. Pada era tersebut, tradisionalisme menjadi masalah yang semestinya tidak boleh eksis di muka bumi.

Berikut ilustrasi yang disampaikan oleh Saiful Arif:

“Bapak saya tidak pernah mencatat pengeluaran dan pemasukan dari pekerjaanya sebagai petani. Suatu ketika saya ajak menghitung dan ternyata kerugiannya besar sekali. Meski dalam catatan terbukti rugi, nyatanya bapak saya bisa menyekolahkan saya sampai lulus S1 dan bisa nyangoni cucu-cucunya tiap mereka berkunjung. Dalam manajemen keuangan, jangan sampai hanya ngomong soal untung rugi. Harus kontekstual dan mengakomodir kearifan lokal. Misalnya keberkahan dan spiritualitas harus tetap terakomodir.”

Tri Matra Desa Membangun

Heri Setiyono, konsultan bidang inovasi produksi pasca panen mengungkapkan bahwa Tri Matra Desa Membangun yang telah dibuat oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), bisa menjadi sebuah konsep yang dipegang dalam upaya penguatan petani. Berikut adalah tiga poin Tri Matra:

Pertama, Jaring Komunitas Wiradesa (Jamu Desa). Adalah upaya mengarusutamakan penguatan kapasitas Masyarakat sebagai inti pembangunan sehingga mereka menjadi subyek yang berdaulat atas pilihan-pilihan yang mereka tentukan.

Kedua, Lumbung Ekonomi Desa (Bumi Desa). Upaya untuk mendorong muncul dan berkembangnya ekonomi produktif yang menempatkan masyarakat sebagai pemilik dan partisipan gerakan ekonomi tersebut.

Ketiga, Lingkar Budaya Desa (Karya Desa). Mempromosikan pembangunan yang meletakkan partisipatif dan selaras dengan budaya lokal.

“Tri Matra itu adalah ilmunya pelaku pemberdayaan. Karena barang siapa yang melakukan sesuatu tanpa ilmu, maka amalnya akan tertolak,” candanya sembari menutup paparannya. [Nasrun]

1 Comment

  1. Mh Dardiri Reply

    Banyak model dalam pemberdayaan petani, juga banyak pendekatan yang bisa dilakukan.
    Salah satunya adalah dengan edukasi kepada petani dengan maksud agar petani bisa berdaya dengan kemampuannya.
    Sayangnya, seringkali yang terjadi justru pendekatan project. Tanpa memperhatikan bahkan mengabaikan kemampuan petani itu sendiri.
    Fasilitor, pendamping, atau pemandu sering kali terjebak dalam alam pikirannya sendiri (rancangan program) tanpa perhatikan hubungan hubungan yang ada di masyarakat petani.
    Petani sebenarnya sudah sangat pakar di bidangnya. Akan jadi lucu jika mereka dikenalkan dengan model model yang mereka sendiri tidak merasa butuh. Kembalikan petani kepada fitrahnya sebagai petani.
    Jodhy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *